
Umat Islam Di Sulteng Shalat Sunnah Gerhana

Iya, umumnya pelaksanaan shalat gerhana memakai pandangan atau mazhab Syafi`i, yaitu terdapat qunut di dalam shalat sunnah dua rakaat tersebut
Palu, (antarasulteng.com) - Sebagian Umat Islam di Provinsi Sulawesi Tengah, melaksanakan shalat sunnah gerhana matahari sebagai bentuk pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan atas terjadinya fenomena alam gerhana matahari total, Rabu (9/3).
Shalat sunnah dua rakaat saat terjadi GMT dilaksanakan oleh umat Islam yang ada di Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, Poso, Donggala, Tojo UnauUna, Parigi Moutong dan Banggai.
Umumnya umat Islam di Sulawesi Tengah memakai pendapat Syafii dalam pelaksanaan shalat sunnah dua rakaat pada fenomena alam GMT.
"Iya, umumnya pelaksanaan shalat gerhana memakai pandangan atau mazhab Syafi`i, yaitu terdapat qunut di dalam shalat sunnah dua rakaat tersebut," kata Ketua MUI Kota Palu Zainal Abidin.
Kata dia, pelaksanaan shalat sunnah gerhana matahari, yang dilaksanakan saat bulan bulan mulai mendekat menutupi matahari secara perlahan-lahan, dilaksanakan dengan qunut pada rakaat terakhir sebelum sujud.
Bahkan, sebut dia, diakhir shalat dirangkaikan dengan khutbah berupa pesan-pesan kepada umat Islam tentang kekuasaan Tuhan, yang salah satunya merupakan GMT 9 Maret yang disaksikan oleh banyak orang.
Namun, akui dia, tidak menutup kemungkinan terdapat sehagian kalangan umat Islam di Sulawesi Tengah menggunakan pandangan Imam Abu Hanifah dan Malik yaitu tanpa menggunakan qunut pada rakaat terakhir.
"Tidak menjadi masalah jika ada yang melaksanakan shalat sunnah, namun tidak melaksanakan qunut. Hal itu karena ada dasar dan dalil yang kuat yang menjadi pegangan untuk melaksanakan," ujarnya.
Dirinya menegaskan perbedaan didalam pelaksanaan shalat Sunnah dua rakaat, jangan di perdebatkan dan di perbantah bantahkan oleh umat Islam yang menganut pendapat Syafii dan Abu Hanifah.
Yang terpenting, kata dia, fenomena alam GMT 9 Maret, harus dijadikan pelajaran bagi umat Islam untuk mengakui kekuasaan tuhan, yang dapat berdampak pada perilaku dalam kehidupan sehar- hari.
"Tidak perlu memperdebatkan mazhab, yang terpenting adalah mengambil hikmah dari adanya fenomena alam untuk dijadikan sebagai pelajaran yang kiranya memberikan dampak terhadap peningkatan keimanan dan ketaqwaan," ujarnya.
Pewarta : Muhammad Hajiji
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
