Logo Header Antaranews Sulteng

Puskespi: Integrasi subholding pertamina tingkatkan efisiensi

Kamis, 5 Februari 2026 16:21 WIB
Image Print
Direktur PUSKEPI Sofyano Zakaria (ANTARA/HO-Dokumentasi Pribadi)

Palu (ANTARA) - Langkah penggabungan atau merger antara PT Pertamina Patra Niaga, PT Pertamina International Shipping, dan PT Kilang Pertamina Internasional menjadi satu entitas usaha merupakan kebijakan korporasi yang patut diapresiasi.

Pengamat Kebijakan Energi Sofyano Zakaria mengatakan kebijakan tersebut dinilai sebagai strategi yang rasional, terukur, dan memiliki dasar kuat dalam upaya meningkatkan kinerja perusahaan secara menyeluruh, baik dari sisi operasional, efisiensi biaya, maupun perolehan laba.

Ia menilai bahwa langkah merger ini bukan sekadar penyederhanaan struktur organisasi, melainkan bagian dari transformasi bisnis yang selama ini memang dibutuhkan di tubuh Pertamina Group.

Menurut dia, selama ini terdapat pemisahan fungsi yang terlalu kaku antara lini pengolahan (kilang), pengangkutan (shipping), dan distribusi serta niaga (trading).

“Padahal, ketiga fungsi tersebut sejatinya merupakan satu rantai nilai (value chain) yang saling terkait dan sangat menentukan efisiensi biaya serta kecepatan pengambilan keputusan," kata Sofyano saat dihubungi di Palu, Kamis.

Ia menuturkan dengan bergabungnya ketiga entitas tersebut, koordinasi operasional akan menjadi jauh lebih efektif.

"Jadi untuk pengadaan, pengiriman, pengolahan, hingga distribusi produk BBM dan turunannya bisa berada dalam satu kendali manajemen yang terintegrasi, sehingga akan meminimalkan tumpang tindih kebijakan, mempercepat proses logistik, serta mengurangi biaya-biaya tidak perlu yang selama ini muncul akibat birokrasi antarperusahaan dalam satu grup yang sama," ucapnya.

Sofyano yang juga Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) menegaskan bahwa dari perspektif bisnis energi modern, integrasi seperti ini merupakan praktik yang lazim dilakukan oleh perusahaan-perusahaan minyak kelas dunia.

"Integrasi hulu ke hilir dalam satu sistem manajemen membuat perusahaan mampu mengendalikan biaya produksi, biaya transportasi, dan biaya distribusi secara lebih presisi. Dampaknya langsung terasa pada meningkatnya margin keuntungan dan daya saing perusahaan," sebutnya.

Ia menjelaskan bahwa potensi efisiensi dari merger ini sangat besar sebab selama ini masing-masing entitas memiliki struktur manajemen, sistem administrasi, sistem pengadaan, serta kebijakan operasional yang berdiri sendiri.

"Tentunya dengan penyatuan ini, banyak fungsi yang dapat disederhanakan tanpa mengurangi kualitas pelayanan. Efisiensi pada level manajemen dan operasional inilah yang nantinya akan menjadi sumber peningkatan kinerja keuangan perusahaan," kata dia.

Sofyano menilai bahwa keberhasilan merger ini tidak hanya ditentukan oleh kebijakan struktural semata, tetapi juga oleh kualitas kepemimpinan yang menjalankannya.

"Ke depan masyarakat pasti ingin mengetahui pula latar belakang, kompetensi, serta integritas para pengurus perusahaan yang ditunjuk, sebab kebijakan merger ini merupakan langkah bijak dan tepat dalam upaya memaksimalkan perolehan laba, meningkatkan kinerja perusahaan, serta menciptakan efisiensi yang signifikan di lingkungan Pertamina Group. Integrasi fungsi kilang, pelayaran, dan niaga dalam satu manajemen adalah strategi yang logis dan selaras dengan praktik bisnis energi global," ujarnya.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026