Kawasan Megalitik Lore Lindu disiapkan menjadi warisan dunia
Minggu, 24 September 2017 12:17 WIB
(FOTO: ISMAIL SALAHUDDIN)
Palu, (antarasulteng.com) - Kawasan cagar budaya Lore Lindu di Sulawesi yang memiliki kronologi budaya megalitik tertua di Indonesia sedang disiapkan untuk diajukan ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) menjadi warisan budaya dunia.
"Jika masyarakat siap lima tahun bisa menjadi warisan dunia," kata Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo Zakaria Kasimin di sela diskusi "Kawasan Megalitik Lore Lindu" di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu.
Pihaknya tahun depan, lanjut dia, berencana melakukan deliniasi (mencari batas-batas persebaran situs) yang diperkirakan tersebar antara Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat serta melakukan zonasi inti, penyangga, pengembangan, dan zonasi penunjang.
Situs megalitik yang dicirikan oleh adanya struktur yang tersusun dari batu-batu besar (megalit) ini diperkirakan cukup tua yang dari hasil penelitian diperkirakan berusia sekitar 2351-1416 Sebelum Masehi.
"Situs ini bisa jadi juga yang terbesar persebarannya di Asia Tenggara dibanding peninggalan di Laos. Tetapi ini masih perlu riset. Oleh karena itu penting untuk mengumpulkan para arkeolog, pemda dan pihak terkait lain untuk memberi pandangannya tentang Lore Lindu," katanya.
Persebaran situs ini, ia memperkirakan, lebih dari 200 ribu hektare, khususnya di kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso dan Sigi, berupa tong-tong batu (kalamba), arca, menhir, punden berundak, benteng, serta tempayan batu yang jumlahnya sampai 67 situs.
"Ada kemungkinan masyarakat pendukungnya merupakan penutur Austronesia, yang merupakan cikal-bakal orang Indonesia. Tapi mungkin juga pembawa kebudayaan tersebut sudah punah atau bercampur. Ini perlu penelitian lebih jauh," katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan kawasan megalitik Lore Lindu selain penting bagi sejarah Nusantara, juga signifikan bagi dunia karena merupakan peninggalan dengan persebaran yang luas termasuk di dalam hutan.
"Pemerintah Palu dan Sulteng sudah berkomitmen untuk melestarikannya. Tugas kami fasilitator karena peninggalan kebudayaan adanya tersebar di daerah. Kami membantu mengembangkan ekosistemnya," katanya.
Sejarah kebudayaan, menurut dia penting terus digali, karena akan membantu masyarakat untuk mengenal jati dirinya.
"Jika masyarakat siap lima tahun bisa menjadi warisan dunia," kata Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo Zakaria Kasimin di sela diskusi "Kawasan Megalitik Lore Lindu" di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu.
Pihaknya tahun depan, lanjut dia, berencana melakukan deliniasi (mencari batas-batas persebaran situs) yang diperkirakan tersebar antara Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat serta melakukan zonasi inti, penyangga, pengembangan, dan zonasi penunjang.
Situs megalitik yang dicirikan oleh adanya struktur yang tersusun dari batu-batu besar (megalit) ini diperkirakan cukup tua yang dari hasil penelitian diperkirakan berusia sekitar 2351-1416 Sebelum Masehi.
"Situs ini bisa jadi juga yang terbesar persebarannya di Asia Tenggara dibanding peninggalan di Laos. Tetapi ini masih perlu riset. Oleh karena itu penting untuk mengumpulkan para arkeolog, pemda dan pihak terkait lain untuk memberi pandangannya tentang Lore Lindu," katanya.
Persebaran situs ini, ia memperkirakan, lebih dari 200 ribu hektare, khususnya di kawasan Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Poso dan Sigi, berupa tong-tong batu (kalamba), arca, menhir, punden berundak, benteng, serta tempayan batu yang jumlahnya sampai 67 situs.
"Ada kemungkinan masyarakat pendukungnya merupakan penutur Austronesia, yang merupakan cikal-bakal orang Indonesia. Tapi mungkin juga pembawa kebudayaan tersebut sudah punah atau bercampur. Ini perlu penelitian lebih jauh," katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud Hilmar Farid mengatakan kawasan megalitik Lore Lindu selain penting bagi sejarah Nusantara, juga signifikan bagi dunia karena merupakan peninggalan dengan persebaran yang luas termasuk di dalam hutan.
"Pemerintah Palu dan Sulteng sudah berkomitmen untuk melestarikannya. Tugas kami fasilitator karena peninggalan kebudayaan adanya tersebar di daerah. Kami membantu mengembangkan ekosistemnya," katanya.
Sejarah kebudayaan, menurut dia penting terus digali, karena akan membantu masyarakat untuk mengenal jati dirinya.
Pewarta : Dewanti Lestari
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Warga temukan situs megalitikum di areal tambang ilegal Dongi-Dongi kawasan TNLL
05 March 2026 3:44 WIB
Terpopuler - Sulteng
Lihat Juga
200-an kontraktor proyek Pemprov Sulteng belum ikutkan karyawannya ke BPJamsostek
21 February 2020 11:49 WIB, 2020
Hanura rekomendasikan Hadianto-Reni berpasangan di Pilkada Kota Palu
21 February 2020 0:05 WIB, 2020