Jangan takut miskin jadi petani

id kakao

Ilustrasi (antara)

Cerita tentang petani miskin di negara yang terkenal kaya dengan sumber daya alam (SDA) ini sudah lumrah terdengar di sudut-sudut kampung atau desa, namun sebaliknya cerita tentang kesuksesan petani sejahtera masih dapat dihitung jari.

Kondisi inilah yang menjadi motivasi bagi warga Desa Tarengge, Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur bernama Masnawati untuk mengubah pandangan petani identik miskin.

Terlahir dari kalangan keluarga sederhana, perempuan belia ini pun terus berupaya untuk mengubah pandangan petani pada umumnya bahwa kemiskinan terstruktur ada di kalangan petani, artinya jika neneknya petani miskin, maka hingga anak cucunya juga bernasib serupa.

"Sebenarnya sejak memasuki bangku SMP sudah mencari sekolah yang menjurus ke pertanian, namun belum ada. Nanti setelah masuk ke jenjang SMA baru bisa masuk ke SMK Pertanian," kata anak ke-5 dari tujuh bersaudara ini.

 Alasan masuk SMK Pertanian, karena dia penasaran ingin mengetahui seluk-beluk pertanian agar dapat membantu orang tua mengembangkan tanaman kakao yang sudah dikembangkan turun-temurun.

Selepas lulus SMK Pertanian, niat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tertunda, karena alasan biaya.

Masnawati lalu un memutar otak untuk mengumpulkan biaya untuk persiapan mendaftar ke perguruan tinggi tahun berikutnya.

Untuk itu, dia pun ingin mengembangkan ilmunya yang di dapat di bangku SMK Pertanian. Dengan modal hasil berkongsi dengan empat teman SMK-nya, dia mengembangkan pembibitan tanaman kakao dengan modal Rp2,5.

"Pengetahuan usaha pembibitan kakao ini seperti teknik sambung samping atau sambung pucuk didapatkan pada masa praktek kerja lapang (PKL) di perusahaan kakao PT MARS," kata Masnawati.

Setelah bibit tanaman kakao terjual, biaya operasionalpun dikeluarkan dan laba kemudian dibagi bersama.

Namun dari lima orang perkongsian ini, hanya Masnawati yang melanjutkan usaha ini, sementara keempat temannya beralih mencari pekerjaan baru dan ada juga yang melanjutkan pendidikan.

Dia pun melanjutkan usaha pembibitan meskipun seorang diri tanpa teman-temannya lagi. Setiap hari berada di antara bibit tanaman kakao yang memberinya inspirasi untuk mengembangkan usahanya lebih besar lagi.

Dia melihat peluang cukup besar usaha ini karena permintaan bibit tanaman kakao yang relatif stabil misalnya permintaan dari dari Malili, Soroako di Sulsel hingga sejumlah daerah di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Merawat tanaman dengan menyiram, menyemprot hama dan membuat sambung samping maupun sambung pucuk, sudah menjadi rutinitas Masnawati di halaman samping rumahnya yang telah disulap menjadi lahan pembibitan sejak 2017.

Meskipun baru berjalan kurang lebih setahun usahanya itu, Masnawati sudah mampu mengembangkan 20 ribu batang bibit tanaman kakao per tahun dan hasil penjualannya mencapai Rp100 juta.

Dari nilai jual bibit tanaman kakao itu, terdapat laba bersih sebesar Rp60 juta setelah mengeluarkan biaya operasional sekitar Rp40 juta.

Dengan pendapatan ini, dia mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari, merenovasi rumah orang tua dan membantu biaya sekolah adik-adiknya, termasuk menyelesaikan kuliahnya di Politeknik Pertanian Universitas Hasanuddin.

"Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa usaha saya ini perlahan-lahan dapat mengangkat perekonomian keluarga kami," katanya dengan mata nanar.

Hasil yang diperoleh dari kerja keras itu, tidak membuat dia berpuas diri, justru menjadi penyemangat untuk terus belajar  mengembangkan usaha pembibitannya itu dengan rajin mendatangi penyuluh dari PT MARS, ikut seminar dan lokakarya yang membahas tentang pertanian, sekaligus berbagi ilmu dan pengalaman dengan petani-petani dari daerah lainnya.

Tentu semua itu, menjadikan Masnawati semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha yang dirintisnya dengan memanfaatkan lahan orang tua sekitar satu hektare.

           

Jadi Petani

Misnawati sebelumnya pernah ingin menjadi menjadi pegawai negeri sebagaimana harapan pada umumnya anak-anak di desanya, namun setelah mengenal lebih dekat seluk-beluk pertanian, cita-cita itu pun berganti untuk menjadi petani agar bisa menularkan ilmu dan keterampilan yang dimilikinya agar petani lainnya juga dapat menikmati usahanya.

Dia ingin membuktikan bahwa menjadi hasil petani tidak kalah dengan gaji pegawai pemerintah bahkan dapat melampauinya.

Menurut dia, menjalani profsi sebagai petani sangat menyenangkan, karena dapat mengatur waktu sendiri alias tidak terikat jam kerja seperti pegawai kantoran.

Di sela-sela waktu luang merawat bibit tanaman, dia dapat menggunakan waktu untuk urusan keluarga ataupun menjadi penyuluh atau pendamping petani dalam mengembangkan usahanya.

Dia meyakinkan kepada sesama petani bahwa menjadi petani sebagai pilihan hidup itu tidak perlu berkecil hati sebab petani dapat menjanjikan kesejahteraan agar bersungguh-sungguh menekuninya.

"Jadi tidak ada alasan takut menjadi petani karena takut menjadi miskin," tandasnya.

Tidak hanya membudi daya bibit, dia juga melihat peluang pendapatan lain dari usaha ini yakni pupuk kompos dari daun kakao.

Petani yang mengembangkan pembibitan atau pun tanaman kakao dapat memanfaatkan limbah daun kakao sebagai salah satu bahan pupuk kompos, selain juga menggabung bahan-bahan sampah organik lainnya.

Apabila ini juga dapat dikelola dengan baik, tentu akan menjadi sumber pendapatan tambahan, karena pupuk kompos rata-rata dijual Rp5 ribu per kilogram.

Dengan demikian, kata Masnawati, apabila mengelola sektor pertanian dengan baik dan tekun, maka petani bisa hidup sejahtera, sehingga bayang-bayang petani miskin tidak ada lagi.

    ***3***
Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar