Palu (ANTARA) - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Tengah mencatat sebanyak 27 kluster ketahanan pangan telah terbentuk di seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan se-Sulawesi Tengah untuk mengoptimalkan program pembinaan.
Kepala Kanwil Ditjenpas Sulteng Bagus Kurniawan di Palu, Kamis, mengatakan pembentukan kluster ketahanan pangan merupakan salah satu implementasi dari Asta Cita Presiden serta 13 Program Akselerasi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan yang menekankan pentingnya pemberdayaan ekonomi produktif bagi warga binaan.
“Program ini tidak hanya memberikan keterampilan dan pekerjaan bagi warga binaan, tetapi juga menjadikan mereka bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan daerah. Ini pembinaan yang berdampak dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menjelaskan kluster tersebut melibatkan 224 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) yang aktif mengelola lahan produktif seluas 263.363 meter persegi atau 26,26 hektare, meliputi sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Dari seluruh kluster yang terbentuk, kata dia, hasil panen mencapai 17,7 ton sayuran dan 1,2 ton komoditas pertanian seperti jagung dan kacang hijau. Selain itu, 5.000 bibit pohon kelapa telah ditanam di berbagai satuan kerja pemasyarakatan di wilayah tersebut.
Ia mengatakan sektor peternakan juga berkembang dengan populasi 162 ekor ternak yang terdiri atas ayam, bebek, kambing, dan sapi. Di bidang perikanan, 1.100 ekor ikan nila dan lele berhasil dibudidayakan di Lapas Parigi dan Rutan Poso.
“Program ini menjadi bagian dari upaya pembinaan kemandirian sekaligus kontribusi nyata pemasyarakatan terhadap ketahanan pangan nasional,” ujarnya.
Ia menyebutkan dari kegiatan produktif tersebut, total upah sebesar Rp68,19 juta telah diberikan kepada para WBP sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi dan kinerja mereka.
Lanjut dia, sebagian hasil panen turut dipasarkan kepada pegawai, pengunjung, dan masyarakat sekitar sebagai bagian dari upaya memperkuat peran pemasyarakatan dalam ekonomi lokal.
Menurut dia, capaian ini membuktikan bahwa pembinaan berbasis produktivitas mampu mengubah cara pandang terhadap warga binaan.
“Mereka belajar, bekerja, dan berkontribusi. Ketika bebas nanti, mereka siap kembali ke masyarakat sebagai individu yang mandiri dan produktif,” katanya.
Selain itu, ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung keberhasilan program ini, termasuk pemerintah daerah, Bank Indonesia, Balai Penerapan Modernisasi Pertanian, serta para pelaku usaha di Sulawesi Tengah.
“Dukungan lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program ini. Kami akan terus memperluas kerja sama agar pembinaan kemandirian dapat memberikan manfaat ekonomi dan sosial yang lebih luas,” ujarnya.
Ia menegaskan Kanwil Ditjenpas Sulawesi Tengah berkomitmen untuk terus memperkuat program pembinaan produktif yang tidak hanya berorientasi pada pemulihan moral, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi dan ketahanan sosial bagi warga binaan dan masyarakat luas.
