Simon: kami senang saat tamu Juga senang

id Telkomsel,Raja Ampat,Gathering Telkomsel

Simson Dimalouw (kanan) bersama pewarta LKBN ANTARA Fauzi Lamboka (kiri) (www.sulteng.antaranews.com/Fauzi)

Kalau datang ke raja ampat, waktu satu minggu tidaklah cukup
Sorong (Antaranews  Sulteng) - Kami menanggilnya Samson, ada pula Simon, biasanya dipanggil Pace. Pria yang menjadi pemandu wisata gathering Telkomsel bersama puluhan wartawan dari area Papua, Maluku Sulawesi dan Kalimantan (Pamasuka), sejak Senin (12/2) hingga Rabu (14/2), bernama lengkap Simson Dimalouw. 


Dia lahir di Kampung Salio, Kepulauan Waigeo Barat daratan, Distrik Waisidik, Kabupaten Raja Ampat, 1 Juli 1989.Pria dengan pendidikan terakhir sekolah menengah pertama (SMP) itu, menceritakan semua keindahan di kampung halamannya.  


“Kalau datang ke raja ampat, waktu satu minggu tidaklah cukup,” kata Simon.


Sudah satu tahun Simon menjadi pemandu wisata yang bekerja sama dengan beberapa travel perjalanan wisata. Awalnya dirinya hanya bekerja menjadi awak kapal kayu, yang bertugas mengantar pengunjung dari Pelabuhan Sorong ke Kota Waisai dan mengunjungi beberapa spot wisata di Kabupaten Raja Ampat.


“Hampir semua wisatawan mengatakan Raja Ampat itu indah, sehingga di akhir tahun 2016, saya mengikuti pelatihan pemandu wisata dari Kementrian Pariwisata,” cerita Simon, saat kami memulai trip wisata menuju Kampung Sawinggrai.


Awal tahun 2017, dirinya sudah bergabung sebagai pemandu wisata bersama Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Raja Ampat. Dengan bekal lima kali pelatihan, Simon merasa cukup, untuk memperkenalkan keindahan daerah tempat dirinya dilahirkan.


“Kami diajarkan bagaimana mempromosikan destinasi wisata, apa yang menjadi daya tarik setiap spot atau lokasi di raja ampat, bagaimana cara memandu wisatawan, hingga etika bergaul, cara berkomunikasi dan saling menghargai dengan wisatawan,” tutur Simon.




Simon merupakan salah seorang dari 120 orang pemadu wisata yang terdaftar dan menjadi anggota HPI Raja Ampat. Namun menurut Simon, hanya sebagian kecil saja yang aktif bekerja dilapangan untuk mendampingi wisatawan, baik lokal maupun mancanegara.



“Sebagian besar wisatawan yang kami dampingi, merupakan wiasatawan dari travel perjalanan wisata,” ungkap Simon.


Selama menggeluti aktivitas pemandu wisata kata Simon, begitu banyak pengalaman yang didapatkan mulai dari hal-hal positif hingga yang negatif.


“Sebagai pemandu, kami merasa senang, bila wiasatawan turut senang dengan kepuasan informasi yang kami berikan. Hingga sebagian dari mereka, memberikan uang tambahan, diakhir perjalanan wisata,” ungkap Simon.


Selama ini, dirinya belum mendapatkan kendala sebagai pemandu wisata, apalagi ketidakpuasan pengunjung. Namun yang pernah dialaminya, gaji sebagai pemadu, yang tidak dibayarkan penuh dari pihak travel wisata.


“Setelah bekerja baru kami mendapatkan bayaran, dan pernah tidak dibayar penuh. Namun itu merupakan resiko kami, karena sudah ada kesepakatan di awal dan susah-senang, juga harus ditanggung bersama dengan pihak travel,” kata Simon.


Simon menjelaskan tidak hanya pemandu wisata yang tergabung di dalamnya, tetapi ada pula pihak travel wisata.


“Nomor handphone kami dimiliki oleh pihak travel, jika ada wisatawan, kami dihubungi untuk memandu mereka. Biasanya dibayar sekitar Rp500 ribu per hari,” ungkap Simon.


Dalam satu tahun kata Simon, wisatawan yang datang hanya pada waktu-waktu tertentu saja, seperti Bulan Januari, Maret, April, Oktober, November dan Desember.


Sebagai pemandu wisata, Simon punya harapan besar untuk bisa mendapatkan pelatihan bahasa, khususnya bahasa Inggris. Bagi Simon hal itu sangat penting, karena selama ini, dirinya sering membawa wisatawan asing.


“Saya tidak pernah belajar bahasa Inggris, kemampuan berbicara hanya seadanya dan belajar saat bertemu dengan tamu asing saja,” terang Simon.


Pewarta :
Editor: Fauzi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar