Sultra Target Roduksi Kakao Fermentasi 50.000 Ton
Senin, 7 Oktober 2013 15:06 WIB
Kendari, (Antarasulteng.com) - Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menargetkan produksi biji kakao fermentasi yang dihasilkan petani mencapai 50.000 ton.
Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Bambang, di Kendari, Senin, mengatakan jumlah itu masih sangat terbatas jika dibanding dengan jumlah produksi kakao gelondongan di daerah itu yang setiap tahunnya bisa mencapai 151.000 ton per tahun.
"Kalau kita melihat antara rasio produksi kakao di Sultra per tahun dengan produksi kakao fermentasi oleh petani masih sangat jauh dari harapan," katanya.
Pemerintah katanya, sudah berupaya maksimal merubah paradigma berpikir petani yang selama ini hanya menjual biji kakao gelondongan untuk melakukan fermentasi biji kakao.
Upaya itu katanya, dilakukan dengan membentuk lembaga ekonomi masyarakat sejahtera yang dibekali dengan pemahaman keterampilan dan jaminan pasar.
"Kami akui bukan hal mudah merubah pemikiran petani yang selama ini selalu berpikir instan, ingin cepat dalam menghasilkan kakao kering dan menjualnya, kemudian kita harus mengarahkan mereka menambah cara pengeringan melalui fermentasi biji kakao yang prosesnya membutuhkan waktu sekitar empat hari," ujarnya.
Bambang berharap, kedepan Sultra bisa menjadi salah satu daerah penyumbang terbesar produk biji kakao fermentasi di Indonesia untuk kebutuhan bahan baku industri kakao.
Beberapa daerah di Sultra yang merupakan sentra produksi biji kakao adalah Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka Timur, Bombana, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Muna.
Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, Bambang, di Kendari, Senin, mengatakan jumlah itu masih sangat terbatas jika dibanding dengan jumlah produksi kakao gelondongan di daerah itu yang setiap tahunnya bisa mencapai 151.000 ton per tahun.
"Kalau kita melihat antara rasio produksi kakao di Sultra per tahun dengan produksi kakao fermentasi oleh petani masih sangat jauh dari harapan," katanya.
Pemerintah katanya, sudah berupaya maksimal merubah paradigma berpikir petani yang selama ini hanya menjual biji kakao gelondongan untuk melakukan fermentasi biji kakao.
Upaya itu katanya, dilakukan dengan membentuk lembaga ekonomi masyarakat sejahtera yang dibekali dengan pemahaman keterampilan dan jaminan pasar.
"Kami akui bukan hal mudah merubah pemikiran petani yang selama ini selalu berpikir instan, ingin cepat dalam menghasilkan kakao kering dan menjualnya, kemudian kita harus mengarahkan mereka menambah cara pengeringan melalui fermentasi biji kakao yang prosesnya membutuhkan waktu sekitar empat hari," ujarnya.
Bambang berharap, kedepan Sultra bisa menjadi salah satu daerah penyumbang terbesar produk biji kakao fermentasi di Indonesia untuk kebutuhan bahan baku industri kakao.
Beberapa daerah di Sultra yang merupakan sentra produksi biji kakao adalah Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara, Kolaka Timur, Bombana, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Muna.
Pewarta : Suparman
Editor : Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Astra Agro dan CPOPC dorong petani sawit mandiri terapkan praktik berkelanjutan
28 April 2026 11:45 WIB
Terpopuler - Ekonomi Keuangan
Lihat Juga
Pasokan beras di Palu masih lancar meskipun belum puncak panen padi
23 February 2020 18:36 WIB, 2020
SKK Migas bantu kapal ikan untuk nelayan Donggala, JOB-Tomori sumbang 3 kapal
21 February 2020 11:54 WIB, 2020
Citra Nuansa Elok investasikan Rp325 miliar bangun kembali Mall Tatura
21 February 2020 0:08 WIB, 2020
Presiden Jokowi ingin promosikan nikel Indonesia dalam Hanover Messe Jerman
17 February 2020 17:29 WIB, 2020