Logo Header Antaranews Sulteng

Perlu Technopreneur Untuk Percepatan Agriisni Kelautan

Sabtu, 13 April 2013 09:54 WIB
Image Print
Hasanuddin Atjo di tepi tambak supra-intensif miliknya di Kabupaten Barru, beberapa saat sebelum tambak itu dikeringkan dalam rangka panen pada tahun 2012. (AntaraNews/Rolex Malaha)
kebutuhan technopreuner di Sulawesi Tengah termasuk untuk mengembangkan agribisnis dan Kelautan sekitar 52 ribu technopreuner, sebuah jumlah yang cukup besar."

KEMAJUAN sebuah Negara antara lain ditentukan oleh seberapa banyak Negara tersebut memiliki entrepreuner. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa Negara dikatakan maju bila minimal memiliki entrepreuner sebesar 2,5 persen dari jumlah penduduk.

Indonesia berdasarkan survey pada tahun 2008 memiliki entrepreneur sebesar 1,56 persen jauh berada di bawah Malaysia (4,1 persen), Thailand (4,7 persen), Singapura (7,0 persen) dan China (10 persen).

Bila menggunakan batasan bahwa entrepreneur sebagai pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya sudah berbasis teknologi (inovasi dan kreativitas) dan disebut sebagai technopreneur, maka jumlahnya di Indonesia lebih sedikit lagi yaitu hanya sekitar 0,6 persen.

Dengan demikian Republik ini masih kekurangan technopreuner sekitar 2 persen dari jumlah penduduk atau minimal 5 juta orang. Bila menggunakan asumsi ini, maka kebutuhan technopreuner di Sulawesi Tengah termasuk untuk mengembangkan agribisnis dan Kelautan sekitar 52 ribu technopreuner, sebuah jumlah yang cukup besar.

Technopreneur

Seorang pembudidaya ikan, nelayan, petani sawah, pekebun dan peternak sampai kepada pedagang kaki lima, pedagang klontong atau pedagang keliling dari kampung ke kampung, dapat dikategorikan sebagai entrepreuner, namun dalam melakoni profesinya sebahagian besar komonitas tersebut belum menggunakan inovasi atau teknologi yang lebih baik.

Selanjutnya inovasi atau teknologi dapat diterjemahkan dalam bahasa yang sederhana yaitu sebuah instrumen untuk melakukan proses produksi atau jasa dengan kategori lebih cepat, lebih murah serta lebih baik dari sebelumnya.
Inovasi atau teknologi berdasarkan klasifikasinya terdiri atas beberapa tingkatan, bergantung pada substansinya. Sebagai contoh teknologi budidaya perikanan dikenal ada empat tingkatan yaitu teknologi sederhana, semi intensif, intensif dan supra intensif.

Technopreneur adalah seorang entrepreneur atau pelaku usaha dalam melakoni profesinya sudah berbasis inovasi atau teknologi untuk meningkatkan efisiensi maupun pelayanan yang lebih cepat dalam rangka daya saing. Sebagai contoh usaha di sektor perikanan seperti penagkapan ikan yang saat ini sudah ada nelayan yang mempraktekkan penggunaan informasi citra setelit untuk mengetahui pergerakan ikan dan kondisi cuaca disebuah wilayah penangkapan ikan; selain itu menggunakan fish finder untuk mengetahui pada kedalaman berapa ikan itu berada dan berapa besar populasinya; juga ada yang menggunakan GPS (lobal positioning system) seperti di darat yang tujuannya untuk mengetahui keberadaan rumpon (rumah tempat ikan berkumpul) yang ditempatkan di tengah laut, sehingga sang nelayan tidak perlu boros waktu dan energi berputar-putar mencari rumpon miliknya atau mitranya.

Demikian pula pada usaha perikanan budidaya yang saat ini sudah mulai beralih ke cara-cara yang terukur dan efisien misalnya dalam pemberian pakan kepada ikan atau udang telah menggunakan mesin pelontar pakan yang dikenal dengan nama automatic feeder. Dengan menggunakan mesin ini baik frekuensi pemberian pakan maupun jumlahnya dapat diatur sesuai kebutuhan melalui sebuah program digital.

Contoh lain adalah perdagangan kebutuhan sembilan bahan pokok yang tadinya menggunakan cara konvensional: mengunakan banyak tenaga kerja, belum menggunakan harga standar sehingga sering terjadi tawar menawar serta pelayanan yang lambat berganti dengan cara yang lebih maju antara lain melayani diri sendiri, menggunakan harga standar dan penghitungan nilai belanja menggunakan sistem elektronik yang dinamakan barcode system, seperti yang kita lihat di sejumlah pasar institusi sekala kecil maupun besar (super market dan mini market seperti alfa mart, indomart dan seterusnya), bahkan juga sedang menjadi trend belanja dengan sistem on line melalui fasilitas internet.

Ini adalah sedikit contoh yang dapat diungkap, masih banyak contoh-contoh yang dapat dilihat dan dipelajari.

Untuk menjadi seorang technopreneur, paling tidak ada 3 kriteria yang harus dimiliki yaitu berbakat sebagai (1) pebisnis atau entrepreneur, (2) memiliki sifat inventor atau senang dengan kemajuan, suka dengan hal-hal yang baru sehingga orang seperti ini akan mengejar sebuah inovasi dimanapun berada, dan (3) berbakat sebagai inovator karena memiliki modal dasar sebagai entrepreneur dan inventor.

Percepatan Pembangunan

Ciri pembangunan global saat ini adalah peningkatan produktivitas, nilai tambah dan berkelanjutan dalam rangka efisiensi yang bermuara kepada daya saing. Saat ini semua negara berlomba melakukan upaya-upaya itu, sehinga suka atau tidak suka, semua daerah sebagai bagian integral dari Republik ini sudah seyogianya berorientasi kepada ciri pembangunan global itu, bila tidak ingin tertinggal.

Gunter Pauli adalah seorang technopreneur. Salah satu karya spektakulernya adalah pengembangan usaha dengan pendekatan blue economy. Prinsip dari blue economy adalah pengembangan usaha melalui peningkatan efisensi dan penerapan konsep zero waste (pengembangan produk tanpa limbah).

Dalam konteks pengembangan perikanan contoh konkrit yang ditawarkan adalah pada usaha penangkapan ikan. Dalam konsep ini kapal ikan dirancang menggunakan layar yang selain berfungsi sebagai pendorong kapal, juga sekaligus sebagai penangkap cahaya matahari yang akan ditransfer menjadi energi listrik yang selanjutnya dapat dipakai untuk menggerakkan kapal itu sendiri pada saat angin tidak bertiup, dipakai untuk penerangan, untuk peralatan menggerakan bantu seperti fish finder maupun GPS bahkan untuk memproduksi es bahkan untuk sumber energi gudang berpendingin.

Penerapan prinsip zero waste dicontohkan pada industri perikanan tuna-cakalang dan tongkol (TTC), selain memproduksi loin ( potongan daging tuna berbentuk blok) sebagai produk utama, juga akan ada hasil ikutan yang bernilai ekonomi antara lain darah hasil pencucian TTC dapat menjadi pupuk organik; menjadikan tulang dan sirip menjadi tepung tulang; bahkan sejumlah daging yang masih tertinggal di sekitar tulang sisa membuat loin dapat dimanfaatkan untuk bahan baku bakso ikan, abon dan produk lainnya.

Uraian di atas dapat menjadi referensi bagi kita bahwa untuk percepatan terwujudnya visi Pemerintah Sulawesi Tengah 2011 - 2016: Sejajar dengan provinsi maju di kawasan timur dalam pengembangan Agribisnis dan Kelautan, maka daerah tentunya memerlukann sejumlah technopreneur.

Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana strategi melahirkan technopreneur- technopreuner itu, maka bahasannya dapat diikuti pada tulisan berikutnya(bersambung). *) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah.



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026