Logo Header Antaranews Sulteng

Anggota Komisi IX ingatkan penambahan FK tak abaikan kualitas dokter

Senin, 19 Januari 2026 14:37 WIB
Image Print
Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto. ANTARA/HO-Humas DPR RI

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto mengingatkan pemerintah agar memastikan penambahan fakultas kedokteran (FK) tidak mengorbankan kualitas pendidikan dokter, kebutuhan spesialis, serta layanan kesehatan.

"Menambah program studi kedokteran umum harus sangat hati-hati. Jangan sampai kita hanya mengejar jumlah, tetapi kualitas dokter dan layanan kesehatan justru terabaikan,” ujar Edy dikutip di Jakarta, Senin.

Hal itu dia sampaikan merespons arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang meminta percepatan penambahan fakultas kedokteran dan peningkatan kapasitas penerimaan mahasiswa FK. Presiden menilai Indonesia masih kekurangan lebih dari 100.000 dokter, sehingga diperlukan langkah luar biasa.



Lebih lanjut, Edy menyampaikan bahwa pembangunan fakultas kedokteran baru bukan merupakan hal yang bersifat instan. Menurut dia, diperlukan ekosistem pendidikan yang lengkap, mulai dari dosen berkualifikasi, rumah sakit pendidikan, hingga sistem pembinaan klinik yang memenuhi standar.

“Ini bukan sekadar membuka program studi (Prodi), melainkan juga membangun ekosistem pendidikan kedokteran yang kompleks dan mahal,” kata dia.

Edy mengungkapkan bahwa berdasarkan data Konsil Kesehatan Indonesia, saat ini terdapat sekitar 279 ribu dokter teregistrasi yang terdiri atas dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, dan dokter gigi spesialis untuk melayani sekitar 287 juta penduduk.

Ia menilai secara nasional, rasio jumlah dokter mendekati standar minimal. Akan tetapi, ujar dia, persoalan serius masih terjadi pada kekurangan dokter spesialis dan ketimpangan distribusi, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Oleh karena itu, Edy menilai solusi pemenuhan dokter nasional tidak bisa semata dengan memperbanyak FK.

“Yang paling mendesak justru pendidikan tenaga medis level spesialis. Kita butuh pembukaan program pendidikan dokter spesialis, baik berbasis universitas maupun rumah sakit pendidikan, terutama untuk menjawab kebutuhan di daerah 3T,” kata dia menambahkan.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pemerintah akan membuka kampus kedokteran gratis yang dibiayai oleh negara sebagai upaya mengatasi kekurangan tenaga medis di Indonesia.



Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa Indonesia saat ini masih mengalami kekurangan ratusan ribu dokter, termasuk dokter gigi.

Oleh karena itu, diperlukan langkah nyata dan terukur, salah satunya melalui pembukaan kampus-kampus kedokteran di seluruh Indonesia.

"Kita harus buka sekolah-sekolah, kampus-kampus yang banyak, dan saya akan buktikan kepada seluruh rakyat Indonesia, dalam waktu dekat kita akan buka kampus-kampus kedokteran," ujar Prabowo.




Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026