Danrem Tadulako tegaskan aksi teroris MIT tidak mencerminkan Islam
Minggu, 29 November 2020 20:53 WIB
Danrem 132/Tadulako Brigjen Farid Makruf memberikan keterangan kepada sejumlah jurnalis di halaman rumah jabatan Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso di Kota Palu,Minggu (29/11). (ANTARA/HO-Penerangan Korem 132/Tadulako)
Palu (ANTARA) - Komandan Komando Resor Militer (Danrem) 132/Tadulako Brigadir Jenderal (TNI Farid Makruf menegaskan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang membantai satu keluarga di Dusun Torpedo, Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Jumat (27/11) sama sekali tidak mencerminkan perjuangan nilai-nilai Islam.
Ia menyatakan tidak ada satupun ajaran dalam agama Islam baik yang tertuang dalam kitab suci Alquran maupun hadis yang membenarkan aksi kelompok teroris yang mengatasnamakan MIT itu.
"Mereka tidak memperjuangkan pemahaman Islam. Tidak ada ajaran dalam agama Islam yang mengajarkan seperti apa yang kelompok MIT tersebut lakukan. Mereka hanya menamakan kelompoknya MIT,” kata Farid Makruf saat memberikan keterangan pers bersama Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso di Palu, Minggu.
Oleh sebab itu ia mengajak seluruh lapisan masyarakat Sulteng tanpa memandang agama, suku maupun ras saling membantu agar masalah kelompok teroris MIT segera tuntas dan tidak berlarut-larut.
"Tolong untuk masyarakat berhenti membantu kelompok MIT ini dengan menyediakan atau memberi bahan makanan dan memberikan informasi keberadaan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang sedang melaksanakan pengejaran," pesannya.
Selain itu, Farid juga menegaskan tidak ada gereja yang dibakar saat peristiwa itu terjadi mengingat informasi-informasi tidak benar atau hoaks yang terlanjur tersebar di media sosial menyebutkan demikian.
"Saya ingatkan agar tidak menyebarkan video atau kabar hoaks mengenai peristiwa itu karena sangat berpengaruh besar seperti dikabarkan ada Gereja yang dibakar padahal tidak benar. Ini berpotensi menimbulkan konflik SARA," ucapnya.
Farid menerangkan hingga kini aparat gabungan TNI dan Polri yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Tinombo masih terus melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut dan mengejar para pelaku pembantaian.
Satu keluarga di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulteng, dibantai oleh orang tak dikenal pada Jumat (27/11) sekitar pukul 09:00 WITA pagi.
Belakangan para pembunuh diketahui merupakan anggota kelompok teroris yang mengatasnamakan MIT pimpinan Ali Kalora yang kerap berkeliaran di pegunungan Kabupaten Poso.
Baca juga: Kepala Polda Sulteng tegas tidak ada gereja dibakar di Sigi
Baca juga: Satgas Sifi buru terduga pelaku kekerasan di Sigi
Baca juga: PSI Kutuk teror gereja dan jemaatnya di Sulteng
Baca juga: MUI Sulteng prihatin atas aksi pembantaian oleh terduga MIT di Sigi
Ia menyatakan tidak ada satupun ajaran dalam agama Islam baik yang tertuang dalam kitab suci Alquran maupun hadis yang membenarkan aksi kelompok teroris yang mengatasnamakan MIT itu.
"Mereka tidak memperjuangkan pemahaman Islam. Tidak ada ajaran dalam agama Islam yang mengajarkan seperti apa yang kelompok MIT tersebut lakukan. Mereka hanya menamakan kelompoknya MIT,” kata Farid Makruf saat memberikan keterangan pers bersama Kapolda Sulteng Irjen Abdul Rakhman Baso di Palu, Minggu.
Oleh sebab itu ia mengajak seluruh lapisan masyarakat Sulteng tanpa memandang agama, suku maupun ras saling membantu agar masalah kelompok teroris MIT segera tuntas dan tidak berlarut-larut.
"Tolong untuk masyarakat berhenti membantu kelompok MIT ini dengan menyediakan atau memberi bahan makanan dan memberikan informasi keberadaan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI)/Kepolisian Republik Indonesia (Polri) yang sedang melaksanakan pengejaran," pesannya.
Selain itu, Farid juga menegaskan tidak ada gereja yang dibakar saat peristiwa itu terjadi mengingat informasi-informasi tidak benar atau hoaks yang terlanjur tersebar di media sosial menyebutkan demikian.
"Saya ingatkan agar tidak menyebarkan video atau kabar hoaks mengenai peristiwa itu karena sangat berpengaruh besar seperti dikabarkan ada Gereja yang dibakar padahal tidak benar. Ini berpotensi menimbulkan konflik SARA," ucapnya.
Farid menerangkan hingga kini aparat gabungan TNI dan Polri yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Tinombo masih terus melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut dan mengejar para pelaku pembantaian.
Satu keluarga di Desa Lemba Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulteng, dibantai oleh orang tak dikenal pada Jumat (27/11) sekitar pukul 09:00 WITA pagi.
Belakangan para pembunuh diketahui merupakan anggota kelompok teroris yang mengatasnamakan MIT pimpinan Ali Kalora yang kerap berkeliaran di pegunungan Kabupaten Poso.
Baca juga: Kepala Polda Sulteng tegas tidak ada gereja dibakar di Sigi
Baca juga: Satgas Sifi buru terduga pelaku kekerasan di Sigi
Baca juga: PSI Kutuk teror gereja dan jemaatnya di Sulteng
Baca juga: MUI Sulteng prihatin atas aksi pembantaian oleh terduga MIT di Sigi
Pewarta : Muhammad Arshandi
Editor : Sukardi
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Danantara harus jadi alat negara mengembalikan saham BUMN ke pangkuan bangsa
06 February 2026 17:48 WIB
Lanal Palu libatkan lintas sektor bersihkan pantai di tiga titik di Donggala
06 February 2026 16:08 WIB
Program Alpukat atau anak lahir bawa pulang akta upaya tingkatkan pelayanan administrasi kependudukan
06 February 2026 14:28 WIB
Reses Alfian Chaniago, warga huntap di Kelurahan Tondo minta kepastian sertifikat
04 February 2026 18:38 WIB
Terpopuler - Seputar Sulteng
Lihat Juga
Bupati Parigi Moutong minta kepala desa data kebun warga terdampak karhutla
06 February 2026 21:12 WIB
Pemkab Parigi Moutong buka opsi minta bantuan helikopter padamkan karhutla
05 February 2026 19:45 WIB
BPBD salurkan air bersih bagi warga terdampak kekeringan di Parigi Moutong
05 February 2026 13:01 WIB
Reses Alfian Chaniago, warga huntap di Kelurahan Tondo minta kepastian sertifikat
04 February 2026 18:38 WIB