Logo Header Antaranews Sulteng

Yayasan-Komiu temukanjalur transit burung migrasidiTeluk Palu

Kamis, 1 Januari 2026 10:25 WIB
Image Print
Burung gajahan penggala (Numenius phaeopus) yang terpantau di Muara Sungai Tawaili, Kota Palu. ANTARA/HO-Yayasan Komiu

Palu (ANTARA) -

Yayasan Kompas Peduli Hutan (Komiu) menemukan jalur transit burung migrasi di Teluk Palu, Sulawesi Tengah, sebagai zona larangan penambangan.

Direktur Yayasan Komiu Gifvents menjelaskan keberadaan burung migrasi dan burung pantai itu menjadi penegasan bahwa Teluk Palu tidak hanya berperan sebagai habitat lokal, tetapi juga sebagai habitat singgah, wilayah jelajah harian, serta koridor migrasi penting dalam jaringan pergerakan burung pada skala regional.

“Zona itu kami dapatkan di muara Sungai Taipa dan muara Sungai Tawaili di Teluk Palu sebagai jalur transit burung migrasi,” katanya di Palu, Rabu.

Jenis burung migrasi yang ditemukan di Teluk Palu yakni kuntul karang (Egretta sacra), kuntul kecil (Egretta garzetta), dara-laut kecil (Sternula albifrons), cerek pasir besar (Anarhynchus leschenaultii), cerek tilil (Anarhynchus alexandrinus), gajahan penggala (Numenius phaeopus), dan trinil ekor kerbau (Heteroscelus brevipes).

Dia menjelaskan kehadiran burung tersebut didukung oleh keterkaitan antarhabitat, di mana muara sungai, pantai berlumpur, pantai berpasir, serta lahan basah saling melengkapi dan membentuk satu kesatuan ekosistem utuh dalam menyediakan pakan, tempat beristirahat, serta ruang aman bagi burung–burung tersebut.

Oleh karena itu, kata dia, kerusakan atau degradasi pada salah satu tipe habitat khususnya di muara sungai berpotensi menimbulkan dampak langsung terhadap keberlangsungan rantai migrasi burung air dan burung pantai, sekaligus menurunkan fungsi ekologis Teluk Palu secara keseluruhan.

Dia menyebutkan, merujuk geoportal ESDM Desember 2025, sebaran izin pertambangan batuan di Teluk Palu mencapai 109 yang terbagi 56 berstatus operasi produksi, 2 eksplorasi, dan 51 wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) yang sifatnya pencadangan.

”Reklamasi pembangunan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS) atau Jetty pertambangan batuan pada mayoritas muara sungai di Teluk Palu tentu memberi pengaruh langsung pada hilangnya jalur transit burung migrasi,” katanya.

Ia menjelaskan, dari peta sebaran izin usaha pertambangan, saat ini hanya tersisa muara Sungai Taipa dan Sungai Tawaili belum beralih fungsi menjadi TUKS atau Jetty, sehingga penting untuk membebaskan muara tersebut dari aktivitas penambangan dengan menetapkannya menjadi no mining zone di Teluk Palu dengan mengintegraikannya ke dalam tata ruang Kota Palu maupun tata ruang Provinsi Sulawesi Tengah.

Menurut dia, Teluk Palu merupakan teluk relatif semitertutup dan mendapatkan pasokan air dari berbagai aliran sungai, sehingga di teluk ini membentuk zona peralihan muara pesisir kaya akan nutrien, lumpur/pasir, dan merupakan lokasi produktif.

”Secara ekologis, Teluk Palu menjadi penting karena menyediakan kebutuhan burung air dan burung pantai berupa perairan dangkal sebagai tempat untuk mencari makan, serta vegetasi mangrove dan semak pesisir, digunakan sebagai tempat untuk berlindung dan beristirahat,” katanya.

Ia mengatakan, fungsi tersebut membuat kawasan muara termasuk muara Taipa dapat berperan menjadi lokasi singgah yang dapat membantu burung migran untuk memulihkan energi sebelum melanjutkan perjalanan jauh.

Dalam tingkat kawasan, kata dia, Indonesia berada dalam lintasan jalur migrasi burung air Asia-Australia, dan jejaring lahan basah di sepanjang jalur ini diakui sebagai penopang konektivitas migrasi.




Pewarta :
Editor: Andilala
COPYRIGHT © ANTARA 2026