Gorontalo,  (antarasulteng.com) - Sejumlah pengrajin meubel rotan di Gorontalo mulai mengeluhkan pasokan dan harga bahan baku kayu rotan yang mahal dari pemasok.


Hendrik Ahmad, salah seorang pengrajin rotan di jalan HB Yasin, Kota Gorontalo mengatakan, akibat kenaikan harga bahan baku 

rotan besar dan rotan kecil untuk pengikat menyebabkan ia beserta beberapa pengrajin lainnya harus 

memutar otak lebih keras lagi untuk memangkas biaya produksi.


Bahan baku rotan masih sedikit mahal dan belum mengalami penurunan, untuk bahan baku rotan  dihargai Rp8500/kilogram untuk rotan besar.


"Kemudian untuk rotan kecil yang biasa digunakan untuk 

pengikat, dihargai Rp250ribu/ikat isi seratus ujung rotan," katanya.


Menurut Hendrik, harga rotan mengalami kenaikan saat harga bahan bakar minyak (BBM) naik pada 

tahun 2015, hingga saat ini, harga BBM telah mengalami penurunan, namun harga rotan tidak terpengaruh.


"Dulu saat BBM naik, harga rotan naik dengan alasan biaya angkutan rotan yang naik, namun 

saat BBM turun, harga rotan tidak ikut turun dan tetap bertahan pada harga tersebut," ungkap Hendrik.


Sementara itu, Ato, pengrajin rotan lainnya, berharap harga rotan dapat turun, dan pemerintah daerah dapat menciptakan pasar bagi penjualan produk kerajinan rotan.


"Selain berharap harga bahan baku rotan dapat turun, saya juga berharap pemerintah dapat 

memberikan solusi agar kita pengrajin rotan dapat memiliki pasar yang lebih luas lagi untuk 

menjual produk dari rotan,"tutupnya.