
Dari Pomalaa ke Morowali, Vale rajut hilirisasi hijau dan kesejahteraan warga


Di tengah semarak perayaan Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Tenggara, sebuah stan di kawasan MTQ Kota Kendari menarik perhatian banyak pengunjung. Di depan stan itu, maskot anoa bernama “Kadoee” berdiri menyambut warga, seolah menjadi penanda bahwa di balik geliat industri, ada pesan kuat tentang pelestarian alam dan pembangunan yang berkelanjutan.
Stan milik PT Vale Indonesia Tbk itu tidak hanya menampilkan progres proyek hilirisasi nikel di Pomalaa, tetapi juga menghadirkan cerita tentang bagaimana industri, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan.
Momentum perayaan tingkat provinsi yang berlangsung pada 24–27 April 2026 itu dimanfaatkan perusahaan untuk memperlihatkan komitmennya terhadap agenda strategis nasional, khususnya penguatan hilirisasi mineral yang ramah lingkungan dan inklusif.
Manager External Relation PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, Hasmir, mengatakan pengembangan proyek Pomalaa dilakukan dengan standar operasional yang bertanggung jawab, mulai dari tahap konstruksi hingga nantinya memasuki masa operasional.
Menurut dia, perusahaan ingin memberi pemahaman kepada masyarakat bahwa hilirisasi nikel bukan hanya soal peningkatan nilai tambah industri, tetapi juga bagaimana proses tersebut tetap sejalan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.
Di dalam stan, pengunjung dapat melihat contoh bahan galian nikel sekaligus memperoleh penjelasan langsung mengenai proses hilirisasi yang sedang dikembangkan.
Namun, narasi yang dibangun PT Vale tidak berhenti pada sektor industri.
Di sisi lain stan, tersaji produk hasil Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang selama satu dekade terakhir dijalankan di wilayah Kolaka.
Mulai dari beras organik putih, merah, hingga hitam hasil binaan Asosiasi Petani Organik Kolaka (ASPOK), hingga aneka produk UMKM seperti keripik ubi kayu, dodol, abon, dan minuman herbal, seluruhnya menjadi cerminan upaya perusahaan dalam menggerakkan ekonomi rakyat di luar sektor tambang.
Saat ini, ASPOK menaungi 58 petani yang didampingi agar mampu mandiri dalam mengelola, memproduksi, hingga mendistribusikan beras organik berkualitas.
Kehadiran produk-produk tersebut memberi gambaran bahwa pertumbuhan ekonomi daerah dapat tumbuh dari banyak sektor, dengan industri sebagai penggerak dan masyarakat sebagai pelaku utama manfaatnya.
Jejak komitmen sosial perusahaan juga terlihat di wilayah lain Sulawesi, yakni Morowali, Sulawesi Tengah.
Di daerah yang tengah berkembang sebagai salah satu pusat industri nasional, PT Vale melalui Indonesia Growth Project (IGP) Morowali memilih menyentuh aspek yang paling dekat dengan kebutuhan dasar masyarakat, yakni layanan kesehatan.
Melalui Service Excellence Improvement Program, perusahaan menginisiasi program peningkatan mutu layanan bagi tenaga kesehatan dan staf Puskesmas Bahomotefe.
Berbeda dengan pelatihan konvensional yang biasanya berlangsung beberapa hari, program ini dirancang sebagai proses *capacity building* dan pendampingan berkelanjutan selama tiga bulan.
Dalam program tersebut, tenaga kesehatan dibekali penguatan komunikasi efektif dengan pasien, pengelolaan emosi dan empati, profesionalisme, hingga pengembangan sistem layanan yang lebih responsif, akuntabel, dan humanis.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Morowali, Jumiati, menyampaikan apresiasi atas inisiatif tersebut karena dinilai mampu mendorong perubahan pola pikir dalam pelayanan publik.
Menurut dia, keberlanjutan program menjadi nilai penting karena perubahan kualitas layanan tidak cukup dilakukan melalui pelatihan singkat, melainkan membutuhkan proses yang konsisten.
Sementara itu, Head of External Regional & Growth PT Vale, Endra Kusuma, menegaskan bahwa kesehatan masyarakat merupakan fondasi utama produktivitas.
Ia menilai keberhasilan operasional perusahaan tidak dapat dipisahkan dari kualitas hidup masyarakat yang berada di sekitar wilayah kerja.
Dari Pomalaa di Sulawesi Tenggara hingga Morowali di Sulawesi Tengah, langkah PT Vale memperlihatkan satu benang merah yang sama, yakni membangun industri yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang nyata.
Hilirisasi yang dibangun tidak semata berbicara soal nilai tambah nikel, melainkan juga tentang bagaimana ekonomi lokal bergerak, layanan publik meningkat, dan lingkungan tetap terjaga.
Di tengah arus industrialisasi yang terus menguat di Sulawesi, cerita dari dua wilayah ini menjadi gambaran bahwa pembangunan berkelanjutan bukan sekadar slogan, melainkan praktik yang mulai dirasakan langsung oleh masyarakat.
Pewarta : Rangga
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
