Arcandra bicara keekonomian energi terbarukan dan fakta lain energi fosil
Senin, 31 Juli 2017 7:33 WIB
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Archandra Tahar (ANTARA/M Agung Rajasa)
Jakarta (antarasulteng.com) - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menyatakan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) adalah keharusan namun harus mempertimbangkan unsur keekonomian agar pemanfaatannya tidak membebani masyarakat.
"Renewable energy adalah keharusan bukan lagi pilihan apakah kita memilih fosil atau renewable energy. Yang terpenting adalah keekonomiannya. Jangan sampai kita mengembangkan sesuatu tapi yang kita kembangkan mahal sekali," kata Arcandra pada halal bihalal Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Minggu.
Ia menjelaskan ada beberapa program kerjasama bidang EBT antara Balitbang Kementerian ESDM dan UPN yang sudah berjalan, yakni pengembangan biofuel dari kemiri sunan dan shorghum.
Sifat energi fosil bukan termasuk energi yang habis, namun tak bisa diproduksi lagi.
"Seandainya cadangan terbukti minyak kita 3,6 miliar barel dengan tingkat produksi 800 ribu per hari dan konstan, itu dalam waktu 12 tahun lagi akan habis. Itu yang harus kita ubah, yang benar adalah bukan habis, tetapi tidak bisa memproduksikan minyak," kata Arcandra.
Ia memaparkan energi fosil tidak habis karena belum ada teknologi yang bisa menguras minyak hingga di bawah perut bumi sampai 100 persen.
Teknologi yang ada saat ini baru mengeksplorasi paling banyak 40-50 persen minyak yang ada sehingga masih sekitar 60 persen minyak di bawah perut bumi.
Ia menganggap kondisi ini adalah tantangan bagi hadirnya teknologi baru yang bisa mengambil cadangan minyak itu.(skd)
"Renewable energy adalah keharusan bukan lagi pilihan apakah kita memilih fosil atau renewable energy. Yang terpenting adalah keekonomiannya. Jangan sampai kita mengembangkan sesuatu tapi yang kita kembangkan mahal sekali," kata Arcandra pada halal bihalal Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Minggu.
Ia menjelaskan ada beberapa program kerjasama bidang EBT antara Balitbang Kementerian ESDM dan UPN yang sudah berjalan, yakni pengembangan biofuel dari kemiri sunan dan shorghum.
Sifat energi fosil bukan termasuk energi yang habis, namun tak bisa diproduksi lagi.
"Seandainya cadangan terbukti minyak kita 3,6 miliar barel dengan tingkat produksi 800 ribu per hari dan konstan, itu dalam waktu 12 tahun lagi akan habis. Itu yang harus kita ubah, yang benar adalah bukan habis, tetapi tidak bisa memproduksikan minyak," kata Arcandra.
Ia memaparkan energi fosil tidak habis karena belum ada teknologi yang bisa menguras minyak hingga di bawah perut bumi sampai 100 persen.
Teknologi yang ada saat ini baru mengeksplorasi paling banyak 40-50 persen minyak yang ada sehingga masih sekitar 60 persen minyak di bawah perut bumi.
Ia menganggap kondisi ini adalah tantangan bagi hadirnya teknologi baru yang bisa mengambil cadangan minyak itu.(skd)
Pewarta : Mentari Dwi Gayati
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Terpopuler - Ekonomi Keuangan
Lihat Juga
Pasokan beras di Palu masih lancar meskipun belum puncak panen padi
23 February 2020 18:36 WIB, 2020
SKK Migas bantu kapal ikan untuk nelayan Donggala, JOB-Tomori sumbang 3 kapal
21 February 2020 11:54 WIB, 2020
Citra Nuansa Elok investasikan Rp325 miliar bangun kembali Mall Tatura
21 February 2020 0:08 WIB, 2020
Presiden Jokowi ingin promosikan nikel Indonesia dalam Hanover Messe Jerman
17 February 2020 17:29 WIB, 2020