Sulteng Proyek Percontohan SLIN 2015

id SLIN, DKP

Kadis KP Sulteng Hasanuddin Atjo memaparkan konsep SLIN dihadapan para akademisi Universitas Tadulako Palu dalam diskusi berthema 'revolusi protein hewani' di Media Center Kampus Untad Palu, Jumat (9/1). (antarasulteng.com/rolex malaha}

(SLIN) merupakan salah satu kegiatan strategis di sektor KP yang dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.
Palu (antarasulteng.com) - Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menetapkan Sulawesi Tengah sebagai daerah percontohan implementasi Sistem Logistik Ikan Nasional (SLIN) pada 2015 ini.

"Anggarannya sudah ada, tinggal melaksanakannya," kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng DR Ir Hasanuddin Atjo, MP saat dihubungi di Palu, Selasa.

Ia tidak merinci nominal anggaran implementasi SLIN tersebut, namun mengatakan bahwa dana itu akan digunakan untuk membangun sarana dan fasilitas pendukung SLIN di dua pelabuhan perikanan Sulteng yang akan menjadi lokasi SLIN.

Kedua pelabuhan tersebut adalah Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Ogotua, Kabupaten Tolitoli dan Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala, Kabupaten Donggala.

KKP akan membangun pabrik es balok, gudang pembekuan ikan (air blast freezer-ABF), gudang pendinginan (cold storage), penyediaan listrik yang memadai serta sarana angkutan hasil produksi.

"PPI Donggala sudah punya ABF dan cold storage, tetapi akan diperluas supaya kapasitasnya lebih besar," ujarnya.

Menurut Atjo, Sulteng dipilih sebagai proyek percontohan karena daerah ini telah memiliki perencanaan yang mendetail dan telah melalui kajian yang melibatkan akademisi, pelaku usaha sektor perikanan, birokrat dan para nelayan, dan disusun sejak 2011.

Ia menjelaskan bahwa (SLIN) merupakan salah satu kegiatan strategis di sektor KP yang dinilai mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional.

Menurut dia, pengembangan SLIN berbasis di pelabuhan perikanan. Manfaat utamanya adalah fungsi stabilisasi stok dan harga. Di saat musim ikan, maka ikan yang berlebih dapat dibekukan dan disimpan di gudang penyimpanan sebagai stok untuk disuplai ke pasar atau industri saat musim paceklik tiba.

Dengan demikian sistem ini akan berdampak terhadap stabilitas harga di tingkat nelayan maupun konsumen dan sekaligus dapat menekan laju inflasi serta membuka peluang pengembangan industri olahan.

Selama ini, katanya, saat paceklik ikan, harga ikan jenis tongkol dan layang bisa melonjak sampai Rp18.000/kg, sehingga merugikan konsumen dan menghambat pasokan ke pasar dan industri, sedangkan di musim puncak, harga ikan merosot sampai Rp4.000/kg sehingga sangat merugikan nelayan dan membuat mereka enggan melaut.

"Bila SLIN berjalan, harga ikan bisa stabil di tingkat Rp10.000/kg sehingga suplai ikan ke pasar dan industri pengolahan akan selalu stabil, sehingga semua pihak diuntungkan," ujarnya.

Visi Gubernur Longki Djanggola adalah menjadikan Sulteng sejajar dengan provinsi maju di kawasan timur Indonesia dalam bidang agribisnis dan kelautan karena sebagian orang mengatakan bahwa sumberdaya ikan bagaikan "The Sleeping Giant" sebab Sulteng satu-satunya provinsi yang memiliki empat Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yaitu WPP-RI 713 di Selat Makassar; WPP-RI 714 di Teluk Tolo; WPP-RI 715 di Teluk Tomini; dan WPP-RI di Laut Sulawesi. (R007/Y008)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar