
Sulteng Tetap Antisipasi Penyakit Anthrax

Palu, (Antarasulteng.com) - Dinas Peternakan Sulawesi Tengah tetap mengantisipasi munculnya penyakit anthrax yang menyerang ternak besar, sekalipun hingga kini belum pernah lagi menyerang sapi, domba, kuda, babi, kambing dan kerbau di daerah setempat.
Dahulu sekitar 1950-an anthrax memang pernah menyerang ternak sapi di Sulteng, namun setelah 1960 sampai 2013 ini belum pernah ditemukan lagi penyakit itu, kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Kantor Dinas Peternakan Sulteng Greesje Kuhu di Palu, Jumat.
"Tapi bukan berarti Sulteng sudah bebas dari penyakit anthrax. Kami tetap perlu waspada karena Sulteng berbatasan langsung dengan Sulsel yang merupakan daerah rawan anthrax," katanya.
Sulsel merupakan daerah yang hingga kini rawan penyakit tersebut, jelasnya.
Karena berbatasan langsung dengan daerah itu, makanya Pemprov Sulteng tetap memberikan perhatian serius terhadap kemungkinan masuknya anthrax ke Sulteng.
Guna mengantisipasi agar penyakit yang menyerang ternak besar itu tidak sampai meluas ke wilayan Sulteng, jalur masuk lewat darat dan laut diperketat penjagaannya.
Semua pintu masuk di perbatasan Sulsel dengan Sulteng dan Sulteng dengan Sulbar diawasi ketat petugas. "Pengawasan tetap ditingkatkan," kata Greesje.
Ia mengatakan bahwa semua ternak yang berasal dari Sulsel maupun Sulbar untuk diperdagangkan ke Palu atau daerah lainnya di Sulteng harus dilengkapi dokumen resmi dari Dinas Kesehatan setempat.
"Jika tidak dilengkapi dokumen, petugas langsung menahan untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut," ujarnya.
Ciri-ciri penyakit anthrax (radang limpha) pada ternak sapi dan ternak besar lainnya adalah awalnya demam, gelisah, lemah, paha gemetar dan nafsu makan hilang.
Berikutnya, keluar darah pada dubur, mulut, hidung dan terjadi pembengkakan di daerah leher dan dada ternak.(BK03)
Pewarta : Oleh Anas Masa
Editor:
Anas Masa
COPYRIGHT © ANTARA 2026
