Palu (ANTARA) - Pagi itu, embun masih melekat di pucuk-pucuk dengen dan ebony yang tumbuh kembali di lahan bekas tambang. Di kejauhan, riak Danau Matano memantulkan cahaya matahari lembut, sementara suara anak-anak dari Dusun Matano terdengar riang menyambut air bersih yang kini mengalir langsung ke rumah mereka.
Pemandangan yang dulu mungkin dianggap mustahil itu kini menjadi kenyataan. Bukan hanya karena waktu, tetapi karena rangkaian upaya panjang yang dirajut oleh PT Vale Indonesia Tbk bersama masyarakat dan pemerintah.
Upaya yang tahun ini mengantarkan perusahaan itu meraih sejumlah penghargaan nasional maupun regional—mulai dari Penghargaan Subroto 2025, Gold Award Asia ESG Positive Impact Awards 2025 di Kuala Lumpur, hingga apresiasi publik atas program pemberdayaan di Kolaka.
Dusun Matano di tepian Danau Matano pernah dikenal sebagai wilayah yang terisolasi. Akses hanya tersedia lewat perahu rakit, jaringan internet tak tersentuh, dan sumber air bersih tak pernah benar-benar menjangkau rumah-rumah warga.
Namun kisah itu berubah ketika program “Matano Iniaku” digulirkan.
Melalui pendekatan yang bertumpu pada enam modal pembangunan—modal alam, sosial, individu, intelektual, infrastruktur, dan budaya—PT Vale menghadirkan serangkaian solusi nyata: pembangunan pipanisasi air bersih, ambulans speedboat, jaringan telekomunikasi, hingga pemberdayaan kelompok tani dan perempuan.
Kini, debit air Sungai Laa Waa meningkat, 200 hektare DAS direhabilitasi, emisi turun lebih dari 22 ribu ton CO₂eq, dan pendapatan kelompok rentan naik hingga Rp4 juta per bulan.
“Matano Iniaku adalah kisah tentang mendengarkan,” ujar Endra Kusuma, Direktur Hubungan Eksternal PT Vale. “Perubahan terjadi ketika perusahaan dan masyarakat berjalan bersama.”
Penghargaan Subroto 2025 yang diterima perusahaan untuk kategori Kinerja PPM pun menjadi penanda bahwa upaya tersebut bernilai secara sistemik.
“Sektor ESDM kini bukan lagi soal produksi, tapi nilai tambah dan kesejahteraan rakyat,” kata Menteri ESDM Bahlil Lahadalia
Langkah keberlanjutan PT Vale juga menembus panggung Asia. Program “Kehati Lutim Bersinergi” mengantarkan perusahaan meraih Gold Award dalam kategori Biodiversity Conservation pada Asia ESG Positive Impact Awards 2025 di Kuala Lumpur.
Program yang dimulai dari riset dasar pada 2017 itu memulihkan lahan pascatambang dengan spesies endemik Sulawesi seperti tembeuwa dan dengen, membangun pusat konservasi kupu-kupu Cethosia myrina, merehabilitasi 10 ribu hektare DAS, hingga memberdayakan ratusan warga lokal melalui persemaian endemik.
Inovasi metode rootballed—penanaman bibit bersama tanah aslinya—mempercepat pemulihan ekosistem hingga 3–4 tahun. Sementara program KOKKUBI menciptakan mikrohabitat kupu-kupu yang stabil.
“Penghargaan ini bukan sekadar hadiah, ini adalah panggilan untuk bertindak,” tegas Budiawansyah, Chief Sustainability & Corporate Affairs Officer PT Vale.
Di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, langkah PT Vale hadir lewat jalur yang berbeda: penguatan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal. Pada sosialisasi Nota Kesepahaman bersama Pemkab Kolaka, perusahaan dan pemerintah daerah sepakat memperluas peran masyarakat dalam proyek tambang Blok Pomalaa.
“MoU ini bukan sekadar dokumen, tetapi tekad bersama untuk menjadikan Kolaka lebih maju,” ujar Mohammad Rifai, Head of Pomalaa Project.
Bupati Kolaka Amri SSTP, M.Si, menegaskan hal senada. “Tenaga kerja lokal harus diberi kesempatan lebih luas. Jika belum terpenuhi, harus ada gelombang kedua untuk warga Kolaka,” katanya.
Pemerintah daerah juga menekankan kepastian perlindungan pekerja dan transparansi penggunaan tenaga asing.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi ekosistem industri tambang yang inklusif menuju Indonesia Emas 2045.
Sejak pertama kali menerima Penghargaan Subroto pada 2018, PT Vale tercatat konsisten menjaga standar keberlanjutan. Prestasi tahun 2019, 2022, 2024, dan 2025 menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan sekadar jargon, melainkan kultur yang menaut pada seluruh lini operasi perusahaan—dari pengelolaan tambang rendah karbon berbasis PLTA, rehabilitasi lahan, hingga penguatan struktur sosial-ekonomi masyarakat.
Di Sulawesi Selatan, hutan kembali tumbuh. Di Matano, air mengalir hingga ke dapur warga. Di Kolaka, masyarakat bersiap memasuki ekosistem ekonomi baru. Dan di panggung Asia, Indonesia mendapatkan tempat dalam peta pertambangan berkelanjutan.
Kisah-kisah itu mungkin berbeda konteks. Namun benang merahnya sama: keberlanjutan yang menghidupkan—alam, manusia, dan masa depan.
