Logo Header Antaranews Sulteng

ORI: Sinergi pemerintah dan pengusaha jaga ketahanan sektor industri

Selasa, 28 April 2026 10:24 WIB
Image Print
Wakil Ketua Ombudsman RI Rahmadi Indra Tektona dalam kunjungan ke pabrik di Malang, Jawa Timur, Jumat (24/4/2026). ANTARA/HO-Ombudsman RI

Jakarta (ANTARA) - Ombudsman RI (ORI) menegaskan sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci dalam menjaga ketahanan sektor industri serta memastikan roda perekonomian nasional tetap berjalan di tengah ketidakpastian global.

Dalam kunjungan ke pabrik di Malang, Jawa Timur, Jumat (24/4), Wakil Ketua Ombudsman RI Rahmadi Indra Tektona menyebut terjadinya konflik di Selat Hormuz hingga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, serta berbagai faktor eksternal turut memengaruhi stabilitas operasional di lapangan.

"Ini kemudian akan berpotensi merugikan masyarakat," ujar Rahmadi, seperti dikutip dari keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.

Oleh karena itu, dia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan distribusi, memperkuat pengawasan ketersediaan bahan baku dan suku cadang (sparepart), serta menghadirkan kebijakan yang berpihak pada keberlangsungan usaha.

Ombudsman pun mendorong adanya perbaikan kualitas layanan, melakukan efisiensi, serta terus beradaptasi di tengah perubahan untuk menjamin pelayanan publik baik di tengah masyarakat.

Adapun kunjungan lapangan ke pabrik manufaktur dan transportasi publik di Malang dilakukan ORI guna meninjau kondisi sektor industri manufaktur dan jasa transportasi yang tengah menghadapi tekanan akibat dinamika global.

ORI menaruh perhatian karena hal tersebut akan berpengaruh pada pelayanan publik di bidang transportasi.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan cadangan energi nasional mulai dari BBM hingga stok minyak mentah (crude) berada di atas standar minimum nasional.

"Saya menyampaikan, melaporkan terkait dengan perkembangan energi nasional kita. Baik dari sisi BBM produk, baik solar maupun bensin, dari semua aspek, Alhamdulillah semuanya di atas standar minimum nasional," kata Bahlil usai rapat terbatas dengan Presiden RI Parbowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (27/4).

Bahlil menjelaskan kondisi ketahanan energi Indonesia tetap stabil meski tengah menghadapi tekanan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Menurut dia, situasi di Selat Hormuz dalam dua bulan terakhir tidak mengganggu pasokan domestik secara signifikan.

Selain produk BBM, stok minyak mentah untuk kilang atau refinery juga dilaporkan dalam kondisi aman. Bahlil menyebutkan ketersediaan stok tersebut relatif tidak menghadapi kendala berarti karena posisinya yang masih di atas batas minimum yang ditentukan.

Terkait dengan konsumsi LPG, Menteri ESDM melaporkan bahwa pemerintah sedang mencari langkah-langkah alternatif untuk melakukan substitusi impor. Saat ini, konsumsi LPG nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, namun produksi dalam negeri hanya berkisar 1,6 hingga 1,7 juta ton.



Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026