
Poso perkuat upaya percepatan penurunan stunting

Palu (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, memperkuat upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Tematik Stunting.
“Anak yang mengalami stunting berisiko menghadapi hambatan pertumbuhan, perkembangan kognitif yang tidak optimal, serta penurunan produktivitas di masa depan. Oleh karena itu, penanganan stunting harus menjadi gerakan bersama,” kata Bupati Poso Verna G.M. Inkiriwang dalam keterangannya di Palu, Minggu.
Ia menjelaskan Musrenbang Tematik Stunting 2026 merupakan tindak lanjut dari surat Wakil Gubernur Sulawesi Tengah terkait pelaksanaan analisis situasi aksi konvergensi pencegahan dan percepatan penurunan stunting tahun 2026.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi forum strategis untuk mengevaluasi capaian, mengidentifikasi hambatan di lapangan, serta menyusun langkah konkret dalam mewujudkan generasi Poso yang sehat, cerdas, unggul, dan berdaya saing.
Ia menegaskan bahwa persoalan stunting bukan sekadar masalah pertumbuhan fisik anak, melainkan ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia dan masa depan daerah.
Karena itu, lanjut dia, penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak, mulai dari perangkat daerah, pemerintah kecamatan dan desa, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga keluarga sebagai garda terdepan.
Ia menekankan pentingnya penguatan Web Aksi Bangda sebagai instrumen strategis dalam perencanaan, pengendalian, dan evaluasi konvergensi penanganan stunting di Kabupaten Poso.
“Di era digital, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh banyaknya kegiatan, tetapi juga oleh ketepatan data, konsistensi pelaporan, dan akuntabilitas kinerja,” ujarnya.
Ia juga menginstruksikan kepada tiga pilar administrator, yakni admin kecamatan, admin puskesmas, dan PLKB, untuk memperhatikan jadwal penginputan serta pengisian data sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Jangan ada keterlambatan, kelalaian, atau data yang tertunda, karena hal ini akan mempengaruhi analisis dan pengambilan kebijakan daerah. Jika data kuat, maka langkah kita akan tepat, dan target penurunan stunting di Kabupaten Poso dapat kita capai secara lebih efektif,” katanya.
Bupati juga menyampaikan apresiasi atas capaian Kabupaten Poso sebagai peringkat terbaik I se-Sulawesi Tengah dalam evaluasi delapan aksi konvergensi penurunan stunting tahun 2024, seraya mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat semua pihak berpuas diri.
Pihaknya juga meminta agar dua inovasi unggulan daerah, yakni program “Mosintuwu Mamporewu Balita Stunting” (M2BS) dan gerakan “GERTAK PENTING” sebagai langkah nyata dalam menurunkan angka stunting secara berkelanjutan.
Selain itu, ia menambahkan bahwa pencegahan dan penanganan stunting harus dilakukan sejak hulu, mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, hingga masa balita, melalui pemenuhan gizi, akses air bersih, sanitasi layak, pelayanan kesehatan berkualitas, serta edukasi pola asuh.
Adapun prevalensi balita stunting di Kabupaten Poso tahun 2025 berdasarkan Web Aksi Bangda di 19 kecamatan, yaitu Kecamatan Lore Peore sebesar 13,69 persen, Lore Tengah 12,7 persen, dan Poso Pesisir Selatan 9,23 persen.
Kemudian Kecamatan Lore Timur sebesar 0,69 persen, Lore Selatan 1,85 persen, dan Poso Kota Selatan 1,31 persen.
Sementara itu, data berdasarkan metode pengukuran EPPGBM menunjukkan tren penurunan yang konsisten, dari 12,38 persen pada 2021 menjadi 5,08 persen pada 2025.
Dalam musrenbang ini juga menyoroti capaian 31 indikator layanan konvergensi stunting. Sejumlah indikator melampaui target, di antaranya ibu hamil yang mengonsumsi tablet tambah darah sebesar 87,68 persen dari target 85 persen, pemeriksaan kehamilan enam kali sebesar 93,95 persen dari target 80 persen, serta penerbitan akta kelahiran dan Kartu Identitas Anak yang mencapai 100 persen dari target 40,33 persen.
Pewarta : Nur Amalia Amir
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
