Kemenkominfo dukung konsolidasi operator seluler demi kompetisi sehat
Sabtu, 9 September 2023 7:46 WIB
Foto dokumen: Teknisi melakukan pengecekan salah satu perangkat Base Transceiver Station (BTS) operator seluler XL Axiata, Makassar, Sulawesi Selatan (12/6/2018). . ANTARA FOTO/Dewi Fajriani/nz/18
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) menyatakan mendukung upaya-upaya konsolidasi operator seluler di Indonesia demi menciptakan kompetisi usaha yang lebih sehat.
Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kemenkominfo Usman Kansong mengatakan jika diperlukan bahkan pihaknya siap berperan sebagai perantara.
"Ya begitu istilahnya kami 'mak comblangnya'. Kami ingin mengurangi kompetisi dan ingin meningkatkan kolaborasi supaya industrinya sehat. Kemenkominfo dalam hal ini memfasilitasi bahkan mendorong. Tapi kembali lagi keputusan ada di industri," ujar Usman saat ditemui di Jakarta, Jumat.
Menurut Usman, terkait dengan situasi persaingan bisnis operator seluler saat ini masih belum terlalu sehat, praktik menghadirkan jaringan internet dengan "banting harga" masih sering terjadi.
Namun dengan cara kerja tersebut, kenyataannya internet yang diberikan kepada masyarakat kerap belum optimal dan justru masih jauh dari standar kompetisi di negara-negara lain.
Maka dari itu, Usman berpendapat konsolidasi perusahaan-perusahaan operator seluler di Indonesia bisa menjadi solusi baik untuk meningkatkan layanan internet bagi masyarakat.
Lebih lanjut, ia mengatakan baru-baru ini ada dua operator seluler yang bertemu dengan Menkominfo Budi Arie Setiadi untuk membahas dukungan peningkatan layanan internet di Indonesia yaitu XL Axiata dan Smartfren.
Kepada keduanya Kemenkominfo pun menawarkan solusi tersebut dengan harapan dapat mendukung layanan industri telekomunikasi yang lebih baik bagi masyarakat.
"Ya sudah ada pembicaraan. Saya kira mereka masing-masing sudah bicara dengan Menkominfo. Yang saya tahu Smartfren sudah ketemu dengan Menkominfo. Pihak satunya lagi juga sudah ketemu," ujar Usman.
Sebelumnya, pada Selasa (5/9) Bloomberg melaporkan bahwa Axiata yang merupakan perusahaan telekomunikasi asal Malaysia berencana untuk melakukan merger dengan perusahaan telekomunikasi milik PT Sinar Mas Group di Indonesia yaitu Smartfren.
Menurut sumber yang tidak disebutkan namanya, Axiata dan Sinar Mas menggandeng konsultan untuk membantu mempertimbangkan potensi transaksi.
Opsi lainnya selain merger, keduanya mempertimbangkan perjanjian berbagi jaringan dan kemitraan lain.
Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Dirjen IKP) Kemenkominfo Usman Kansong mengatakan jika diperlukan bahkan pihaknya siap berperan sebagai perantara.
"Ya begitu istilahnya kami 'mak comblangnya'. Kami ingin mengurangi kompetisi dan ingin meningkatkan kolaborasi supaya industrinya sehat. Kemenkominfo dalam hal ini memfasilitasi bahkan mendorong. Tapi kembali lagi keputusan ada di industri," ujar Usman saat ditemui di Jakarta, Jumat.
Menurut Usman, terkait dengan situasi persaingan bisnis operator seluler saat ini masih belum terlalu sehat, praktik menghadirkan jaringan internet dengan "banting harga" masih sering terjadi.
Namun dengan cara kerja tersebut, kenyataannya internet yang diberikan kepada masyarakat kerap belum optimal dan justru masih jauh dari standar kompetisi di negara-negara lain.
Maka dari itu, Usman berpendapat konsolidasi perusahaan-perusahaan operator seluler di Indonesia bisa menjadi solusi baik untuk meningkatkan layanan internet bagi masyarakat.
Lebih lanjut, ia mengatakan baru-baru ini ada dua operator seluler yang bertemu dengan Menkominfo Budi Arie Setiadi untuk membahas dukungan peningkatan layanan internet di Indonesia yaitu XL Axiata dan Smartfren.
Kepada keduanya Kemenkominfo pun menawarkan solusi tersebut dengan harapan dapat mendukung layanan industri telekomunikasi yang lebih baik bagi masyarakat.
"Ya sudah ada pembicaraan. Saya kira mereka masing-masing sudah bicara dengan Menkominfo. Yang saya tahu Smartfren sudah ketemu dengan Menkominfo. Pihak satunya lagi juga sudah ketemu," ujar Usman.
Sebelumnya, pada Selasa (5/9) Bloomberg melaporkan bahwa Axiata yang merupakan perusahaan telekomunikasi asal Malaysia berencana untuk melakukan merger dengan perusahaan telekomunikasi milik PT Sinar Mas Group di Indonesia yaitu Smartfren.
Menurut sumber yang tidak disebutkan namanya, Axiata dan Sinar Mas menggandeng konsultan untuk membantu mempertimbangkan potensi transaksi.
Opsi lainnya selain merger, keduanya mempertimbangkan perjanjian berbagi jaringan dan kemitraan lain.
Pewarta : Livia Kristianti
Editor : Andilala
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Operator SPBUPondok Bambu langsung padamkan letupan api di dispenser
13 December 2024 10:58 WIB, 2024
Cerita Adisti Farani jadi operator alat berat di industri pertambangan
12 January 2024 21:12 WIB, 2024
Kemenkominfo menjelaskan mekanisme lindungi data pelanggan nomor seluler
20 September 2023 6:27 WIB, 2023
Menteri Sosial: Sebagian besar korban TPPO direkrut jadi operator judi daring
19 September 2023 7:10 WIB, 2023
Terpopuler - Pendidikan & Iptek
Lihat Juga
DSLNG latih guru penggerak Banggai kuasai pembelajaran berbasis kecerdasan buatan
28 January 2026 10:55 WIB
Rektor UIN Datokarama Palu perjuangkan hak generasi muda peroleh pendidikan
25 January 2026 18:45 WIB
Pemkab Poso perkuat sinergi dengan pusat untuk pengembangan pendidikan tinggi
16 January 2026 20:13 WIB