Logo Header Antaranews Sulteng

Panggil aku BPJAMSOSTEK

Jumat, 22 November 2019 16:04 WIB
Image Print
Logo BPJS Ketenagakerjaan. (ANTARA/Awaludin) (1)

Palu (ANTARA) - William Shakespeare memang pernah berucap; What's in a name? That which we call a rose by any other name, would smell as sweet." (Apalah arti sebuah nama? Sekalipun kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi).

Akan tetapi bagi sebagian besar orang Indonesia, nama adalah doa dan harapan. Memberi nama kepada anak atau perusahaan atau lembaga dan organisasi apapun, sama artinya dengan mendoakan untuk mencapai sesuatu sesuai makna nama tersebut.

Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada umatnya untuk memperindah nama, (sebab) umat Muhammad akan dipanggil dengan nama itu pada hari kiamat kelak (ROL 3 Agustus 2018). Di dalam Alkitab umat Kristiani, nama sejumlah tokoh bahkan diubah total. Sebutlah Yakub yang diganti namanya menjadi Israel dan Saulus menjadi Paulus, serta sejumlah figur penting lainnya.

Pada 2019 ini, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan memutuskan untuk mengubah nama panggilannya menjadi BPJAMSOSTEK. Mengapa? Banyak alasannya, salah satunya adalah BPJAMSOSTEK lebih akrab ditelinga dan lebih lengket pada ingatan masyarakat ketimbang BPJS Ketenagakerjaan.

"Selama ini BPJS Ketenagakerjaan masih kurang familiar di masyarakat. Masyarakat masih sering salah kaprah antara BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan, banyak yang bingung," ujar Ketua Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan, Guntur Witjaksono pada suatu kesempatan.

Uniknya lagi, kesalahpahaman itu pernah mengakibatkan ada sekelompok orang yang salah demo ke kantor BPJS Ketenagakerjaan.

"Sempat ada yang demo ke kantor kita, ternyata mereka salah sasaran. Massa itu ingin demo ke kantor BPJS yang satunya lagi," ujar Guntur dan berharap dengan perubahan nama panggilan ini, masyarakat akan lebih mengenal BPJamsostek.

Bak gayung bersambut, Dede Yusuf saat menjadi Ketua Komisi X DPR RI, menyatakan mendukung penuh penggunaan nama panggilan BPJamsostek untuk BPJS Ketenagakerjaan.

"Biar banyak orang enggak salah nyebut dan salah kaprah lagi," ujarnya.

Menurut mantan artis film tersebut, kemiripan nama itu mempengaruhi minat orang mengikuti program BPJS.

"Orang masih rancu antara BPJS Kesehatan dengan BPJS Ketenagakerjaan. Sehingga begitu ditawarkan BPJS Ketenagakerjaan, banyak yang belum tertarik. Ini bisa dilihat dari angka kepesertaan yang masih sekitar 40 jutaan peserta, sementara jumlah pekerja sekitar 130 juta," tuturnya.

Akronim Jamsostek yang diambil dari kata jaminan sosial ketenagakerjaan sejatinya sudah memasyarakat sejak dekade 80-an saat PT.Jamsostek berubah nama dari PT.Astek (Asuransi Sosial Tenaga Kerja. Saat menyebut Jamsostek, asosiasi orang langsung ke jaminan sosial bagi pekerja.

Kini, BPJS Ketenagakerjaan telah secara resmi mengganti nama panggilan menjadi BPJAMSOSTEK, setelah melalui pertimbangan matang dan survei secara internal maupun ke masyarakat. Sosialisasi nama panggilan ini akan diluncurkan pada HUT ke-42 BPJamsostek Desember 2019.

Selain perubahaan nama, BPJAMSOSTEK juga melakukan sejumlah langkah terobosan di akhir 2019 ini, antara lain menaikan nilai manfaat sejumlah program tanpa menaikan nilai iuranNYA, misalnya Jaminan Kematian dari Rp24 juta menjadi Rp42 juta.

Mantap kan? Ayo sekarang ikut program BPJS Ketenagakerjaan, .. eh keliru, BPJAMSOSTEK. Ya, Panggil aku BPJAMSOSTEK.



Pewarta :
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026