Logo Header Antaranews Sulteng

Anton Bermimpi Ekspor Kerupuk Rumput Laut

Kamis, 28 Agustus 2014 04:27 WIB
Image Print
Seorang pembudidaya menjemur rumput laut (ANTARA)

Anton Kasim sudah puluhan tahun menjadi nelayan dan pembudidaya rumput laut. Selama bertahun-tahun, dia hanya menjual rumput laut mentah ke pengepul untuk diolah menjadi berbagai produk.

Pada tahun 1998, pria asal Sulawesi Selatan ini merantau ke Desa Silampayang, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, yang berjarak ratusan kilometer dari kampung halamannya.

Di desa itu, pria yang akrab disapa pak Anton ini masih tetap menjadi nelayan, baik menangkap ikan maupun membudidayakan rumput laut dengan hasil yang hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Pria kelahiran Sinjai, 10 Januari 1962 ini kemudian berpikir untuk mengolah hasil rumput laut dan dijadikan berbagai produk yang memiliki nilai tambah agar keluarganya lebih sejahtera.

Sejumlah pelatihan wirausaha dan keterampilan yang diadakan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menggugah pemikirannya untuk lebih maju dan berkembang.

Pada 2011, pria yang telah dikaruniai lima orang anak itu mendirikan Industri Kerajinan Menengah (IKM) Mitra Bahari. Setelah mendapat berbagai pelatihan untuk mengolah rumput laut dari pemerintah daerah setempat, dia mulai membuat aneka produk antara lain kerupuk rumput laut, dodol rumput laut, manisan rumput laut, steik, hingga brownies rumput laut.

Tempat tinggal Pak Anton yang berada di pinggiran pantai, tak membuatnya kesulitan untuk mendapatkan rumput laut. Di pantai tersebut banyak terdapat nelayan pembudidaya rumput laut, termasuk dirinya. Saat ini dia menggunakan rumput laut jenis "kappaphycus cottonii" atau biasa disebut katoni untuk membuat aneka produk kreasinya.

Pada awal menggeluti usahanya, dia mengaku menggunakan modal perdana sebesar Rp300 ribu untuk membeli bahan-bahan pembuat kerupuk rumput laut.

Sejumlah pameran industri kreatif di Kabupaten Parigi Moutong, dia ikuti untuk lebih mengenalkan cemilan buatannya.

Sedikit demi sedikit usahanya mulai berkembang dan semakin dikenal orang meski hanya di seputar Kabupaten Parigi Moutong yang berada sekitar 140 kilometer dari Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah.

Untuk memperbesar usahanya, diapun mengajukan permohonan bantuan mesin pengaduk adonan krupuk agar produksinya bisa semakin berlipat namun dilakukan dengan tempo relatif singkat.

Permohonannya mendapat sambutan baik. Pada 2012, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pengolahan Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan (BBP4BKP) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan bantuan alat pengaduk adonan krupuk kepada industri kecil yang dikelola Pak Anton.

"Bantuan itu cuma-cuma, tidak disuruh bayar ataupun mencicil," kata Pak Anton yang kini menyulap sebagian rumahnya menjadi pabrik mini kerupuk.

Sebelum memiliki alat pengaduk adonan, dia hanya bisa membuat 15 kg kerupuk mentah per minggu. "Sekarang, bisa mencapai 50 kg per minggu, tergantung pesanan," kata pria berkulit legam ini karena sering mandi sinar matahari.

Kini usaha yang dikelola Pak Anton sudah mulai berkembang, dan dia telah memiliki tujuh pekerja yang merupakan tetangganya sendiri.

Kerupuk rumput laut yang berasa gurih itu awalnya hanya dipromosikan dan dipasarkan dari mulut ke mulut saja. Bahkan banyak orang lewat di pinggir jalan dan melihat kerupuk mentah dijemur merasa tertarik dengan irisan tipis sebesar koin berwarna kelabu itu.

"Mungkin mereka penasaran apa yang dijemur itu. Awalnya saya menyuruh mereka mencicipi kerupuk yang sudah matang, dan Alhamdulillah mereka suka dan langsung membelinya untuk oleh-oleh," katanya.


Kisah awal

Dia juga mengisahkan, saat awal usaha pembuatan kerupuk rumput laut dan belum mendapat bantuan peralatan. Dia harus mengiris adonan kerupuk yang telah direbus menggunakan pisau dapur.

Bisa dibayangkan berapa lama untuk bisa mendapatkan lima kilogram kerupuk yang dikerjakan seorang diri yang terkadang dibantu anaknya.

Sekitar satu tahun proses manual itu dijalani Pak Anton hingga akhirnya mendapat bantuan alat pengiris, alat pengadon, serta sejumlah perlengkapan lainnya dari pemerintah.

Saat mengikuti pameran di Parigi, Ibu Kota Kabupaten Parigi Moutong pada 2013, IKM yang dipimpinnya menjual brownis, kerupuk, manisan, steik dan dodol yang semuanya berbahan dasar rumput laut.

Namun dari semua produk yang dipamerkan tersebut, hanya kerupuk rumput laut yang menjadi primadona selama ajang itu berlangsung.

Sejak saat itu, Pak Anton memutuskan untuk lebih fokus untuk membuat kerupuk rumput laut, namun masih tetap melayani pesanan berbagai produk lainnya.

Satu kilogram kerupuk rumput laut mentah dijual Rp50 ribu. "Kita juga menjual kerupuk matang namun banyak yang minat kerupuk mentah karena bisa dijual lagi," kata pria yang berpendidikan hanya sampai SMP kelas satu ini.

Satu kilogram kerupuk mentah apabila digoreng bisa menjadi 20 bungkus. Satu bungkusnya dihargai Rp5.000,00.

Saat pameran itu, ada seorang pengusaha dari Jakarta yang mencicipi kerupuk buatannya. Kemudian pengusaha itu janjian bertemu dengan Pak Anton. Saat bertemu, pengusaha itu mengaku tidak bisa tidur setelah makan kerupuk rumput laut. "Saya heran, kenapa bisa? Ternyata kerupuknya enak," kata Anton.

Pengusaha yang disapa Pak Rudy itu mengaku tertarik dan berminat akan memasarkan kerupuk rumput laut buatan Pak Anton di Jakarta, bahkan hingga ke luar negeri apabila produknya dikemas secara rapi, menarik dan higienis.

Hingga saat ini, Pak Anton rutin mengirim sekitar 50 kilogram per minggu ke Jakarta sesuai pesanan Pak Rudy.

Banyak yang mengira kerupuk rumput laut itu dicampur dengan bahan ikan, udang atau sejenisnya sehingga rasanya gurih seperti mengandung ikan.

"Tidak ada campuran sama sekali, hanya murni berbahan utama rumput laut," kata pria yang kerap dipanggil untuk menjadi narasumber terkait usaha kecil itu.

Baru-baru ini ada permintaan dari Surabaya namun hingga kini belum disepakati karena terkendala jumlah yang belum bisa dipenuhi.

Pak Anton berharap produknya semakin diminati dan bahkan bisa dijual ke luar negeri sehingga semakin terkenal lagi produknya.

Dia berharap Pak Rudy atau orang lain bisa turut memasarkan kerupuk rumput laut khas Parigi Moutong ke seluruh Tanah Air bahkan hingga ke manca negara.

Dari usaha yang digelutinya, Pak Anton hingga kini tidak terlalu kewalahan untuk membiayai sekolah tiga anaknya. Dua anak tertuanya sudah menikah dan telah dikarunia putra.

Keuntungan bersih dari usaha rumput laut yang didapat rata-rata mencapai Rp5 juta setiap bulan.

Dia berharap ada anaknya yang bisa sekolah ke perguruan tinggi melebihi dirinya dan kelak bisa mengurus usahanya agar bisa menjadi perusahaan besar.

Tantangan Ke Depan

Pak Anton mengaku tantangan ke depan semakin banyak, antara lain susahnya meraih sertifikat halal karena membutuhkan proses lama dan pengawasan ketat, pemasaran yang belum sempurna, hingga persaingan bisnis.

"Semua produk saya halal, cuma belum ada sertifikat dari MUI," katanya meyakinkan.

Selain itu, hingga saat ini, Pak Anton juga masih menggunakan mesin pengiris manual untuk memotong adonan kerupuk sehingga membutuhkan waktu lama untuk mengiris.

"Saya masih bermohon agar bisa mendapatkan mesin pengiris agar lebih cepat dan hasilnya banyak. Namun hingga kini belum ada jawaban," katanya.

Selain itu, dia juga berupaya agar produknya dibungkus dengan kemasan plastik yang sudah dihilangkan udaranya atau di-"vaccum" terlebih dahulu agar lebih awet.

Saat ini kerupuk yang masih dibungkus plastik bisa tahan hingga satu tahun meski tanpa bahan pengawet.

Di Desa Silampayang sendiri terdapat sekitar empat industri rumah tangga seperti yang digeluti pak Anton namun hanya IKM Mitra Bahari yang kerap didatangi atau mendapat bantuan dari pemerintah.

Menangapi itu, pak Anton mengajak rekan-rekannya agar tetap terus bekerja. "Kita terus bekerja saja dulu, baru bermohon bantuan. Kalau sudah ada buktinya pasti mereka percaya," ujarnya. (skd)



Pewarta :
Editor: Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2026