Logo Header Antaranews Sulteng

Sukiman, Pahlawan Bagi Murid SLB

Rabu, 10 Desember 2014 14:37 WIB
Image Print
Ilustrasi (antaranews)

Palu (antarasulteng.com) Dua tahun lalu, Sukiman terpaksa membersihkan dan membabati ilalang di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 2 Palu, Sulawesi Tengah. Pria kelahiran 29 Mei 1964 ini mengaku prihatin dengan kondisi sekolah yang dibangun 2007, jendela kaca banyak yang pecah, dinding sekolah banyak dicorat-coret, dan toilet rusak.


Saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu, dia mengisahkan, kala itu Sukiman ditunjuk Pemerintah Kota Palu untuk menjadi Kepala SLB Negeri 2 Palu yang berada di Kelurahan Petobo. Perlahan-lahan, pria yang punya empat anak ini mulai membersihkan gedung tersebut bersama keluarga dan rekan sejawat.


Kini telah terdapat 15 siswa di SMALB, 10 murid di SMPLB, dan 58 murid di SDLB. Sukiman menahkodai semua itu dengan dibantu 14 guru, separuhnya adalah pegawai honorer.


Sebelum menjadi Kepala SLB Negeri 2 Palu, Sukiman sebelumnya menjadi Kepala Sekolah SLB ABCD Muhammadiyah Palu selama 20 tahun. Bersama istrinya yang juga guru, mereka bahu-membahu mengajar murid yang dianggap kurang normal itu. Secara keseluruhan pria asal Solo ini telah menjadi kepala sekolah selama 22 tahun dari 29 tahun masa kerja yang dilaluinya.


Berbagai penghargaan di tingkat Kota Palu maupun Provinsi Sulawesi Tengah telah ia kantongi atas dedikasinya selama menjadi guru SLB.


Pada puncaknya, dia menyabet juara II Lomba Kepala Sekolah SMALB Berdedikasi tingkat Nasional 2014. Diapun diundang untuk menerima penghargaan itu di Istana Presiden saat peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2014.Selain piagam dan piala, dia juga mendapat uang pembinaan senilai Rp25 juta.


Atas penghargaan itu, Sukiman tidak lantas menjadi besar kepala. Dia justru merasa malu karena pencapaiannya belum maksimal. Sekolah yang dipimpinnya saat ini tergolong belum sempurna karena tiada pagar mengelilingi komplek sekolah. Selain itu, tingkat kenyamanan bagi para murid belum maksimal.


Olehnya pemerintah setempat diimbau lebih serius memperhatikan kondisi tersebut. Selain itu, dia juga terus berupaya mengajukan penambahan guru di SLB Negeri 2 Palu. Idealnya ada sekitar 20 guru, sehingga proses belajar dan mengajar bisa berjalan maksimal.


Meski pemerintah setempat kurang menghargai kinerjanya dan upaya meningkatkan kualitas sekolah, dia tetap bekerja keras mendidik anak-anak berkemampuan khusus tersebut.


Suatu saat dalam sebuah pertemuan, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Sudarto memperkenalkan Sukiman kepada ratusan orang yang hadir, dan sebagian besar adalah guru. "Kalau mau berprestasi dan bekerja ikhlas, contohlah Pak Sukiman," kata Sudarto sambil menyuruh Sukiman berdiri. Tepuk tangan meriah membahana di ruangan. Namun tepuk tangan itu tidak membuatnya besar kepala. Dia terus bekerja, sebagai guru SLB.



Pewarta :
Editor: Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2026