
Pemberian tablet tambah darah remaja putri Parigi Moutong capai 89,64 persen

Parigi, Sulteng (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) menyatakan pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri di bulan September 2025, mencapai 89,64 persen atau sekitar 22.841 jiwa sebagai bagian dari intervensi percepatan penanganan stunting.
"Langkah ini merupakan intervensi spesifik guna mencegah stunting sejak dini, karena perempuan remaja akan menjadi calon ibu," kata Bupati Parigi Moutong Erwin Burase di Parigi, Selasa.
Ia menjelaskan penanganan stunting bukan hanya intervensi kepada anak yang mengalami gangguan gizi, tetapi diawali dari perempuan di usia remaja, karena mereka ke depan melahirkan.
Maka, calon ibu perlu disiapkan untuk memastikan kesehatan mereka dalam keadaan baik saat kondisi hamil, memasuki persalinan hingga menyusui anak.
"Remaja putri memasuki usia subur dan mengalami menstruasi setiap bulan berisiko tinggi anemia, karena kekurangan zat besi. Oleh karena itu, pemerintah mengadakan program pemberian tablet tambah darah kepada remaja putri," kata dia.
Ia mengemukakan seorang perempuan dalam kondisi hamil juga memiliki risiko terhadap anemia, maka intervensi sejak dini merupakan langkah tepat dalam menjaga kondisi fisik mereka, termasuk penguatan asupan gizi melalui pemberian makanan tambahan.
Menurut ilmu kesehatan, seorang remaja putri sering mengalami anemia, lalu menjadi ibu kekurangan gizi, kondisi itu dapat berdampak kepada bayi yang dilahirkan berisiko tinggi stunting.
"Pemberian tablet tambah darah setiap bulan kepada remaja putri, bagian dari upaya pemerintah meningkatkan cadangan zat besi yang terkuras saat selama masa menstruasi," ujarnya.
Ia memaparkan pemberian tablet tambah darah bagian dari kebijakan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), salah satunya yakni program sehat bersama diintegrasikan dengan percepatan penangan stunting.
Menurut data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan, angka stunting Parigi Moutong Tahun 2023 tercatat 28,5 persen, persentase itu lebih tinggi dari tahun 2022 di angka 27,4 persen, kemudian Tahun 2021 di angka 31,7 persen.
Lalu, menurut data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPBGM), prevalensi stunting Parigi Moutong di angka 9,8 persen, karena Kementerian Kesehatan (Kemenkes) belum merilis SSGI 2024.
"Persentase stunting penting untuk dijadikan bahan evaluasi dan perbaikan langkah-langkah intervensi lanjutan. Saya berharap jajaran Pemkab Parigi Moutong terus melakukan upaya percepatan menekan prevalensi dengan menjalin kolaborasi lintas sektor, sehingga pelayanan semakin optimal," ucap Erwin.
Pewarta : Mohamad Ridwan
Editor:
Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026
