
Kapolres Pun Panen Udang Supra Intensif Di Parigi

Kapolres: ini luar biasa. Terobosan yang harus diberi jempol kepada bapak Hasanuddin Atjo yang menemukan dan mengembangkan teknologi ini.
Parigi (antarasulteng.com) - Ada pemandangan yang berbeda saat panen total udang vaname hasil teknologi budidaya supra intensif pada tambak percontohan Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Tengah di Desa Kampal, Kota Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Jumat (20/11).
Pemandangan itu adalah hadirnya Kapolres Parigi Moutong AKBP Muhammad Ridwan beserta sejumlah anggotanya untuk ikut mengangkat langsung udang vaname berusia empat bulan tersebut dari dalam tambak ke tempat penampungan.
"Ini luar biasa. Terobosan yang harus diberi jempol kepada bapak Kepala Dinas KP Sulteng yang menemukan dan mengembangkan teknologi ini," kata Ridwan di sela-sela panen tersebut.
Ia mengaku bangga mendapat undangan bapak DR Ir Hasanuddin Atjo, MP untuk menyaksikan panen tersebut.
"Saya sudah lama mendengar cerita kawan-kawan dan membaca di media massa soal teknologi budidaya udang supra intensif ini, tapi baru kali ini menyaksikannya langsung hasilnya," ujar mantan Kasubdit Regident Ditlantas Polda Sulteng itu.
Ridwan mengaku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu bahkan mengajak sekitar 10 stafnya untuk menghadiri acara itu dan berada di sekitar tambak selama tiga jam lebih untuk mempelajari seluk-beluk tambak tersebut.
"Ini untuk memotivasi anggota saya. Siapa tahu aja ada di antara mereka yang tertarik dan memiliki kemampuan untuk ikut mereplikasi teknologi budidaya ini," kata Ridwan yang baru sekitar sebulan menjadi Kapolres itu.
Ridwan juga mengaku telah mendapat saran dari Kadis KP Hasanuddin Atjo untuk membangun sebuah tambak udang supra intensif di halaman belakang Polres Parimo yang cukup luas dan terletak di pinggir pantai dengan air laut yang masih jauh dari pencemaran. Ridwan mengaku akan mempertimbangkan saran tersebut.
"Ini bagus untuk memberi kegiatan yang produktif bagi anggota Polres di luar jam dinas dan pengelolaannya bisa dilakukan oleh Koperasi Polres untuk kesejahteraan anggota. Saya siap memberikan bantuan teknis dan pendampingan kalau pak Kapolres berminat mereplikasi teknologi ini," ujar Atjo kepada Kapolres di lokasi panen.
Menurut penemu teknologi supra intensif ini, tambak jenis tidak membutuhkan lahan yang luas. Meski modal awalnya lebih mahal dari tambak konvensional, namun produktivitasnya sangat tinggi yakni 153 ton perhektare, dan merupakan angka produktivitas tertinggi di dunia dewasa ini. Karena itu, margin (keuntungan) usaha ini juga tinggi, katanya.
Tambak udang percontohan penerapan teknologi supra intensif yang dipanen itu terdiri atas dua petak yang berukuran masing-masing 25x25 meter. Hingga Jumat malam, kegiatan panen masih berlangsung namun diperkirakan, produksi udang dari kedua petak tambak ini akan mencapai 20 sampai 22 ton.
Selain menghadirkan Kapolres Parigi Moutong, panen kali ini juga dihadiri pengusaha tambak udang asal Banten, Alfansuri dan sejumlah stafnya yang menyatakan akan mereplikasi tambak udang supra intensif ini di lokasi tambak miliknya di Banten.
"Saya punya lahan tambak seluas 20 hektare, sebagian akan saya petak-petak untuk menerapkan teknologi supra intensif ini," ujarnya. (R007)
Pewarta : Rolex Malaha
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
