Logo Header Antaranews Sulteng

FKUB Sulteng bedah program Berani Berkah lewat ngopi kerukunan

Sabtu, 16 Mei 2026 06:27 WIB
Image Print
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid (kedua kanan) mengikuti kegiatan ngobrol pintar kerukunan yang diselenggarakan FKUB Sulteng di Palu, Jumat (15/5/2025). (ANTARA/HO-FKUB Sulteng)

Palu (ANTARA) - Forum Kerukunan Umat Beragama Sulawesi Tengah (FKUB Sulteng) membedah program pemerintah provinsi (pemprov) Sulteng diberi nama Berani Berkah lewat kegiatan ngobrol pintar (ngopi) kerukunan.

"Program Berani Berkah digagas Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid melalui gerakan Sulteng Mengaji dan Sulteng Berjamaah sejalan dengan misi moderasi beragama," kata Ketua FKUB Sulteng Prof Zainal Abidin dalam kegiatan ngopi kerukunan berlangsung di Palu, Jumat.

FKUB berkeinginan agama menjadi sumber perdamaian, karena agama hadir sebagai pedoman hidup bagi pemeluknya guna mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

"Tidak mungkin kita mewujudkan Sulteng Nambaso jika agama menjadi sumber pertikaian. Perdamaian dunia hanya bisa dicapai jika ada perdamaian antaragama," ujarnya.

Ia mengemukakan, kepercayaan dari setiap majelis agama adalah kunci agar gagasan toleransi yang diusung FKUB benar-benar menjadi milik bersama.

Karena agama seperti pedang bermata dua yang bisa menjadi sumber perdamaian, namun bisa juga menjadi sumber pertikaian.

"Maka program diusung Pemprov Sulteng Berani Berkah sangat bermanfaat untuk meningkatkan kecerdasan spiritual, sekaligus pengarahan dalam merawat keberagaman dalam konteks sosial keagamaan," ucap Zainal yang juga pakar pemikir Islam modern.

Menurut dia program Sulteng Mengaji tidak hanya membaca kitab suci secara harfiah, tetapi untuk mengkaji nilai-nilai yang ada dalam Al-Qur'an, termasuk sebagai basis moral bagi umat penganutnya, sementara kata berjamaah dimaknai sebagai bersatu dalam tujuan, meski caranya berbeda-beda.

"Visi besar kami menjadikan FKUB sebagai rumah besar bagi seluruh umat beragama. Moderasi beragama bersinergi dengan program Berani Berkah," kata dia.

Ia menjelaskan moderasi beragama bukan menggabungkan agama, tetapi cara beragama yang moderat menerima berbagai perbedaan dan saling menghargai satu sama lain.

Karena hidup berdampingan tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan, menjadi kekuatan besar dalam menjaga kesatuan dan persatuan bangsa, terlebih dalam mendukung pembangunan daerah.

"Tidak perlu memperdebatkan perbedaan, hidup berdampingan jauh lebih indah," kata dia menambahkan.

Sementara itu Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid mengemukakan, kemajuan suatu daerah sangat bergantung pada seberapa kuat nilai-nilai spiritual terinternalisasi dalam kehidupan masyarakat.

Ia merujuk pada pengalamannya memimpin Kabupaten Morowali, di mana penerapan nilai spiritual mampu membawa daerah menjadi lebih sejahtera.

"Semua sejarah pemerintahan hancur bukan karena kekuatannya lemah, tapi karena penerapan nilai-nilai spiritual ditinggalkan. Jika ingin rakyat sejahtera, nilai spiritual harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari," tuturnya.

Dialog kerukunan menghadirkan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Sulteng Junaidin, para tokoh lintas agama.



Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026