Logo Header Antaranews Sulteng

Kemendikdasmen targetkan pemulihan pendidikan pascabencana 3 tahun

Selasa, 3 Maret 2026 12:59 WIB
Image Print
Perwakilan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kemendikdasmen Jamjam Muzaki (kedua dari kiri) memaparkan materi terkait pemulihan layanan pendidikan pascabencana dalam acara Dialog Kebijakan Kemendikdasmen di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten pada Senin sore (2/3/2026). ANTARA/Hana Dewi Kinarina Kaban

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan pemulihan terhadap kondisi layanan pendidikan pascabencana banjir dan longsor di wilayah Provinsi Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat berlangsung dalam waktu 3 tahun.

“Mungkin kami target pemulihan ini sama dengan BNPB, 3 tahun,” kata Perwakilan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kemendikdasmen Jamjam Muzaki dalam acara Dialog Kebijakan Kemendikdasmen di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Selasa.

Di tahun ini, ia mengatakan yang diprioritaskan adalah pemulihan sarana dan prasarana pendidikan, yang akan didukung dengan penyesuaian kebijakan.

Guna membantu akses pendidikan secara darurat, ia menambahkan saat ini pihaknya sudah mendirikan tenda darurat untuk menjalankan layanan pendidikan.

Jamjam menyebutkan setidaknya sebanyak 168 tenda sudah disalurkan untuk mendukung pemulihan layanan pendidikan pascabencana secara bertahap.

"Kami sudah distribusi sekitar 168 tenda dan mungkin saat ini masih ada banyak sekolah yang ada di tenda gitu ya. Juga ada 44 sekolah yang kita bangunkan ruang kelas darurat jadi semi permanen untuk sementara sampai proses pemulihan berjalan," ujarnya.

Di samping itu, pihaknya juga terus berupaya untuk memulihkan akses menuju satuan pendidikan agar bisa pulih, mengingat masih adanya jembatan di Aceh Tengah yang belum tersambung sehingga membuat para guru harus menyeberangi sungai dengan tali untuk mengajar.

“Karena jembatan terputus atau misalkan jalannya kena longsor atau kebanjiran sehingga tidak bisa dilalui, siswa maupun guru tidak bisa ke sekolah. Ada kasus, misalkan di Aceh Tengah, mungkin sampai sekarang ada beberapa yang jembatannya belum pulih, guru-guru kita harus menyeberangi sungai dengan menggunakan sling gitu, jadi kayak tambang gitu, menggunakan sling saja,” imbuhnya.

Ia menambahkan pihaknya juga terus memberikan layanan pendampingan sosial kepada warga sekolah yang terdampak bencana alam tersebut.




Pewarta :
Editor: Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026