Palu (ANTARA) - Tidak seorangpun yang suka dengan bencana, dan tidak seorangpun bisa menghindar bila bencana itu datang. Karena itu semuanya harus bisa mempersiapkan diri, bisa adaptif dan bahkan bisa bersahabat dengan bencana, agar tetap menjadi bagian dari isi planet ini.

Ada tiga klasifikasi bencana berdasakan penyebabnya. Pertama bencana yang disebabkan oleh faktor alam, kedua bencana non-alam dan ketiga bencana yang disebabkan oleh faktor sosial.

Bencana yang disebabkan oleh faktor alam antara lain banjir, gempa, tsunami, liquefaksi dan lain-lain. Sedangkan bencana nonalam terkait dengan gagal teknologi seperti jembatan runtuh, bangunan ambruk karena tidak sesuai spesifikasi teknis, pengaruh modernisasi yang membuat banyak pengangguran seperti tergantikannya sejumlah transaksi manual oleh digital, wabah dan epidemi penyakit seperti novel corona virus ( 2019-nCov) yang mematikan di Huan China yang lagi marak saat ini, dan membuat sejumlah negara menjadi waspada dan ketar-ketir karena kemungkinan penyebarannya.

Selanjutnya bencana sosial adalah yang terkait dengan konflik sosial horisontal antarkelompok atau antarkomunitas, konflik vertikal sampai dengan kasus teror dan radikalisme.

Baca juga: Pilkada dan 'papoji depan dan belakang'

Jepang adalah negeri yang dominan dipengaruhi oleh bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami. Akibat tekanan bencana yang begitu dahsyat membuat masyarakat Jepang termotivasi untuk mengembangkan inovasi-teknologi bagaimana bisa hidup dan maju di wilayah yang sangat berpotensi gempa dan tsunami. Mereka berpikir tidak mungkin mereka harus meninggalkan wilayahnya. Dan pilihannya bagaimana bisa bersahabat dengan bencana.

Jepang mampu mengubah bencana menjadi berkah. Kini mereka menjadi negara dengan SDM yang tangguh, daya saing yang tinggi yang pada akhirnya menjadi negara maju dan berpendapatan tinggi.

Kejadian gempa bumi beramplitudo 9.0 pada Maret 2011 dan pasang tsunami sekitar 10 meter tercatat sebagai bencana alam terbesar di Jepang membuat sejumlah wilayah di bagian timur porak-poranda. Namun dengan ketangguhan SDM , dan inovasi teknologi yang dimiliki, mereka dapat membangun kembali dengan konsep kebih baik lagi, dengan semboyan 'back built better'. Bahkan pengalaman mereka beradaptasi dan menangani dampak bencana telah ditularkan ke sejumlah negara.

Baca juga: Banyak pendapat 'kurang pendapatan'

Indonesia, termasuk Sulawesi Tengah, merupakan wilayah yang memiliki tiga potensi bencana itu, baik disebabkan oleh alam, nonalam maupun sosial.

Kalau mengambil contoh dari Jepang tadi dengan satu gangguan bencana saja, mereka termotivasi luar biasa untuk mengembangkan SDM dan inovasi/teknologi. Pertanyaan kemudian bagaimana kalau mereka menghadapi tiga jenis bencana itu. Apakah mereka akan lebih baik lagi?.

Hasil diskusi dengan beberapa expert Jepang mengemukakan bahwa sesungguhnya manusia itu diberikan kelebihan berupa tekad dan potensi untuk bisa eksis dalam hidup dan mengelola wilayahnya. Semakin besar tekanan yang diterima, maka tekanan balik berupa motivasi dan semangat itu semakin besar lagi.

Analog dengan analisis itu, tentunya masyarakat Sulawesi Tengah umumnya dan khususnya wilayah Padagimo, Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong akan memiliki potensi motivasi yang lebih besar karena besarnya tekanan. Apakah demikian?

Baca juga: Semua tugas selesai kecuali tugas pokok

Hasil diskusi dengan ekspert tersebut, kami sepakat bahwa kepemimpinan di masing-masing wilayah menjadi 'key succes' atau faktor yang menentukan. Pemimpin adalah sumber energi yang paling kuat. Mao Che Tung, Lee Kuan You adalah dua contoh pemimpin yang berkarakter kuat untuk hal-hal itu. Karena itu pemimpin yang adaptif, inovatif dan update sangat-sangat dibutuhkan.

Provinsi Sulawesi Tengah pada 2020 akan melaksanakan Pilkada untuk melahirkan gubernur dan beberapa bupati/wali kota. Diharapkan yang terpilih adalah yang mampu mengubah bencana menjadi berkah, mengubah tantangan menjadi peluang yang berujung kepada kemajuan.

Apalagi Ibu Kota Negara akan dipindahkan ke Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah dapat berperan sebagai (1) Jembatan penghubung dengan kawasan timur Indonesia melalui tol 'Tambu-Kasimbar' (2) Sebagai penyangga pangan, tenaga kerja, baterai lithium, bahan precast/pracetak bahkan air bersih, (3) Menjadi destinasi wisata oleh warga ibu kota.

Keterpilihan pemimpin yang sesuai harapan yang mampu mengubah bencana menjadi berkah, tantangan menjadi peluang, berpulang kepada pemilik hak suara, partai pengusung dan penyelenggara pilkada. Diharapkan ketiganya tidak akan salah pilih. SEMOGA.

Baca juga: Melahirkan generasi yang bukan 'kaleng-kaleng'

Pewarta : Dr Ir H Hasanuddin Atjo, MP *)
Editor : Rolex Malaha
Copyright © ANTARA 2024