Palu (ANTARA) - Pemerintah Kota (Pemkot) Palu, Sulawesi Tengah, memperkuat ketahanan dan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi risiko bencana melalui penyusunan Indeks Ketahanan Daerah (IKD).
Wali Kota Palu Hadianto Rasyid di Palu, Rabu, mengatakan Kota Palu merupakan wilayah dengan potensi bencana tinggi dan memiliki pengalaman terdampak multiple disaster secara bersamaan.
“Karena itu diperlukan upaya berkelanjutan untuk memperkuat perencanaan berbasis risiko dan meningkatkan kapasitas masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya respons dan antisipasi yang berkelanjutan, mengingat Kota Palu merupakan wilayah dengan potensi bencana tinggi.
Untuk itu, lanjut dia, Pemkot Palu melakukan penyusunan IKD sebagai instrumen penting untuk mengukur kemampuan daerah dalam menghadapi risiko bencana, sekaligus memperkuat efektivitas kebijakan penanggulangan bencana.
Hadianto menjelaskan penyusunan IKD mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 101 Tahun 2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal Sub Urusan Bencana Daerah Kabupaten/Kota.
Perhitungan IKD mencakup tujuh fokus utama, yaitu penguatan kebijakan dan kelembagaan, pengkajian risiko dan perencanaan terpadu, sistem informasi dan pendidikan, penanganan kawasan rawan bencana, peningkatan efektivitas mitigasi, serta kesiapsiagaan dan penanganan darurat.
“Keberadaan IKD berfungsi sebagai alat ukur efektivitas pemerintah daerah, memfasilitasi penyusunan rencana aksi strategis, serta memberikan rekomendasi kebijakan bagi penguatan kapasitas daerah di masa depan,” ujarnya.
Ia berharap dokumen IKD yang disusun dapat menjadi acuan strategis dalam merespons potensi bencana di Kota Palu, serta memperkuat perencanaan penanggulangan bencana sejak tahap pra bencana, saat bencana, hingga pasca-bencana.
Dokumen ini, kata dia, juga diharapkan menjadi dasar bagi Indikator Kinerja Utama (IKU) kepala daerah, serta menjadi rekomendasi dalam penyusunan kajian risiko bencana yang lebih baik.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam upaya mitigasi bencana. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media, menjadi kunci dalam membangun sistem tangguh yang mampu mengurangi risiko serta mempercepat pemulihan pascabencana.
Hadoanto juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan dokumen tersebut.
“Semoga hasil kerja bersama ini menjadi instrumen pengambilan keputusan yang tepat dan membawa manfaat besar bagi upaya penanggulangan bencana di masa depan,” kata Wali Kota Palu Hadianto Rasyid.
