
Implementasi SLIN Hadapi Dua Masalah Pelik

SLIN adalah sebuah konsep strategis dalam siklus bisnis perikanan yang diharapkan mampu mendorong industrialisasi di sektor perikanan, menopang ketahanan pangan nasional serta mensejahterakan nelayan."
Palu (antarasulteng.com) - Kementerian Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk melakukan uji coba implementasi konsep Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) mulai 2013. Lokasi yang dipilih sebagai pilot project uji coba tersebut adalah Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Kendari, Sulawesi Tenggara.
PPN Kendari dipilih karena elemen-elemen dasar yang dibutuhkan untuk menerapkan sistem ini sudah tersedia lebih memadai dibanding lokasi lain di Indonesia. Elemen-elemen tersebut menyangkut kelembagaan baik di tingkat nelayan penangkap maupun pengumpul, unit pengolahan ikan (UPI), distributor, pemasar dan pengecer serta ketersediaan sarana dan prasarana seperti gudang pendingin, pabrik es dan transportasi.
"Kita tinggal menyentuh sedikit saja seperti membangun `cold storage` dan penyediaan sarana transportasi, maka sistem ini diharapkan sudah bisa `running` akhir 2013 nanti," kata Direktur Pemasaran Dalam Negeri Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (PH2P) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sadillah Muhdi.
Jenis ikan yang akan ditangani adalah layang, kembung, sardine serta tuna, tongkol dan cakalang. Sedang unsur pendukungnya adalah pelabuhan perikanan, usaha kapal transport, asosiasi pelaku, dan perbankan.
Kementerian KP mengalokasikan anggaran sebesar Rp150 miliar untuk membiayai berbagai kegiatan persiapan implementasi konsep SLIN mulai dari diskusi grup terfokus (focus group discussion), sampai pembangunan sarana dan prasarana serta fasilitas yang dibutuhkan.
SLIN adalah sebuah konsep strategis dalam siklus bisnis perikanan yang diharapkan mampu mendorong industrialisasi di sektor perikanan, menopang ketahanan pangan nasional serta mensejahterakan nelayan.
Implementasi sistem ini diproyeksikan mampu memberikan jaminan-jaminan bagi pelaku bisnis di sektor ini, mulai dari hulu yakni para penangkap ikan, distributor sampai ke hilir yakni konsumen baik pasar tradisional/pengecer, pasar modern dan industri perikanan.
Jaminan dimaksud adalah berupa kecukupan stok ikan dan harga yang relatif stabil tanpa dipengaruhi oleh musim apakah sedang paceklik atau lagi puncak panen.
"Masalahnya selama ini adalah saat puncak panen, nelayan di sektor hulu kesulitan memasarkan ikan sehingga harganya jatuh, namun pada saat paceklik, konsumen (di hilir), kesulitan memperoleh ikan dan harga pun selangit sehingga tidak kondusif bagi industrialisasi sektor perikanan," ujar Muhdi.
Konsep SLIN akan mengembangkan sistim penyanggaan yang baik dimana saat puncak panen akan menampung ikan sebanyak-banyaknya dan membeli dengan harga yang disepakati bersama sehingga pelaku di hulu tidak dirugikan.
Namun ketika musim paceklik, stok tersebut di lepas ke pasar sehingga konsumen tetap mendapat suplai secara kontinyu dengan harga yang tidak terlalu melambung dan merupakan kesepakatan bersama.
Dua kendala pokok
Dalam diskusi kelompok terfokus (focus group discussion) membahas implementasi di Palu baru-baru ini, terkuak adanya dua kendala pokok yang menghadang rencana implementasi sistem ini yakni terkait masalah produksi dan harga.
Dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki nelayan baik soal sarana penangkapan (kapal dan alat tangkap) serta ketersediaan es balok dan ketersediaan bahan bakar minyak yang sering langka, ternyata tidak ada yang bisa menjamin akan ada kesinambungan produksi ikan sekalipun dalam musim puncak panen.
"Kalau potensi ikan di laut masih banyak sekali pak, tapi kami tidak bisa menangkap banyak karena kapal terbatas, es batu langka dan bahan bakar sering habis atau hilang," ujar Effendy, seorang nelayan tangkap dari Donggala dalam diskusi yang dipimpin Sadillah Muhdi itu.
Ia mengungkapkan bahwa akibat kelangkaan es balok, nelayan beberapa kali terpaksa membuang ikan kelaut karena busuk.
Kelangkaan es balok tersebut memberikan dampak besar terhadap penghasilan nelayan karena harga ikan akan rendah dan produksi tidak bisa maksimal.
Menurut Effendy, akibat kelangkaan es balok, mereka menangkap ikan sesuai ketersediaan es saja.
"Ya paling dua tiga ton sudah berhenti sekalipun sebenarnya bisa menangkap sampai enam atau tujuh ton di musim puncak panen," katanya.
Effendy mengemukakan bahwa pendapatan nelayan tidak bisa maksimal karena selalu terjepit.
"Kita maunya tangkap banyak-banyak tapi es tidak ada. Kalau dipaksakan ikan akan busuk sehingga harganya rendah atau bisa-bisa dibuang ke laut," ujar Effendy lagi yang dibenarkan H. Zakir, nelayan dari Tolitoli.
Bahkan Zakir mengaku terpaksa memarkir sembilan buah kapal penangkap ikan miliknya yang rata-rata bertonase 3 GRT karena sulit mendapatkan es balok.
Kepala UPT Pelabuhan Perikanan Dinas KP Sulteng Agus Sudarianto mengakui ketidakmampuan pabrik es balok melayani permintaan nelayan.
Suplai es balok dari pabrik di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala dan beberapa pabrik milik swasta d Kota Palu dan Donggala setiap hari hanya sekitar 1.000 balok tiap hari, padahal saat musim panen, keutuhan nelayan mencapai 2.000 balok.
Harga ikan
Kendala lain yang dihadapi dalam implementasi SLIN adalah soal harga di setiap tingkatan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng Hasanuddin Atjo mengemukakan bahwa pihaknya sudah melakukan kajian mengenai harga ikan sebelum dan sesudah SLIN diterapkan.
Ia menyebutkan, pada saat musim puncak panen ikan, harga ikan di tingkat nelayan (di tempat pendaratan ikan) hanya Rp4.000,00/kg, distributor Rp8.000,00/kg dan pengecer Rp10.000,00/kg, sementara pada saat paceklik, harga di nelayan Rp12.000,00/kg, distributor Rp14.000,00/kg dan pengecer Rp20.000,00/kg.
Perbedaan harga antara musim panen dan paceklik itu terlalu tinggi dan kurang sehat dalam siklus bisnis perikanan, sehingga kehadiran SLIN diharapkan akan memperkecil gap tersebut.
Bila SLIN beroperasi, harga ikan di tingkat nelayan diharapkan Rp6.500,00/kg, distributor Rp8.500,00/kg dan pengecer Rp10.000,00/kg pada saat puncak panen sedangkan saat paceklik harga di tinkat nelayan Rp10.000,00/kg, distributor Rp12.000,00/kg dan pengecer Rp.14.000,00/kg.
Sementara itu gudang penyangga (buffer stok) yang akan berlokasi di salah satu pelabuhan akan menjual dengan harga Rp7.000,00/kg saat puncak musim dan ketika paceklik menjual Rp11.000,00/kg.
Ketika Sadullah Muhdi bertanya kepada para nelayan yang hadir dalam diskusi itu apakah bisa menerima harga Rp6.500,00/kg di musim puncak panen dan Rp10.000,00/kg saat paceklik setelah SLIN diterapkan, tidak ada suara yang muncul dari para pelaut tersebut.
Apakah karena hitung-hitungan itu belum dimengerti nelayan ataukah karena tidak setuju terhadap hasil kajian itu, entahlah. Yang jelas untuk mencapai kesepakatan soal harga antara seluruh pelaku bisnis dalam sebuah lingkaran implementasi SLIN, bukanlah hal yang mudah.
Padahal salah satu tolok ukur keberhasilan implementasi SLIN adalah suplai ikan terjamin jumlah dan kalitasnya tanpa terpengaruh musim panen ikan serta harganya tidak mengalami fluktuasi yang ekstrim seperti selama ini terjadi. (R007)
Pewarta :
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
