Pemkab Sigi diminta kembangkan usaha bata merah

id bata merah

Ilustrasi : Perajin memeriksa hasil pembakaran batu bata merah (FOTO ANTARA/Dedhez Anggara)

Sigi, Sulawesi Tengah,  (Antaranews Sulteng) - Pemerintah Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, diminta untuk mengembangkan usaha batu bata merah sebagai salah satu upaya penghasilan masyarakat di sebagian wilayah kabupaten itu.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Sulteng Muhammad Masykur mengemukakan di Sigi, Sabtu, mayoritas warga di Desa Kabbobona Kecamatan Dolo dan beberapa kecamatan lainnya di Sigi, menyandarkan hidup pada aktivitas pembuatan batu bata merah untuk usaha ekonomi keluarga.

"Sekitar 80 persen kurang lebih dari laki-laki, perempuan bahkan anak-anak usia sekolahan ambil bagian dan peran dalam aktivitas pembuatan bahan dasar bangunan ini," ungkap Muhammad Masykur.

Kata Masykur, menurut warga faktor utama usaha batu bata merah menjadi tumpuan usaha rumah tangga warga karena, kadar tanah liat di desa itu cukup tinggi dibanding desa-desa lainnya di Kabupaten Sigi.

Menurut pengakuan warga, diperkirakan setiap bulannya produksi batu bata merah mencapai 15.000 batu, dengan harga jual Rp.350-500/buah. Hal unik dari usaha kerajinan batu bata merah di kecamatan itu yakni tidak ada standar harga.

Menurut dia, dibutuhkan sentuhan Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi untuk memberi jaminan kelangsungan usaha kerajinan batu bata merah. "Dengan cara memutus mata rantai penghubung antara penjual dan pembeli," katanya.

Dia mengatakan, kerap kali penghubung ambil untung sepihak dalam transaksi menghubungkan antara pembeli dan pembeli dan penyedia bahan baku.

Salah satu peran pemda diharapkan memerintahkan kepada pihak kontraktor pembangunan membeli batu bata merah di wilayah dimana mereka sedang melaksanakan pembangunan dengan harga yang lebih layak, sesuai standar ketetapan pemda.

"Bukan mengambil barang di tempat lain karena lebih murah. Paling tidak ini jadi salah satu cara yang dapat dilakukan sebagai wujud kepedulian dan penghargaan atas pelaku usaha kerajinan batu bata merah," kata Masykur.

Sementara itu, Ancas, seorang perajin batu bata merah mengakui bahwa persaingan harga dengan menempatkan nilai terendah menjadi salah satu faktor berkembangnya usaha itu.

"Syukur-syukur jika harga bisa mencapai Rp500 per satu batu bata merah. Tapi itupun jarang terjadi. Karena kadangkala kalau ada pesanan pembeli yang datang sudah sepakat dengan harga tapi tiba-tiba beralih mengambil barang ditempat lain, karena harga Rp400-Rp450," kata Ancas.

Ancas menuturkan, kondisi seperti itu sering terjadi karena desakan kebutuhan hidup sehingga dijual dengan harga seperti itu. Pembeli dipastikan lebih memilih harga rendah, sekalipun awalnya sudah sepakat dengan penyedia bahan baku lain dengan harga sedikit tinggi.

"Jadi terkadang kalau seperti itu situasinya syukur-syukur kalau ada untung. Rata-rata kembali pokok, bahkan selalu tidak kembali modal. Sehingga mau tidak mau dibutuhkan sentuhan pemerintah untuk memberi jaminan kelangsungan usaha kerajinan batu bata merah," katanya.

Desa Kabobona Kecamatan Dolo Kabupaten Sigi merupakan salah penghasilan batu bata merah terbesar di Lembah Palu. Sekitar era tahun 1960-an daerah ini sudah memproduksi bahan dasar bangunan jenis batu bata merah.

Orang tua pertama sebagai penggagas utama pembuatan batu bata merah di desa Kabobona digelari sebagai "guru gente".

Selain di Desa Kabobona, "guru gente" juga membuat batu bata merah di daerah sekitaran Jalan Anoa, yang dikenal dengan nama Batu Bata Indah. Dari "guru gente" inilah tradisi profesi sebagai perajin batu bata merah diwariskan secara turun temurun di Desa Kabobona.  
Pewarta :
Editor: Sukardi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar