
Perajin Tenun Donggala Kian Menurun

Palu, (antarasulteng.com) - Perajin tenun Donggala di Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah, semakin menurun karena banyak pekerjaan lain yang dianggap lebih menjanjikan untuk mendapatkan keuntungan ekonomis.
"Beberapa tahun lalu penenun kita masih ada sekitar 382 orang. Tapi sekarang sudah berkurang. Ada penurunan sekitar 100 orang," kata Sekretaris Asosiasi Tenun Donggala Sulawesi Tengah Imam Basuki di Palu, Minggu.
Imam mengatakan dari 382 orang tersebut, sekitar 250 di antaranya penenun tradisional (gedogan) sementara yang lain penenun menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
"Yang berkurang sekarang penenun ATBM. Kita kesulitan menambah tenaga terampil," katanya.
Menurut Imam, penurunan tersebut terjadi di sentra-sentra tenun seperti di Kelurahan Watusampu, Kota Palu dan Tasiburi di Kabupaten Donggala.
"Di Watusampu itu saja, tinggal satu-satu saja penenun yang masih bertahan," katanya.
Imam mengatakan salah satu penyebab menurunnya jumlah penenun karena generasi tua yang dulunya sangat akrab dengan tenun, kini semakin berkurang sementara generasi baru lebih memilih mencari kerja lain sebagai pelayan toko atau rumah makan.
Selain itu selama ini para perajin hanya menjadi buruh oleh para pengusaha sehingga ekonomi mereka relatif tidak mengalami perubahan.
"Di Loli Tasiburi, misalnya, dari dulu hingga kini masih terus menjadi buruh. Tidak ada yang menjadi pengusaha di bidang tenun di sana," katanya.
Imam mengatakan sampai saat ini produksi tenun di Donggala belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan khususnya seragam pakaian pegawai negeri sehingga sebagian dipasok dari luar daerah.
"Selama ini banyak yang dipasok dari luar dan itu keuntungan besar bagi pengusaha dari biaya APBD," katanya.
Dia mengatakan kondisi ini mestinya tidak terjadi jika produksi dari dalam daerah dimaksimalkan.
Sebelumnya Ketua Asosiasi Tenun Donggala Sulawesi Tengah Suaib Djafar mengatakan Asosiasi Tenun akan menjadi lembaga penjamin bagi para pengrajin tenun di daerah setempat sehingga produksinya memiliki kepastian pasar secara kontinyu.
"Kita bangun kepercayaan dengan bank, nanti Asosiasi Tenun yang akan menjadi penjamin di bank sehingga perajin kita bisa mendapat akses yang lebih mudah ke bank," kata Suaib.
Menurut dia, melalui asosiasi penenun, para perajin tidak diberikan dana tunai melainkan bahan baku seperti benang, alat tenun bukan mesin, maupun bahan-bahan pewarna.
Dia mengatakan hal ini dilakukan untuk mendorong kontiunitas pengrajin dalam memproduksi barang sehingga terjamin ketersediaan barang setiap saat.
"Harapan kita mereka nanti bisa mandiri," katanya.
Pewarta : Adha Nadjemuddin
Editor:
Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2026
