
Sekjen NATO kumpulkan hingga 22 negara, fokus amankan Selat Hormuz

Washington (ANTARA) - Sebanyak 22 negara, sebagian besar anggota NATO, telah berpartisipasi dalam merencanakan langkah keamanan masa depan di Selat Hormuz sejak Kamis (19/3), kata Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte, Minggu (22/3).
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa kredibilitas NATO semakin tergerus karena aliansi militer tersebut enggan membantu AS dalam membuka blokade pelayaran kapal di Selat Hormuz.
"Kabar baiknya adalah bahwa sejak Kamis, sebuah kelompok yang terdiri dari 22 negara, sebagian besar adalah anggota NATO telah berkumpul untuk memastikan Selat Hormuz bebas dan terbuka sedini mungkin," kata Rutte kepada FOX News.
Di samping negara-negara NATO, Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Uni Emirat Arab, dan Bahrain juga ikut serta dalam upaya tersebut, kata dia. Namun, Rutte tidak merinci seluruh negara mana saja yang siap mengambil langkah konkret tersebut.
"Jelas, operasi militer terkait Iran masih berlangsung. Karena itu, kami bekerja bersama negara-negara ini, dan tentu saja dengan AS, untuk mengetahui apa, kapan, dan bagaimana kami akan melakukannya," kata mantan PM Belanda itu.
Sebelumnya pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk Teheran, sehingga menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Sebagai tanggapan, Iran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Akibat ketegangan tersebut, lalu lintas perkapalan di Selat Hormuz, rute kunci untuk suplai minyak dan LPG dari kawasan Teluk ke pasar global, berhenti total.
Dampaknya, banyak negara mengalami kenaikan harga bahan bakar.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti
Pewarta : Nabil Ihsan
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
