Logo Header Antaranews Sulteng

Menkes: Memberi contoh hidup sehat lebih efektif daripada menghukum

Kamis, 22 Januari 2026 13:49 WIB
Image Print
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Jakarta, Kamis (22/1/2026). ANTARA/Mecca Yumna

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mendorong masyarakat untuk hidup lebih sehat dengan contoh-contoh, yang dinilainya lebih efektif dibanding melarang atau memberikan hukuman.

"Saya lebih percaya, gaya hidup, kebiasaan, itu nggak bisa dipaksa," kata Menkes Budi Gunadi di Jakarta, Kamis, merespons pertanyaan media tentang regulasi konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan serta cukai rokok.


Oleh karena itu, lanjut Menkes, perlu ada contoh hidup sehat agar publik tergerak untuk mengadopsinya.

"Misalnya contoh, saya di sosial media yang paling melakukan, yang makan rebus-rebusan kan. Dan begitu dijalani seperti itu saja, sederhana, semua orang tuh mau makan rebusan," kata Menkes.

Kemudian Menkes juga mengajak perempuan untuk menghindari laki-laki yang merokok, karena dianggap menunjukkan tanda-tanda bahaya atau red flag. Hal tersebut karena asap rokok yang menempel menjadikan perempuan perokok pasif dan meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker serviks hingga 40 persen.

"Menurut saya itu sangat efektif dibandingkan ucapannya tuh melarang merokok, kasih financial punishment yang besar. Kenapa? Karena dengan melihat itu orang akan merasa sadar dan 'ya udah lah saya nggak mau merokok'," kata Menkes Budi Gunadi.

Menurutnya, edukasi seperti itu butuh strategi yang tepat agar orang menerapkan prinsip agar hidup lebih panjang dan sehat.

Adapun penyakit tidak menular seperti kanker, sakit jantung, stroke, dan sakit ginjal, masih menjadi beban pembiayaan signifikan dalam Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

BPJS Kesehatan menyebutkan klaim yang dibayarkan pada 2025 sebesar Rp201 triliun, naik sebesar sekitar 14,9 persen dari jumlah pada tahun 2024 sebesar Rp175 triliun.

Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti mengatakan di Yogyakarta, Rabu (10/12/2025), pada 2024 sebesar 34 persen biaya yang dibayarkan BPJS untuk penanganan penyakit Kanker, Jantung, Stroke, dan Uronefrologi (KJSU).

Berdasarkan data pusat observasi global atau Globocan, terdapat lebih dari 408.661 kasus baru dan hampir 242.099 kematian di Indonesia pada tahun 2022, dengan jumlah kematian tertinggi diakibatkan oleh kanker payudara, kanker leher rahim, kanker paru, kanker kolorektal, dan kanker hati.

Pemerintah juga menyediakan Cek Kesehatan Gratis (CKG) sejak Februari 2025 guna menggalakkan pendekatan promotif dan preventif di Indonesia. Per Desember 2025, sudah ada sekitar 70 juta orang yang berpartisipasi dan ditargetkan 46 persen penduduk Indonesia ikut CKG pada 2026.




Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026