
Pemkot-Palu dan Myamar bertukar pengalaman penanganan pascabencana

Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), menerima kunjungan delegasi dari Myanmar dalam rangka memperkuat kerja sama dan pertukaran pengalaman antarnegara, khususnya dalam penanganan pascabencana.
“Kunjungan ini merupakan kehormatan besar bagi Kota Palu, karena kami memandang Myanmar sebagai negeri yang memiliki kemiripan terkait tingkat kerentanan bencana dengan Kota Palu,” kata Pelaksana Tugas (Plt.) Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Palu Rahmad Mustafa dalam keterangannya di Palu, Kamis.
Ia mengapresiasi kunjungan delegasi Myanmar yang difasilitasi oleh Bank Dunia sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama dan pertukaran pengalaman antarnegara, khususnya dalam penanganan pascabencana.
Menurut dia, kunjungan ini menjadi simbol sekaligus komitmen untuk saling memperkuat hubungan antara dua kota dari dua negara, khususnya dalam bidang rehabilitasi dan rekonstruksi serta penguatan komunitas pascabencana.
Ia menjelaskan saat ini Kota Palu terus bergerak menuju kota global yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan, setelah mengalami bencana besar gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi melalui berbagai Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P).
Ia berharap melalui pertemuan ini Pemkot Palu dan delegasi Myanmar dapat saling berbagi praktik baik, mulai dari strategi pembangunan hunian tetap (huntap), pemulihan infrastruktur vital, hingga penguatan ketahanan masyarakat melalui kolaborasi lintas pihak.
“Semoga kedatangan delegasi dari Myanmar dapat dimanfaatkan untuk saling belajar, memahami tantangan spesifik di masing-masing wilayah, sehingga pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga dalam membangun kawasan yang lebih tangguh terhadap bencana,” ujarnya.
Ia memaparkan ota Palu kini terus menguatkan narasi ketangguhan (resilience). Kota Palu, kata dia, tidak lagi diposisikan sebagai korban bencana, melainkan tengah bertransformasi menjadi “laboratorium bencana” sebagai ruang pembelajaran penanganan dan pembangunan kembali yang lebih aman.
Sejumlah upaya telah dilakukan antara lain pembangunan huntap yang dirancang aman secara geologis, pembangunan infrastruktur tahan gempa seperti jembatan, rumah sakit, dan sekolah dengan standar keamanan lebih tinggi.
Pemkot Palu juga terus mendorong pemahaman tata ruang berbasis risiko bencana, termasuk penetapan zona rawan bencana atau zona merah yang tidak lagi diperbolehkan untuk pembangunan baru.
Rahmad menilai Myanmar dan Indonesia, khususnya Kota Palu, memiliki kemiripan risiko bencana geologis. Karena itu ia berharap pertemuan ini menjadi ruang diskusi dua arah untuk menemukan solusi praktis dalam penanganan pascabencana di kawasan Asia Tenggara.
“Semoga kunjungan ini membawa kesan mendalam dan berkembang menjadi persahabatan yang abadi, sekaligus menjadi awal dari kerja sama yang lebih erat dan berkelanjutan di masa mendatang,” katanya.
Pewarta : Nur Amalia Amir
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
