Logo Header Antaranews Sulteng

Astra Agro catat pendapatan Rp7,5 triliun di kuartal I 2026

Rabu, 29 April 2026 10:21 WIB
Image Print
Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo (kiri) bersama Presiden Direktur Astra Agro Lestari Djap Tet Fa (kanan). (ANTARA/HO-Astra Agro)

Jakarta (ANTARA) - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mencatatkan pendapatan sebesar Rp7,5 triliun pada kuartal I/2026, yang mencerminkan kinerja solid perusahaan yang ditopang oleh efisiensi operasional dan pengendalian biaya.

Dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu, Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo menyampaikan, capaian tersebut turut diiringi dengan laba bersih sebesar Rp373 miliar.
Adapun secara tahunan, pendapatan perseroan tumbuh 6,8 persen (year-on-year/YoY), sementara bottom line melonjak 34,8 persen YoY.
Kinerja positif ini, kata dia, tidak terlepas dari strategi perusahaan dalam meningkatkan efisiensi di seluruh lini operasional. Ini juga tercermin dari peningkatan net profit margin (NPM) menjadi 5 persen pada kuartal I/2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 3,9 persen.
"Pencapaian saat ini berkat dukungan berkelanjutan dari para stakeholders. Terima kasih atas kepercayaan dan dedikasi seluruh pihak yang senantiasa mendampingi perjalanan Astra Agro. Mari terus memperkuat kolaborasi ini demi mewujudkan pertumbuhan yang saling membawa manfaat ke depan," ungkapnya.
Selain itu, kinerja perusahaan juga ditopang oleh peningkatan volume penjualan. Penjualan crude palm oil (CPO) dan produk turunannya naik 6,3 persen YoY, sementara penjualan kernel dan derivatifnya meningkat 9,8 persen YoY.
Perseroan memandang prospek harga CPO masih cukup positif sepanjang tahun ini, seiring dengan permintaan dan kebutuhan yang relatif stabil.
Namun demikian, perusahaan tetap mewaspadai sejumlah faktor eksternal, seperti kondisi cuaca dan usia tanaman, yang berpotensi mempengaruhi produksi.
Untuk menjaga kinerja hingga akhir tahun, Astra Agro menyiapkan strategi berbasis perencanaan matang dan alokasi biaya yang tepat sasaran, tanpa mengorbankan kualitas operasional. Langkah ini diambil guna mempertahankan daya saing biaya produksi, serta mengantisipasi volatilitas harga CPO dan dinamika geopolitik global.




Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026