
Ujian Nasional Kini Tak Lagi Menakutkan

Jakarta (antarasulteng.com) - Ujian Nasional yang kerap menjadi momok di kalangan siswa, guru hingga orang tua, kini disambut tanpa kegaduhan berlebihan.
Kini, UN tak lagi serumit seperti beberapa tahun silam. Tolak ukurnya bukan lagi soal lulus dan tidak lulus, tetapi berada pada level sangat baik, baik, cukup, dan kurang.
Keputusan Mendikbud itu menjawab kontroversi seputar kelayakan UN jadi penentu kelulusan siswa, yang telah dikritik sejak zaman Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo.
Kemdikbud menyerahkan penilaian siswa secara menyeluruh ke sekolah. Dengan demikian, diharapkan Anies, siswa akan dapat melihat UN sebagai proses pembelajaran dan bukan semata-mata syarat kelulusan yang menakutkan. UN dalam hal ini menjadi alat ukur pemetaan pendidikan di Indonesia.
Anies meminta siswa jangan tegang menghadapi UN yang kini tidak lagi menentukan kelulusan.
Dorong UNBK
UN kini tidak lagi menjadi penentu kelulusan siswa namun persiapan tetap dilakukan sekolah, guru dan siswa untuk menghadapinya. Sekolah bersama dinas pendidikan menyelenggarakan latihan ujian (try out) satu bulan menjelang pelaksanaan UN, baik untuk sekolah yang telah menerapkan ujian nasional berbasis komputer (UNBK) maupun UN berbasis kertas. Sementara, siswa secara pribadi menambah jam latihan soal melalui bimbingan belajar.
Kepala Pusat Pendidikan (Kapuspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Nizam mengatakan sekolah pelaksanaan UNBK tahun 2016 ini mengalami peningkatan, jika tahun sebelumnya sebanyak 594 sekolah. Maka pada tahun 2016, menjadi sebanyak 4.402 sekolah atau sekitar 927.000 siswa.
Nizam mengatakan Kemdikbud terus mendorong semua sekolah di tanah Air untuk melaksanakan UNBK karena lebih efesien serta dapat meminimalisir bentuk kecurangan. Sekolah juga tak perlu harus mengadakan peralatan komputer, namun hanya menggunakan peralatan yang tersedia. Jika tak mencukupi, sekolah bisa menggunakan peralatan di sekolah lain yang tidak melaksanakan UN.
"Setiap tahun, kami membuat sekitar 170.000 soal untuk UNBK. Peserta UNBK juga akan kesulitan berbuat curang karena soal yang didapat para siswa bersifat acak. Sehingga siswa satu dan yang lain mengerjakan soal yang tidak sama.
Mengenai pengawas, pada UN berbasis kertas ada dua pengawas di setiap kelas, sedangkan untuk UNBK terdapat satu teknisi dan satu proktor yang memastikan siswa melaksanakan UNBK sesuai dengan prosedur.
Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta menargetkan peningkatan prestasi Ujian Nasional 2016 satu tingkat dibandingkan hasil UN 2015. "Kami menargetkan perbaikan prestasi dibandingkan tahun lalu. Untuk tingkat SMK tahun lalu menduduki peringkat dua se-DIY, sementara untuk SMA menduduki peringkat lima. Targetnya masing-masing meningkat satu peringkat."
Sukito mengatakan dalam upaya peningkatan prestasi, pihaknya melakukan pendampingan terhadap sekolah, terutama untuk anak yang belum tuntas, maka selain penambahan materi dari sekolah akan dilakukan pendampingan oleh guru mata pelajaran dan pengawas dari dinas. Harapannya prestasinya meningkat. "Dilihat dari try out nilainya meningkat di masing-masing sekolah."
Menurutnya, dari hasil evaluasi "try out" yang telah dilaksanakan baik untuk sekolah yang melaksanakan UN maupun UNBK hasilnya sudah cukup baik.
Pewarta : Zita Meirina
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
