
Calon Direksi Bank Sulteng Kurang Profesional

Ia menegaskan, direksi dan komisaris Bank Sulteng seyogianya sebagian besar adalah profesional perbankan. Kalau tidak, Bank Sulteng akan semakin kalah bersaing dengan bank-bank lain."
Palu - Pengamat ekonomi dari Universitas Tadulako Palu Prof Dr.H Djayani Nurdin menilai figur-figur calon direksi dan komisaris Bank Sulteng yang sedang mengikuti fit and proper test di Bank Indonesia saat ini sebagian besar tidak profesional.
"Kalau saya lihat dari beberapa nama yang ikut fit and proper test itu, hanya sekitar 20 persen yang bisa dibilang profesional, yang lainnya justru politisi dan mantan birokrat yang pengetahuan perbankannya diragukan," katanya di Palu, Kamis.
Ia menilai, kebiasaan lama pimpinan daerah dimana penentuan direksi dan komisaris Bank Sulteng yang terlalu berorientasi pada kepentingan politik, kini masih terulang lagi.
"Lihat saja figur-figur yang diusulkan tersebut baik oleh gubernur maupun bupati/wali kota, hampir semuanya mantan birokrat dan pimpinan politik, bahkan ada ketua partai dan mantan ketua tim sukses dalam Pilkada Sulteng 2011," ujar Asisten Direktur Program Pasca Sarjana Untad Palu tersebut.
Memang ada juga, katanya, figur-figur profesional dari praktisi dan kalangan kampus.
Namun katanya mereka sebenarnya bukan profesional di bidang perbankan, hanya mereka bisa masuk karena ada kedekatan-kedekatan tertentu dengan pemegang kebijaksanaan dan pengambil keputusan.
"Karena itu, saya menilai bahwa para pemegang saham Bank Sulteng terutama para kepala daerah, belum berpikir untuk memajukan Bank Sulteng ini," ujarnya.
Ia menegaskan, direksi dan komisaris Bank Sulteng seyogianya sebagian besar adalah profesional perbankan. Kalau tidak, Bank Sulteng akan semakin kalah bersaing dengan bank-bank lain.
Karena itu, kalau mau mencari figur-figur direksi dan komisaris, sebaiknya dibuka pendaftaran secara terbuka, kalau perlu umumkan di media agar bisa didapatkan figur-figur yang terbaik.
"Di Sulteng ini kan banyak profesional perbankan. Siapa tahu dia berminat memimpin Bank Sulteng, kan dia bisa mundur dari posisinya saat ini. Cuman masalahnya adalah rekruitmen direksi dan komisaris Bank Sulteng ini cenderung tertutup dan amat dibatasi," ujarnya.
Ia berharap, setiap kali ada pemilihan direksi Bank Sulteng, para pemegang saham bank daerah ini seharusnya membentuk tim rekruitmen dan menetapkan kriteria-kriteria yang jelas dan diterapkan secara konsekwen, sehingga aspek profesionalitas tetap dikedepankan.
Setelah nama-nama itu didapatkan, katanya, barulah diajukan ke Bank Indonesia untuk mengikuti fit and proper test.
Guru besar dari Fakutas Ekonomi Untad ini menegaskan bahwa keberhasilan Bank Sulteng terkait langsung dengan kesejahteraan masyarakat Sulteng.
"Alasannya, bila ada peluang ekonomi yang dinilai prospektif bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat namun bank-bank lain enggan masuk ke situ, maka Bank Sulteng harus masuk. Nah di sini sangat dibutuhkan profesionalisme seorang pemimpinan Bank Sulteng," ujarnya.
Birokrat perlu
Ditemui terpisah, Sekretaris Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Sulawesi Tengah Chaeruddin Zen mengatakan pemerintah daerah perlu mempertimbangkan masuknya mantan birokrat ke dalam jajaran dewan komisaris PT. Bank Sulteng.
Chaeruddin Zen mengatakan, dari delapan nama calon komisaris yang sedang dalam proses uji kepatutan dan kelayakan di Bank Indonesia sebagian dari mantan birokrat dan politisi.
Mereka adalah Ma'ruf Bantilan dan Karim Hanggi. Keduanya mantan Bupati Tolitoli dan Buol, politisi, dan pernah menduduki sejumlah jabatan di pemerintahan.
Karim Hanggi hingga kini bahkan masih menjabat Ketua Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Sulawesi Tengah.
"Tidak apa satu dari mantan birokrat, tapi dua komisaris lainnya harus dari kalangan profesional. Mereka harus punya pengetahuan dan latar belakang perbankan yang cukup," kata Chaeruddin.
Dia mengatakan, meskipun demikian penentuan lolos atau tidaknya calon komisaris Bank Sulteng tersebut tergantung dari hasil uji kepatutan dan kelayakan oleh Bank Indonesia.
Proses uji kepatutan dan kelayakan bagi calon direktur dan komisaris Bank Sulteng beberapa waktu sempat mengalami hambatan karena syarat yang dikirim oleh Bank Sulteng dinilai tidak memenuhi syarat sertifikasi managemen fisik.
Berkas yang diajukan ke Bank Indonesia selalu ditolak karena tidak lulus sertifikasi. Saat ini para calon komisaris sedang mengikuti pelatihan risiko yang dilakukan oleh Bank Indonesia.
Delapan nama calon komisaris yaitu Yusuf Butudoka, Ma'ruf Bantilan, Karim Hanggi, Bustamin Nontji, Diana Lisa Mustakim, Amiruddin, Syarifuddin Walahi dan Samsuar Mola. (R007)
Pewarta : Rolex Malaha
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
