Nelayan Keluhkan Harga Rumput Laut
Jumat, 22 Maret 2013 14:45 WIB
Ketua Kelompok Nelayan Rumput Laut laemanta Made Sudana berbicara pada Temu Bisnis Komoditas Industrialisasi Perikanan di Hotel Santika, Palu, Jumat (22/3) (ANTARASulteng/Rolex Malaha)
Palu (antarasulteng.com) - Para nelayan pembudidaya rumput laut di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mengeluhkan harga rumput laut yang terlalu rendah yang diduga akibat permainan para tengkulak.
"Kami ini terlalu dipermainkan tengkulak, mohon bantuan pemerintah agar hasil panen kami mendapat harga yang layak," kata Made Sudana, ketua kelompok nelayan pembudidaya rumput laut dari Laemanta, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong, di Palu, Jumat.
Dalam Temu Bisnis Komoditas Industrialisasi Perkanan yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng di Hotel Santika, Palu, Made Sudana mengemukakan bahwa harga rumput laut kering jenis cottoni di daerahnya hanya Rp6.000,00/kilogram.
"Padahal kami mendapat informasi harga rumput laut jenis dan kualitas yang sama di Makassar saat ini mencapai Rp11.700,00/kilogram," ujar Sudana.
Menurut dia, dengan harga Rp6.000,00/kg tersebut, nelayan tidak bisa hidup karena tidak bisa menabung apa-apa dari hasil panenan.
"Harga yang ideal itu adalah Rp8.000,00 sampai Rp10.000, dengan begitu nelayan bisa menabung Rp2.000-an untuk setiap kilogram rumput laut yang dijual," ujar Sudana yang dibenarkan seorang nelayan rumput laut lainnya Suryadi.
Sudana dan Suryadi berharap pemerintah mengembangkan koperasi yang bisa menampung hasil panen nelayan agar harganya bisa memadai, apalagi dewasa ini harga rumput laut di pasar nasional cukup baik.
Sementara itu, Ketua Koperasi Teluk Tomini Laemanta Darwis Tandi pada kesempatan yang sama mengaku bahwa koperasinya belum bisa berperan maksimal karena kesulitan modal dan pemasaran.
Merurut dia, koperasi ini sebenarnya telah menerima bantuan peralatan industri rumput laut setengah jadi (chips) berkapasitas 120 ton/bulan dari Kementerian Perindustrian sejak 2011, namun hingga kini belum bisa berproduksi karena belum ada pasar untuk chips tersebut.
"Kalau pemerintah atau pengusaha yang hadir di sini bisa membantu kami mendapatkan mitra untuk membeli chips, maka kami aka segera berproduksi dan dengan produksi ini dijamin harga rumput laut di tingkat nelayan bisa stabil pada harga yang cukup tinggi," ujarnya.
Temu Bisnis komoditas Industrialisasi Perikanan tersebut dihadiri Asisten Deputy Menteri Percepatan Pembangunan Daerah tertinggal Andi Ilham dan Ketua Asosiasi Petani dan Pengusaha Rumput Laut Nasional Arman Arfa, sejumlah pengusaha di sektor perikanan dan angkutan, akademisi, pejabat perbankan dan pejabat Dinas KP provinsi dan kabupaten se-Sulteng. (R007)
"Kami ini terlalu dipermainkan tengkulak, mohon bantuan pemerintah agar hasil panen kami mendapat harga yang layak," kata Made Sudana, ketua kelompok nelayan pembudidaya rumput laut dari Laemanta, Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parigi Moutong, di Palu, Jumat.
Dalam Temu Bisnis Komoditas Industrialisasi Perkanan yang digelar Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng di Hotel Santika, Palu, Made Sudana mengemukakan bahwa harga rumput laut kering jenis cottoni di daerahnya hanya Rp6.000,00/kilogram.
"Padahal kami mendapat informasi harga rumput laut jenis dan kualitas yang sama di Makassar saat ini mencapai Rp11.700,00/kilogram," ujar Sudana.
Menurut dia, dengan harga Rp6.000,00/kg tersebut, nelayan tidak bisa hidup karena tidak bisa menabung apa-apa dari hasil panenan.
"Harga yang ideal itu adalah Rp8.000,00 sampai Rp10.000, dengan begitu nelayan bisa menabung Rp2.000-an untuk setiap kilogram rumput laut yang dijual," ujar Sudana yang dibenarkan seorang nelayan rumput laut lainnya Suryadi.
Sudana dan Suryadi berharap pemerintah mengembangkan koperasi yang bisa menampung hasil panen nelayan agar harganya bisa memadai, apalagi dewasa ini harga rumput laut di pasar nasional cukup baik.
Sementara itu, Ketua Koperasi Teluk Tomini Laemanta Darwis Tandi pada kesempatan yang sama mengaku bahwa koperasinya belum bisa berperan maksimal karena kesulitan modal dan pemasaran.
Merurut dia, koperasi ini sebenarnya telah menerima bantuan peralatan industri rumput laut setengah jadi (chips) berkapasitas 120 ton/bulan dari Kementerian Perindustrian sejak 2011, namun hingga kini belum bisa berproduksi karena belum ada pasar untuk chips tersebut.
"Kalau pemerintah atau pengusaha yang hadir di sini bisa membantu kami mendapatkan mitra untuk membeli chips, maka kami aka segera berproduksi dan dengan produksi ini dijamin harga rumput laut di tingkat nelayan bisa stabil pada harga yang cukup tinggi," ujarnya.
Temu Bisnis komoditas Industrialisasi Perikanan tersebut dihadiri Asisten Deputy Menteri Percepatan Pembangunan Daerah tertinggal Andi Ilham dan Ketua Asosiasi Petani dan Pengusaha Rumput Laut Nasional Arman Arfa, sejumlah pengusaha di sektor perikanan dan angkutan, akademisi, pejabat perbankan dan pejabat Dinas KP provinsi dan kabupaten se-Sulteng. (R007)
Pewarta :
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Area rumput Sirkuit Mandalika dipastikan sesuai standar internasional
02 October 2025 7:40 WIB, 2025
Kementerian Perindustrian pacu hilirisasi kakao dan rumput laut buka kesempatan kerja
27 September 2023 7:04 WIB, 2023
Buddha berbaring dan barisan gunung warna-warni di tengah Jalur Sutra
04 September 2023 6:30 WIB, 2023
Terpopuler - Ekonomi Keuangan
Lihat Juga
Pasokan beras di Palu masih lancar meskipun belum puncak panen padi
23 February 2020 18:36 WIB, 2020
SKK Migas bantu kapal ikan untuk nelayan Donggala, JOB-Tomori sumbang 3 kapal
21 February 2020 11:54 WIB, 2020
Citra Nuansa Elok investasikan Rp325 miliar bangun kembali Mall Tatura
21 February 2020 0:08 WIB, 2020
Presiden Jokowi ingin promosikan nikel Indonesia dalam Hanover Messe Jerman
17 February 2020 17:29 WIB, 2020