Mengedukasi peserta SMN di Rumah Tenun Ikat Donggala
Minggu, 19 Agustus 2018 18:12 WIB
Sejumlah pelajar peserta program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) asal Bangka Belitung melihat pembuatan Kain Tenun Donggala pada salah satu industri tenun rumah tangga di Kelurahan Watusampu, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (18/8). (ANTARA FOTO/MOHAMAD HAMZAH)
Palu (Antaranews Sulteng) - Mengenal dan belajar menenun kain tenun Donggala menjadi agenda terakhir 23 siswa asal Provinsi Bangka Belintung yang mengikuti kegiatan Siswa Mengenal Nusantara (SMN) di Sulawesi Tengah.
Di tempat usaha kain tenun Donggala milik Hj. Rahmawaty di Kelurahan Watusampu , Kecamatan Ulujadi , Kota Palu, Sabtu, peserta SMN asal Babel itu mendapat penjelasan singkat mengenai kain tenun ikat Donggala.
Hj. Rahmawaty menjelaskan banwa kain tenun Donggala merupakan kain khas di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu. Kain tenun Donggala juga digunakan sebagai bahan baku utama pakaian adat khas suku Kaili, suku asli Kota Palu .
"Lama pembuatan satu kain tenun Donggala ini sampai 3 hari karena ditenun manual dengan tangan. Proses lainnya yakni dicelupkan dalam cairan dan kain tersebut akan awet dan tahan lama namun prosesnya bisa sampai satu minggu," kata Hj. Rahmawaty di depan peserta SMN Babel..
Peserta SMN Babel yang dibawa ke dalam tempat pembuatan kain tenun Donggala yang berada di belakang rumahnya, Hj. Rahmawaty mengatakan usaha tersebut sudah ia mulai sejak tahun 1984.
Awalnya Hj. Rahmawaty saat itu hanya memiliki satu alat tenun. Modal awal yang ia punya berasal dari upah yang ia terima saat bekerja di salah satu toko milik orang Arab di Kota Palu.
"Uang itu yang saya pakai untuk beli bahan baku kain tenun Donggala. Saat ini saya sudah memiliki tujuh alat tenun dan tujuh karyawan," ucap Hj. Rahmawaty kepada peserta SMN.
Saat ini kain tenun Donggala yang dibuat di tempat usaha milk Hj. Rahmawaty telah dijadikan sebagai oleh-oleh khas Kota Palu yang wajib menjadi buah tangan para wisatawan yang berkunjung .
Pemerintah Kota Palu yang sekarang , lanjut Hj. Rahmawaty juga mendukung penuh usaha yang dirintisnya dengan memberikan berbagai bantuan untuk mendongkrak produksi kain tenun Donggala di tempatnya .
"Satu lembar kain tenun Donggala harganya Rp750 ribu. Benang yang kita pakai itu, satu bantalannya saja harganya Rp4 juta,"jelas Hj. Rahmawaty.
Baca juga: Pantai Tanjung Karang Donggala dikagumi siswa peserta SMN
Baca juga: Peserta SMN : warga Sigi ramah dan baik
Peserta SMN Babel Fengki Saputra merasa bersyukur mendapat kesempatan untuk bisa melihat - lihat tempat pembuatan kain khas di Kota Palu itu.
Ia mengatakan banyak pelajaran dan manfaat berharga yang ia peroleh setelah dikenalkan dan diajarkan secara singkat proses pembuatan kain tenun Donggala.
"Kainnya tenun Donggalanya sangat tradisional. Kami juga jadi tahu bagaimana tata cara pembuatannya dan alat - alay yang dipakai untuk membuat kain tenun Donggala ,"ujar siswa kelas 11 Jurusan IPS di SMA Setia Budi Sungai Liat, Desa Air Tenggiling, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka itu.
Sejumlah Pelajar peserta program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) asal Bangka Belitung saat mengunjungi tempat pembuatan Kain Tenun Donggala pada salah satu industri tenun rumah tangga di Kelurahan Watusampu, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (18/8). Dalam kunjungan itu, peserta SMN diajak untuk mengenal dan belajar cara menenun salah satu kain khas asal Sulawesi Tengah tersebut dan diajak untuk melestarikan keberadaan kain khas nusantara. (Antaranews Sulteng/Mohamad Hamzah/18.
Di tempat usaha kain tenun Donggala milik Hj. Rahmawaty di Kelurahan Watusampu , Kecamatan Ulujadi , Kota Palu, Sabtu, peserta SMN asal Babel itu mendapat penjelasan singkat mengenai kain tenun ikat Donggala.
Hj. Rahmawaty menjelaskan banwa kain tenun Donggala merupakan kain khas di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu. Kain tenun Donggala juga digunakan sebagai bahan baku utama pakaian adat khas suku Kaili, suku asli Kota Palu .
"Lama pembuatan satu kain tenun Donggala ini sampai 3 hari karena ditenun manual dengan tangan. Proses lainnya yakni dicelupkan dalam cairan dan kain tersebut akan awet dan tahan lama namun prosesnya bisa sampai satu minggu," kata Hj. Rahmawaty di depan peserta SMN Babel..
Peserta SMN Babel yang dibawa ke dalam tempat pembuatan kain tenun Donggala yang berada di belakang rumahnya, Hj. Rahmawaty mengatakan usaha tersebut sudah ia mulai sejak tahun 1984.
Awalnya Hj. Rahmawaty saat itu hanya memiliki satu alat tenun. Modal awal yang ia punya berasal dari upah yang ia terima saat bekerja di salah satu toko milik orang Arab di Kota Palu.
"Uang itu yang saya pakai untuk beli bahan baku kain tenun Donggala. Saat ini saya sudah memiliki tujuh alat tenun dan tujuh karyawan," ucap Hj. Rahmawaty kepada peserta SMN.
Saat ini kain tenun Donggala yang dibuat di tempat usaha milk Hj. Rahmawaty telah dijadikan sebagai oleh-oleh khas Kota Palu yang wajib menjadi buah tangan para wisatawan yang berkunjung .
Pemerintah Kota Palu yang sekarang , lanjut Hj. Rahmawaty juga mendukung penuh usaha yang dirintisnya dengan memberikan berbagai bantuan untuk mendongkrak produksi kain tenun Donggala di tempatnya .
"Satu lembar kain tenun Donggala harganya Rp750 ribu. Benang yang kita pakai itu, satu bantalannya saja harganya Rp4 juta,"jelas Hj. Rahmawaty.
Baca juga: Pantai Tanjung Karang Donggala dikagumi siswa peserta SMN
Baca juga: Peserta SMN : warga Sigi ramah dan baik
Peserta SMN Babel Fengki Saputra merasa bersyukur mendapat kesempatan untuk bisa melihat - lihat tempat pembuatan kain khas di Kota Palu itu.
Ia mengatakan banyak pelajaran dan manfaat berharga yang ia peroleh setelah dikenalkan dan diajarkan secara singkat proses pembuatan kain tenun Donggala.
"Kainnya tenun Donggalanya sangat tradisional. Kami juga jadi tahu bagaimana tata cara pembuatannya dan alat - alay yang dipakai untuk membuat kain tenun Donggala ,"ujar siswa kelas 11 Jurusan IPS di SMA Setia Budi Sungai Liat, Desa Air Tenggiling, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka itu.
Sejumlah Pelajar peserta program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) asal Bangka Belitung saat mengunjungi tempat pembuatan Kain Tenun Donggala pada salah satu industri tenun rumah tangga di Kelurahan Watusampu, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (18/8). Dalam kunjungan itu, peserta SMN diajak untuk mengenal dan belajar cara menenun salah satu kain khas asal Sulawesi Tengah tersebut dan diajak untuk melestarikan keberadaan kain khas nusantara. (Antaranews Sulteng/Mohamad Hamzah/18.
Pewarta : Muh. Arsyandi
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
DPRD Palu libatkan masyarakat dalam penyusunan Raperda pelestarian batik dan tenun lokal
17 October 2025 14:48 WIB
366 helai batik jadi koleksi museum antropologi terbesar di Austria
28 September 2024 15:14 WIB, 2024
Pemilihan Putra-Putri Batik Nusantara digelar untuk cari duta promosi
21 August 2024 11:00 WIB, 2024
Terpopuler - Sulteng
Lihat Juga
200-an kontraktor proyek Pemprov Sulteng belum ikutkan karyawannya ke BPJamsostek
21 February 2020 11:49 WIB, 2020
Hanura rekomendasikan Hadianto-Reni berpasangan di Pilkada Kota Palu
21 February 2020 0:05 WIB, 2020