KOMIU temukan 27 spesies burung endemik Sulawesi di alam liar
Minggu, 13 Juni 2021 16:03 WIB
Burung elang ular sulawesi (Spilornis rufipectus) merupakan salah satu jenis burung endemik Sulawesi yang dijumpai Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU). (ANTARA/HO/Yayasan KOMIU)
PaluSpilornis Rufipectus (ANTARA) - Yayasan Kompas Peduli Hutan (KOMIU) menemukan 27 spesies burung endemik Sulawesi di alam liar dalam beberapa tahun terakhir.
"Sejauh ini kami sudah mengamati kurang lebih 109 spesies burung, 27 spesies di antaranya berstatus di lindungi," kata Direktur Pelaksana Harian Yayasan KOMIU Gifvents saat dihubungi dari Palu, Minggu.
Ia menjelaskan bahwa yayasan melakukan pengamatan, pengidentifikasian, dan pendokumentasian spesies-spesies burung endemik Sulawesi dalam beberapa tahun terakhir.
Spesies burung endemik Sulawesi yang dijumpai selama kegiatan pengamatan di antaranya empat spesies burung yang dilindungi yakni elang ular sulawesi (Spilornis rufipectus), elang alap kepala kelabu (Accipiter griseiceps), serindit sulawesi (Loriculus Stigmatus), dan julang sulawesi (Aceros cassidix).
Yayasan KOMIU juga menemukan jejak burung maleo yang statusnya terancam punah di sekitar kawasan hutan di Kelurahan Kayumalue, Palu.
"Kami sedang melakukan pengamatan. Kami menemukan jejak maleo tetapi secara fisik belum dijumpai. Bulan Juni-Agustus musim burung ini bertelur," kata Gifvents.
Menurut dia, ada kurang lebih 200 spesies endemik di kawasan hutan Sulawesi Tengah yang belum dijumpai.
Ia mengemukakan bahwa alih fungsi hutan dan kegiatan perburuan liar telah mengancam kelestarian populasi burung endemik Sulawesi.
"Informasi kami dapat, sebenarnya burung-burung endemik banyak di sekitar kebun pinggiran hutan apalagi memasuki musim buah, tetapi kondisi sekarang sulit dijumpai," katanya.
Dia menekankan pentingnya penggiatan upaya pelindungan satwa endemik dan penanganan masalah yang mengancam kelestarian satwa endemik seperti perburuan dan alih fungsi hutan.
"Sejauh ini kami sudah mengamati kurang lebih 109 spesies burung, 27 spesies di antaranya berstatus di lindungi," kata Direktur Pelaksana Harian Yayasan KOMIU Gifvents saat dihubungi dari Palu, Minggu.
Ia menjelaskan bahwa yayasan melakukan pengamatan, pengidentifikasian, dan pendokumentasian spesies-spesies burung endemik Sulawesi dalam beberapa tahun terakhir.
Spesies burung endemik Sulawesi yang dijumpai selama kegiatan pengamatan di antaranya empat spesies burung yang dilindungi yakni elang ular sulawesi (Spilornis rufipectus), elang alap kepala kelabu (Accipiter griseiceps), serindit sulawesi (Loriculus Stigmatus), dan julang sulawesi (Aceros cassidix).
Yayasan KOMIU juga menemukan jejak burung maleo yang statusnya terancam punah di sekitar kawasan hutan di Kelurahan Kayumalue, Palu.
"Kami sedang melakukan pengamatan. Kami menemukan jejak maleo tetapi secara fisik belum dijumpai. Bulan Juni-Agustus musim burung ini bertelur," kata Gifvents.
Menurut dia, ada kurang lebih 200 spesies endemik di kawasan hutan Sulawesi Tengah yang belum dijumpai.
Ia mengemukakan bahwa alih fungsi hutan dan kegiatan perburuan liar telah mengancam kelestarian populasi burung endemik Sulawesi.
"Informasi kami dapat, sebenarnya burung-burung endemik banyak di sekitar kebun pinggiran hutan apalagi memasuki musim buah, tetapi kondisi sekarang sulit dijumpai," katanya.
Dia menekankan pentingnya penggiatan upaya pelindungan satwa endemik dan penanganan masalah yang mengancam kelestarian satwa endemik seperti perburuan dan alih fungsi hutan.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor : Laode Masrafi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Pertamina EP DMF berhasil ubah pola hidup masyarakat Kokolomboi lestarikan alam dan satwa endemik Bangkep
21 April 2025 19:08 WIB, 2025
Menparekraf minta Pemda jaga kelestarian burung Maleo di Provinsi Sulteng
02 December 2023 22:40 WIB, 2023
Ikan rinuak jadi langka di Danau Maninjau Agam dampak airnya yang tercemar
04 April 2023 9:58 WIB, 2023
Terpopuler - Wisata
Lihat Juga
Balai Pelestarian Kebudayaan pasang garis pembatas penemuan tulang megalit di Lembah Napu
29 March 2026 22:04 WIB