Kemendikbud minta kampus vokasi agar lakukan transformasi
Rabu, 27 Mei 2020 15:28 WIB
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sarianto, dalam telekonferensi di Jakarta, Selasa (19/5). (ANTARA/Indriani)
Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Wikan Sakarinto meminta agar kampus vokasi untuk melakukan transformasi saat pandemi COVID-19.
"Memang pandemi COVID-19 membuat sejumlah industri seperti manufaktur terdampak. Pariwisata maupun perhotelan juga. Namun, industri manufaktur bidang kesehatan justru semakin naik," ujar Wikan dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu.
Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, kata Wikan, "pernikahan massal" antara industri dan perguruan tinggi tetap dapat dilakukan.
"Saya yakin industri tetap akan bertahan. Mungkin ada yang sekarang sedang kesulitan, namun mereka sedang berinvestasi pada riset dan penelitian," katanya.
Saat ini, sejumlah industri sedang mempersiapkan diri untuk memasuki era kenormalan baru. Untuk itu, dia minta agar kampus vokasi turut bertransformasi agar lulusan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan industri.
Menurut dia, pandemi merupakan waktu yang tepat bagi kampus vokasi dan dunia industri untuk duduk bersama. Pada tahun ini, Wikan menargetkan 100 program studi melakukan "pernikahan massal" atau "link and match" dengan dunia usaha dan dunia industri.
Kemendikbud terus mendorong terwujudnya "pernikahan massal" antara pendidikan vokasi, dunia industri dan dunia usaha.
"Bagaimana kurikulum dan skema pencapaian kompetensi sumber daya manusia dirancang bersama. Jadi, perubahan industri bergeser ke kondisi kenormalan baru, juga harus diikuti dinamikanya oleh kampus dan kurikulumnya. Untuk itu perlu duduk bersama antara kampus dan dunia usaha maupun dunia industri," kata Mantan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada itu.
Baca juga: Kemendikbud luncurkan gerakan "pernikahan massal"
Baca juga: Lulusan Okupasi Terapi Vokasi UI 100 persen terserap didunia kerja
"Memang pandemi COVID-19 membuat sejumlah industri seperti manufaktur terdampak. Pariwisata maupun perhotelan juga. Namun, industri manufaktur bidang kesehatan justru semakin naik," ujar Wikan dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu.
Dalam kondisi pandemi seperti saat ini, kata Wikan, "pernikahan massal" antara industri dan perguruan tinggi tetap dapat dilakukan.
"Saya yakin industri tetap akan bertahan. Mungkin ada yang sekarang sedang kesulitan, namun mereka sedang berinvestasi pada riset dan penelitian," katanya.
Saat ini, sejumlah industri sedang mempersiapkan diri untuk memasuki era kenormalan baru. Untuk itu, dia minta agar kampus vokasi turut bertransformasi agar lulusan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan industri.
Menurut dia, pandemi merupakan waktu yang tepat bagi kampus vokasi dan dunia industri untuk duduk bersama. Pada tahun ini, Wikan menargetkan 100 program studi melakukan "pernikahan massal" atau "link and match" dengan dunia usaha dan dunia industri.
Kemendikbud terus mendorong terwujudnya "pernikahan massal" antara pendidikan vokasi, dunia industri dan dunia usaha.
"Bagaimana kurikulum dan skema pencapaian kompetensi sumber daya manusia dirancang bersama. Jadi, perubahan industri bergeser ke kondisi kenormalan baru, juga harus diikuti dinamikanya oleh kampus dan kurikulumnya. Untuk itu perlu duduk bersama antara kampus dan dunia usaha maupun dunia industri," kata Mantan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada itu.
Baca juga: Kemendikbud luncurkan gerakan "pernikahan massal"
Baca juga: Lulusan Okupasi Terapi Vokasi UI 100 persen terserap didunia kerja
Pewarta : Indriani
Editor : Sukardi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dukung generasi siap kerja, 30 ribu talenta SMK unjuk skill di festival vokasi satu hati 2026
23 February 2026 9:47 WIB
Kalibrasi kompetensi guru dan pelajar SMK, AHM gelar festival vokasi Satu Hati 2026
03 December 2025 14:14 WIB
Pemprov Sulteng dukung kerja sama pendidikan bahasa mandarin-pelatihan vokasi
18 November 2025 12:31 WIB
Terpopuler - Humaniora
Lihat Juga
LPP Kelas III Palu perkuat pembinaan berbasis ketahanan pangan bagi warga binaan
07 May 2026 20:33 WIB