Banggai, Sulawesi Tengah (ANTARA) - Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Luwuk menggandeng Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kabupaten Banggai dalam membekali seluruh petugas dengan pengetahuan dan keterampilan tanggap darurat bencana.
Kepala Lapas Luwuk Muhammad Bahrun di Luwuk, Sulawesi Tengah, Sabtu, mengatakan bahwa pemahaman mengenai mitigasi bencana merupakan keterampilan wajib bagi setiap petugas.
Menurut dia, lingkungan Lapas memiliki karakteristik risiko yang unik karena menampung banyak orang, sehingga memerlukan penanganan yang cepat dan terukur agar tidak menimbulkan kepanikan bagi warga binaan maupun staf.
“Kami tidak boleh lengah. Sinergi dengan Basarnas Banggai adalah langkah strategis untuk memastikan setiap personel tahu apa yang harus dilakukan, siapa yang harus dihubungi, dan bagaimana cara menyelamatkan diri serta orang lain saat situasi darurat terjadi,” katanya.
Ia menjelaskan kegiatan edukasi dan simulasi tanggap darurat bencana dilakukan sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan personel dalam menghadapi potensi bencana alam maupun keadaan darurat lainnya.
Menurut dia, simulasi bertujuan membekali petugas dengan pengetahuan teknis serta mentalitas yang tangguh dalam menghadapi potensi bencana, mulai dari bencana alam hingga gempa bumi.
Edukasi ini dinilai penting mengingat Lapas merupakan objek vital yang memiliki risiko tersendiri apabila terjadi keadaan darurat.
Dalam sesi edukasi, tim Basarnas Banggai memberikan materi meliputi teknik evakuasi mandiri, yaitu cara mengarahkan massa di ruang terbatas menuju titik kumpul, pertolongan pertama (first aid) berupa penanganan awal pada korban luka sebelum tim medis tiba, serta mitigasi risiko.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Sulawesi Tengah Bagus Kurniawan mengatakan langkah yang diambil Lapas Luwuk merupakan manifestasi nyata dari instruksi pusat terkait aspek deteksi dini dan kesiapsiagaan terhadap gangguan keamanan dan ketertiban, termasuk bencana alam.
“Keamanan di Lapas tidak hanya bicara soal pagar berduri atau kunci sel, tetapi juga kesiapan personel dalam menghadapi force majeure,” ujarnya.
Ia mengatakan peningkatan kapasitas personel ini tidak hanya sekadar formalitas, melainkan bentuk kewaspadaan dini dalam meminimalisir risiko kerugian materiil maupun korban jiwa di masa mendatang.