Logo Header Antaranews Sulteng

Pemkab Donggala: Buku karya siswa SDN 25 Banawa tingkatkan literasi

Senin, 4 Mei 2026 09:14 WIB
Image Print
Guru pembina literasi SDN 25 Banawa Safrudin saat menyerahkan buku karya siswa kepada Bupati Donggala Vera Elena Laruni dan Kepala Dinas Pendidikan setempat di Sojol, Kabupaten Donggala, Sulteng. ANTARA/HO-Pemkab Donggala

Donggala (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah (Sulteng) mengapresiasi siswa di SDN 25 Banawa yang berhasil mempublikasikan buku berjudul Jejak Kasih Ayah dan Ibu, sehingga dapat meningkatkan literasi di daerah tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Donggala Ansyar Sutiadi mengatakan kegiatan yang dilakukan peserta didik di Banawa tersebut dapat meningkatkan budaya literasi sejak dini.

"Tentunya ini menjadi bukti bahwa anak-anak di Donggala memiliki potensi besar jika diarahkan dengan baik. Literasi tidak hanya soal membaca, tetapi juga bagaimana siswa mampu menuangkan ide, gagasan, dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan," kata Ansyar saat dihubungi awak media di Banawa, Senin.

Ia mengemukakan langkah tersebut dapat menjadi contoh nyata bahwa penguatan literasi di sekolah dapat diwujudkan melalui karya nyata siswa.

Menurut dia, program literasi di SDN 25 Banawa bisa direplikasi pada sekolah lainnya di Kabupaten Donggala, sehingga gerakan literasi tidak hanya menjadi program formal, tetapi benar-benar hidup dalam aktivitas belajar siswa sehari-hari.

"Pemerintah daerah akan memfasilitasi sekolah dalam mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis literasi," ucapnya.

Sementara itu guru pembina literasi SDN 25 Banawa menyebutkan buku Jejak ayah dan ibu tersebut merupakan kumpulan narasi menyentuh yang ditulis oleh 35 siswa-siswi kelas 5.

"Jadi karya ini bukan sekadar tugas sekolah, melainkan hasil dari proses pembimbingan intensif dalam program menulis cerita yang dijalankan di SDN 25 Banawa," kata Safrudin.

Ia menuturkan hadirnya buku karya siswa SDN 25 Banawa berasal dari visi sekolah yang ingin menghidupkan semangat literasi secara konkret.

"Hadirnya buku ini berkat dukungan Kepala Sekolah yang mengarahkan agar dilakukan program peningkatan literasi bagi para siswa. Salah satu langkah nyata yang kami ambil adalah dengan melakukan pembimbingan menulis cerita," sebutnya.

Safrudin menjelaskan bahwa mengajarkan literasi kepada anak-anak tidak boleh hanya sebatas mengajak mereka membaca buku tetapi harus diberi ruang untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka dalam bentuk karya yang bisa dinikmati orang lain.

"Kami ingin membiasakan para siswa dengan aktivitas-aktivitas literasi secara nyata, jadi tidak hanya kami ajak membaca, tapi kami mengajak mereka untuk membuat karya secara langsung. Melalui buku ini, mereka belajar bahwa suara dan cerita mereka punya nilai," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026