Logo Header Antaranews Sulteng

ReforMiner Institute: Masyarakat perlu diedukasi terkait stok BBM

Jumat, 13 Maret 2026 11:22 WIB
Image Print
Ilustrasi distribusi BBM Pertamina. (ANTARA/ HO PT Pertamina Patra Niaga)

Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro mengatakan masyarakat perlu diedukasi tentang stok BBM seperti ketersediaan 20 hari yang berkaitan dengan kapasitas daya tampung atau storage BBM yang dimiliki oleh Indonesia.

Dia menyampaikan stok operasional BBM Indonesia cukup 20 hari ke depan bukan menandakan bahwa cadangan BBM akan habis setelahnya.

"Setelah 20 hari, stok di storage itu akan bisa diisi lagi. Jadi sebenarnya ini kondisi baik-baik saja," kata Komaidi dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Komaidi membandingkan dengan storage BBM di beberapa negara Asia Tenggara. Ia mencontohkan Vietnam hanya cukup untuk 15 hari, Laos memiliki storage dengan kapasitas 10 hari. Lalu negara tetangga lainnya, kata dia, seperti Australia memiliki storage BBM untuk 50 hari.

Sebaliknya Jepang memiliki ketersediaan BBM hingga 254 hari karena Jepang dalam sejarahnya bukan negara penghasil BBM sehingga mengharuskan negara itu memiliki daya tampung BBM dengan volume besar.

"Mari sampaikan kepada khalayak agar tidak perlu ada kekhawatiran kalau memasuki Idul Fitri nanti stok BBM akan habis," kata Komaidi.

Sebelumnya sempat muncul kegaduhan dan kepanikan setelah Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut ketersediaan BBM Indonesia aman untuk 20 hari ke depan.

Kondisi itu menjadi kontras karena Jepang memiliki stok hingga 254 hari namun pemerintahannya langsung melakukan koordinasi menyusul terjadinya perang Iran versi Amerika Serikat-Israel.

Komaidi menyarankan kepada pemerintah dan Pertamina agar meningkatkan kapasitas stok penyimpanan nasional untuk minyak mentah dan hasil olahan minyak.

Saat ini, kata dia, rata-rata kapasitas stok nasional hanya cukup untuk 14-30 hari.

"Setidaknya Indonesia itu mampu menyamai Australia yang sampai 50 hari," katanya.

Mengenai situasi sekarang dengan ketegangan di Timur Tengah yang belum mereda, Komaidi berharap pemerintah mengalihkan jalur impor dari Selat Hormuz ke jalur lain.

Ia mengatakan saat ini masih banyak negara pemasok BBM yang tidak terlibat konflik. Hanya saja dengan pengalihan kapasitas impor yang melewati Selat Hormuz, tentunya berdampak terhadap adanya penambahan cost operasional.

"Pemerintah tinggal menambah cost impornya saja sehingga kecukupan pasokan BBM kita tidak terpengaruh dengan situasi perang Iran vs Israel dan AS," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026