Logo Header Antaranews Sulteng

Distribusi sapi Sulteng melonjak signifikan jelang Idul Adha

Selasa, 12 Mei 2026 21:44 WIB
Image Print
Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Barantin Sulawesi Tengah Ahmad Mansuri Alfian memberikan keterangan terkait kekarantinaan. (ANTARA/Moh Izfaldi)

Palu (ANTARA) - Balai Karantina Indonesia (Barantin) mengatakan distribusi ternak sapi asal Sulawesi Tengah (Sulteng) mengalami lonjakan signifikan untuk pengiriman ke luar daerah menjelang hari raya Idul Adha 1447 Hijriah/2026.

"Ternak sapi asal Sulteng di kirim ke Pulau Kalimantan dan telah melalui serangkaian pemeriksaan oleh kami," kata Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sulawesi Tengah Ahmad Mansuri Alfian di Palu, Selasa.

Ia mengemukakan distribusi ternak sapi jelang Idul Adha naik 10 kali lipat dibandingkan bulan-bulan biasa yang hanya berkisar 100 ekor per bulan.

Tingginya permintaan ternak menjelang hari besar keagamaan membuat pengawasan lalu lintas hewan diperketat, terutama di pelabuhan yang menjadi titik keluar-masuk distribusi antardaerah.

Pihaknya mewajibkan seluruh ternak yang akan dilalulintaskan menjalani tindakan karantina di instalasi karantina hewan, berupa kandang observasi maksimal tiga hari.

“Ketika ada ternak yang akan di kirim keluar daerah maka dilakukan tindakan karantina, guna memastikan hewan ternak dalam kondisi sehat dan bebas dari penyakit menular," ujarnya.

Ia menjelaskan kesehatan hewan menjadi prioritas, termasuk vaksin penyakit mulut dan kuku (PMK), karena tujuan perdagangan hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan pasokan daging di suatu wilayah, selain memperoleh keuntungan dari kegiatan bisnis.

"Sebelum daging hewan ternak di konsumsi masyarakat, kami harus memastikan kelayakan. Itu sebabnya karantina menjadi syarat yang wajib," ucapnya.

Alfian mengatakan pada proses karantina, petugas melakukan pengujian laboratorium terhadap sapi untuk mendeteksi penyakit menular seperti PMK, bruselosis, dan trypanosoma sebelum ternak diberangkatkan ke daerah tujuan.

“Khusus ternak sapi harus vaksin PMK dua kali kemudian dilakukan uji laboratorium PMK, bruselosis dan trypanosoma sebelum dilalulintaskan," tuturnya.

Selama pengawasan periode April hingga Mei 2026 Barantin menemukan tiga ekor sapi asal Sulteng dinyatakan positif bruselosis dan satu ekor sapi lainnya terindikasi positif penyakit kumonoma berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

Guna mencegah penyebaran penyakit hewan, pihak karantina mengambil tindakan pemotongan bersyarat terhadap ternak yang terpapar penyakit di rumah potong hewan (RPH) sesuai ketentuan yang berlaku.

Langkah itu dilakukan guna menjaga keamanan lalu lintas ternak antardaerah, sekaligus melindungi kesehatan masyarakat dan populasi ternak di wilayah tujuan distribusi.

"Pengawasan ketat terus dilakukan selama menjelang Idul Adha, karena Sulawesi Tengah menjadi salah satu daerah pemasok ternak sapi untuk wilayah Kalimantan," kata dia lagi.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026