Logo Header Antaranews Sulteng

Menjahit kembali nadi perdagangan

Minggu, 3 Mei 2026 07:12 WIB
Image Print
Seorang pekerja melakukan proses revitalisasi di Pasar Tembok Dukuh, Kota Surabaya. (ANTARA-HO/Diskominfotik Surabaya)

Surabaya (ANTARA) - Seorang ibu pembeli berhenti sejenak di depan deretan lapak yang kini tertata rapi. Ia tak lagi harus mengangkat ujung celana untuk menghindari becek, atau menahan napas karena bau yang menyengat.

Langkahnya lebih ringan, pandangannya lebih leluasa. Di sekelilingnya, pedagang berdiri di tempat yang lebih layak, tak lagi menyebar hingga ke badan jalan. Perubahan itu terasa sederhana, tetapi diam-diam mengubah cara orang memandang pasar dari ruang yang ditoleransi menjadi ruang yang kembali dihargai.

Pemerintah Kota Surabaya, dalam beberapa tahun terakhir tampak semakin serius menggarap sektor ini. Tahun 2026 menjadi fase percepatan, dengan setidaknya sepuluh pasar ditargetkan dibenahi, lima di antaranya dikebut rampung pada pertengahan Mei. Pasar Tembok Dukuh, Pasar Kembang, Pasar Babakan Baru, Pasar Wonokromo, dan Pasar Simo Gunung menjadi titik awal dari upaya besar yang lebih sistematis.

Langkah ini tidak muncul tiba-tiba. Ia merupakan respons atas persoalan klasik pasar tradisional yang sudah lama mengendap seperti halnya infrastruktur buruk, tata kelola lemah, dan daya saing yang terus tergerus oleh pasar modern.


Benah fungsi

Revitalisasi pasar di Surabaya memperlihatkan satu pendekatan yang cukup jelas, yakni mengembalikan fungsi dasar pasar sebagai ruang transaksi yang layak. Fokus utamanya bukan pada estetika semata, tetapi pada hal-hal mendasar, seperti drainase, lantai, atap, hingga sirkulasi udara.

Kasus Pasar Tembok Dukuh menjadi contoh konkret. Sebelum dibenahi, pasar ini kerap tergenang akibat saluran air yang sempit dan posisi lantai yang lebih rendah dari jalan. Kondisi ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga mendorong munculnya pasar tumpah di badan jalan. Revitalisasi kemudian dilakukan dengan memperbaiki drainase, meninggikan lantai, serta menata ulang area pedagang.

Hasilnya tidak hanya terlihat secara fisik. Kapasitas pasar meningkat dari sekitar 135 stan menjadi 189 stan. Artinya, ada upaya nyata untuk mengakomodasi pedagang yang sebelumnya berada di luar sistem. Pendekatan ini penting, karena persoalan pasar tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembangunan fisik, tanpa memikirkan keberadaan pelaku ekonominya.

Di sisi lain, Pasar Babakan Baru dan Wonokromo menunjukkan arah baru dalam pengelolaan pasar berbasis standar kesehatan. Penataan sistem pemotongan unggas yang lebih higienis, bahkan dilengkapi instalasi pengolahan air limbah, menandai pergeseran paradigma. Pasar tidak lagi dilihat sebagai ruang informal yang serba longgar, tetapi sebagai bagian dari sistem perdagangan yang harus memenuhi regulasi.

Langkah ini selaras dengan kebijakan nasional yang mendorong pasar rakyat menjadi lebih bersih, tertata, dan berdaya saing. Namun, di balik itu semua, ada satu pertanyaan penting: apakah revitalisasi ini cukup untuk mengubah persepsi publik terhadap pasar tradisional?

Budaya pasar

Revitalisasi sering kali berhenti pada aspek fisik. Padahal, persoalan pasar tradisional jauh lebih kompleks. Ia menyangkut perilaku pedagang, kebiasaan konsumen, hingga sistem pengelolaan yang berkelanjutan.

Surabaya tampaknya mulai menyadari hal ini. Selain membenahi bangunan, pemerintah juga mendorong perubahan pola pikir pedagang. Penertiban jenis dagangan, penerapan standar operasional prosedur kebersihan, hingga dorongan menuju transaksi nontunai menjadi bagian dari transformasi yang lebih luas.

Pasar Kembang, misalnya, tidak hanya direvitalisasi secara fisik, tetapi juga diarahkan menjadi ekosistem perdagangan yang lebih modern, termasuk penggunaan sistem pembayaran digital. Ini menunjukkan bahwa revitalisasi tidak lagi sekadar proyek pembangunan, melainkan bagian dari strategi ekonomi.

Namun, tantangan terbesar justru terletak pada konsistensi. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pasar yang sudah dibenahi bisa kembali kumuh jika pengelolaannya lemah. Kebersihan yang tidak terjaga, pedagang yang kembali melanggar aturan, serta minimnya pengawasan dapat mengembalikan kondisi ke titik awal.

Selain itu, persoalan klasik, seperti keterbatasan anggaran juga tidak bisa diabaikan. Dari total puluhan pasar yang dikelola, hanya sebagian kecil yang bisa direvitalisasi setiap tahun. Artinya, dibutuhkan strategi prioritas yang tepat agar dampaknya benar-benar terasa.

Di sisi lain, ada pula potensi konflik yang perlu dikelola. Penataan ulang stan dan relokasi pedagang kerap menimbulkan kekhawatiran. Meski di Surabaya pendekatan dialog tampak cukup berhasil, proses ini tetap membutuhkan sensitivitas sosial yang tinggi.

Revitalisasi pasar, dengan demikian, bukan hanya soal membangun, tetapi juga merawat kepercayaan.


Nadi ekonomi

Di tengah ekspansi pusat perbelanjaan modern dan platform digital, pasar tradisional tetap memiliki posisi strategis. Ia bukan hanya tempat transaksi, tetapi juga ruang interaksi sosial dan simbol ekonomi kerakyatan.

Revitalisasi yang dilakukan Surabaya membuka peluang untuk menghidupkan kembali peran ini. Dengan infrastruktur yang lebih baik, pasar bisa menjadi ruang yang nyaman, sekaligus kompetitif. Bahkan, dalam jangka panjang, pasar dapat dikembangkan sebagai tujuan wisata lokal, seperti yang mulai dirintis di beberapa titik.

Agar dampaknya berkelanjutan, ada beberapa hal yang perlu diperkuat. Pertama, pengelolaan profesional. Perusahaan daerah sebagai pengelola harus mampu menjalankan pasar dengan standar layanan yang jelas, termasuk kebersihan, keamanan, dan kenyamanan.

Kedua, integrasi dengan sistem ekonomi digital. Pasar tradisional tidak bisa lagi berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan ekosistem yang lebih luas, termasuk distribusi barang dan sistem pembayaran.

Ketiga, pemberdayaan pedagang. Revitalisasi harus diiringi dengan peningkatan kapasitas pelaku usaha, mulai dari manajemen sederhana, hingga pemasaran.

Keempat, pengawasan berkelanjutan. Tanpa kontrol yang konsisten, perubahan yang sudah dicapai bisa dengan mudah hilang.

Revitalisasi pasar adalah tentang menjaga nyala ekonomi rakyat tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ia bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi investasi sosial yang menentukan arah kota.

Surabaya telah memulai langkah itu. Pertanyaannya, kini, sejauh mana konsistensi dapat dijaga, dan apakah pasar-pasar yang telah dibenahi benar-benar menjadi ruang yang hidup, bukan sekadar bangunan baru yang perlahan kembali menua. Di sanalah masa depan pasar tradisional dipertaruhkan.




Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026