Logo Header Antaranews Sulteng

Momentum industri furnitur dan permesinan kayu Indonesia

Selasa, 16 September 2025 09:27 WIB
Image Print
Industri furnitur dan permesinan kayu Indonesia sebenarnya sangat potensial karena punya kekuatan dari sisi bahan baku, tenaga kerja, dan pasar domestik. (ANTARA/HO-Traya)

Jakarta (ANTARA) - Industri furnitur dan permesinan kayu Indonesia sebenarnya sangat potensial karena punya kekuatan dari sisi bahan baku, tenaga kerja, dan pasar domestik.

Sayangnya segmen industri ini masih lemah dalam modernisasi teknologi, desain, dan daya saing global. Jika persoalan ini dijawab lewat inovasi, investasi, dan jejaring internasional, Indonesia bisa melampaui pesaing regional dan menjadi pusat furnitur serta industri kayu berkelanjutan di Asia.

Titik balik penting dalam penguatan industri furnitur dan permesinan kayu sepertinya sudah saatnya diciptakan dan diwujudkan sebagai salah satu upaya meningkatkan kinerja perekonomian bangsa ini.

Faktanya, dunia kini sedang bergerak cepat dengan tren keberlanjutan, eksplorasi material baru, hingga teknologi produksi yang semakin efisien.

Oleh karena itu, tantangan ini tidak bisa dihadapi dengan cara lama, melainkan melalui keterbukaan terhadap pengetahuan global dan jejaring yang luas.

Momentum ini, salah satunya bisa diwujudkan ketika Jakarta menjadi tuan rumah pameran internasional yang mempertemukan berbagai sektor, mulai dari furnitur, desain interior, perangkat keras, hingga permesinan kayu, yakni "Interzum jakarta, International Hardware Fair Indonesia", bersama IFMAC & WOODMAC pada 24–27 September 2025 di JIExpo Kemayoran.

Momentum ini akan memperlihatkan bagaimana Indonesia mampu menjadi titik temu penting bagi pelaku industri.

Dengan area pameran lebih dari 17 ribu meter persegi, kehadiran lebih dari 380 peserta dari berbagai negara, dan proyeksi 15 ribu pengunjung bisnis dari kawasan Asia Pasifik, pertemuan ini menghadirkan gambaran nyata tentang keterhubungan pasar Indonesia dengan arus global.

Data ini penting, bukan untuk menonjolkan besarnya acara, melainkan untuk menunjukkan skala kesempatan yang kini terbuka bagi industri di negeri ini.

Seperti dikatakan Mathias Kuepper, Managing Director & Vice President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd., platform semacam ini bukan hanya ruang transaksi, melainkan fondasi jangka panjang bagi pertumbuhan dan inovasi.

Di sinilah bisa dilihat peran krusial Indonesia. Negeri ini bukan lagi sekadar konsumen tren global, melainkan bagian dari percakapan itu sendiri.

Industri furnitur dan kayu Indonesia, dengan potensi bahan baku yang besar dan kreativitas desain yang berkembang, bisa memanfaatkan keterhubungan ini untuk mempercepat transformasi.

Menyerap pengetahuan

Bagi pelaku industri, peluang yang muncul bukan hanya soal menjual produk, tetapi juga soal menyerap pengetahuan. Kehadiran asosiasi, seperti American Hardwood Export Council, membawa perspektif baru tentang penggunaan kayu keras berkelanjutan.

Di sisi lain, perusahaan, seperti JOKARI GmbH & Co. KG, memperlihatkan bagaimana alat tangan inovatif mampu meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja.

Dari pertemuan semacam inilah, para produsen lokal dapat membandingkan, belajar, dan bahkan mengadaptasi teknologi sesuai konteks nasional.

Program-program yang melengkapi acara ini juga memperkaya pengalaman belajar. Diskusi tentang material sirkular, ruang hidup adaptif, hingga eksplorasi material alternatif menegaskan bahwa industri tidak lagi bicara satu dimensi.

Desain, teknologi, dan keberlanjutan kini saling terhubung. Bahkan, layanan business matching yang mempertemukan pelaku usaha lintas negara menunjukkan bahwa jejaring adalah aset penting di era ini.

Semua ini memberi ruang bagi industri di tanah air untuk melampaui sekadar produksi dan menuju inovasi.

Dukungan yang datang dari pemerintah dan berbagai asosiasi industri memperlihatkan bahwa penguatan furnitur dan permesinan kayu adalah agenda bersama.

Dari Kementerian Perindustrian, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Ekonomi Kreatif, hingga himpunan desainer dan asosiasi industri mesin, semuanya melihat ajang ini sebagai strategi untuk memperkuat daya saing.

Dukungan ini menjadi bukti bahwa negara memberi perhatian serius agar industri furnitur dan permesinan kayu tidak tertinggal dalam percaturan global.

Hal yang juga penting, dampak kegiatan semacam ini tidak berhenti pada pelaku industri besar. Dengan adanya acara internasional di Jakarta, lebih banyak pelaku UMKM mendapat kesempatan ikut terhubung.


Lebih inklusif

Biasanya, akses terhadap pameran global hanya dimiliki oleh perusahaan besar yang mampu hadir di luar negeri.

Kini, peluang itu ada di dalam negeri, lebih dekat dan lebih terjangkau. Efeknya bisa sangat besar karena UMKM adalah fondasi industri furnitur dan kayu tanah air. Dengan keterlibatan mereka, transformasi industri bisa menjadi lebih inklusif.

Selain nilai industri, ada pula efek ekonomi yang lebih luas. Ribuan pengunjung bisnis yang datang ke Jakarta memicu perputaran ekonomi di sektor lain, seperti hotel, transportasi, dan kuliner.

Kota ini menunjukkan kapasitasnya sebagai tuan rumah pertemuan global, sejajar dengan pusat industri regional lainnya.

Dampak semacam ini memperlihatkan bahwa penyelenggaraan acara internasional dapat menjadi bagian dari strategi ekonomi yang menyeluruh, bukan hanya untuk sektor tertentu.

Pada akhirnya, makna terbesar dari pameran ini bukan terletak pada jumlah peserta atau luas area, melainkan pada arah baru yang ditawarkannya.

Indonesia diperlihatkan sebagai ruang dialog dan kolaborasi, bukan hanya pasar. Industri furnitur dan permesinan kayu di tanah air didorong untuk tidak sekadar mengikuti, tetapi juga berkontribusi dalam menentukan arah masa depan.

Inilah yang membuat banyak pihak yakin bahwa akses langsung pada tren global, material baru, dan inovasi desain harus terus dimanfaatkan.

Melalui jejaring dan pertemuan seperti ini, pelaku industri Indonesia bisa bertransformasi, beradaptasi, dan memperkuat posisinya di tingkat internasional.

Momentum ini harus dijaga agar pelaku industri furnitur dan permesinan kayu lokal tidak hanya hadir sebagai penonton dalam perubahan industri global, melainkan menjadi pemain yang aktif, kreatif, dan berdaya saing tinggi.


*) Etty Anggraeni adalah Project Director PT Amara Pameran Internasional (Traya)





Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026