Petani Sigi Mulai Panen Bawang
Senin, 10 Juni 2013 7:44 WIB
seorang petani sedang panen bawang merah (Foto : ANTARA/Arief Priyono)
Palu, (Antarsulteng.com) - Petani di sejumlah desa di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, saat ini mulai memasuki masa panen raya bawang.
"Bawang merah yang dikembangkan di daerah itu terdiri dua jenis yaitu bawang sayur, juga bahan bawang goreng," kata Sulasri, seorang petani di Dusun Bolupountu, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Senin.
Dia mengaku selama beberapa bulan sebelumnya, petani sama sekali tidak bisa menanam karena kesulitan air.
Akan tetapi, katanya, setelah mendapat pasokan air, petani kembali mengolah lahan untuk menanam berbagai jenis tanaman, seperti jagung, cabai, tomat, dan bawang.
Selama dua pekan terakhir ini, katanya, petani setempat sedang panen.
Hal senada juga disampaikan Suban, seorang petani di Desa Jonoge, Kecamatan Biromaru.
Ia mengatakan selain panen bawang, juga semangka, mentimun, dan cabai.
Saat ini, katanya, pasokan air sudah normal sehingga petani tidak lagi kesulitan dan bisa menggarap lahan pertanian.
Selama hampir empat bulan, petani tidak bisa menggarap lahan pertanian karena saluran irigasi Gumbasa dalam perbaikan.
Akan tetapi, hampir dua bulan terakhir irigasi sudah kembali berfungsi sehingga petani tidak lagi kesulitan air untuk memenuhi kebutuhan pertanian.
Jonoge, Sidera, dan Bolupountu selama ini merupakan daerah pengembangan komoditas hortikultura karena tanah cocok untuk tanaman tersebut.
Sebagian dari hasil produksi petani dikirim antarpulau ke Gorontalo, Manado, dan Kalimatan Timur.
Selain itu, dipasarkan di pasar-pasar tradisional di Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.
Harga bawang untuk kebutuhan industri bawang goreng di tingkat petani saat ini Rp30 ribu per kilogram dan bawang sayur Rp25 ribu per kilogram. (BK03)
"Bawang merah yang dikembangkan di daerah itu terdiri dua jenis yaitu bawang sayur, juga bahan bawang goreng," kata Sulasri, seorang petani di Dusun Bolupountu, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi, Senin.
Dia mengaku selama beberapa bulan sebelumnya, petani sama sekali tidak bisa menanam karena kesulitan air.
Akan tetapi, katanya, setelah mendapat pasokan air, petani kembali mengolah lahan untuk menanam berbagai jenis tanaman, seperti jagung, cabai, tomat, dan bawang.
Selama dua pekan terakhir ini, katanya, petani setempat sedang panen.
Hal senada juga disampaikan Suban, seorang petani di Desa Jonoge, Kecamatan Biromaru.
Ia mengatakan selain panen bawang, juga semangka, mentimun, dan cabai.
Saat ini, katanya, pasokan air sudah normal sehingga petani tidak lagi kesulitan dan bisa menggarap lahan pertanian.
Selama hampir empat bulan, petani tidak bisa menggarap lahan pertanian karena saluran irigasi Gumbasa dalam perbaikan.
Akan tetapi, hampir dua bulan terakhir irigasi sudah kembali berfungsi sehingga petani tidak lagi kesulitan air untuk memenuhi kebutuhan pertanian.
Jonoge, Sidera, dan Bolupountu selama ini merupakan daerah pengembangan komoditas hortikultura karena tanah cocok untuk tanaman tersebut.
Sebagian dari hasil produksi petani dikirim antarpulau ke Gorontalo, Manado, dan Kalimatan Timur.
Selain itu, dipasarkan di pasar-pasar tradisional di Kota Palu, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah.
Harga bawang untuk kebutuhan industri bawang goreng di tingkat petani saat ini Rp30 ribu per kilogram dan bawang sayur Rp25 ribu per kilogram. (BK03)
Pewarta : Oleh Anas Masa
Editor : Anas Masa
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Ekonomi Keuangan
Lihat Juga
Pasokan beras di Palu masih lancar meskipun belum puncak panen padi
23 February 2020 18:36 WIB, 2020
SKK Migas bantu kapal ikan untuk nelayan Donggala, JOB-Tomori sumbang 3 kapal
21 February 2020 11:54 WIB, 2020
Citra Nuansa Elok investasikan Rp325 miliar bangun kembali Mall Tatura
21 February 2020 0:08 WIB, 2020
Presiden Jokowi ingin promosikan nikel Indonesia dalam Hanover Messe Jerman
17 February 2020 17:29 WIB, 2020