
BPS sebut Indeks Ketimpangan Gender alami perbaikan di level 0,402

Jakarta (ANTARA) -
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) pada 2025 tercatat sebesar 0,402.
Indeks tersebut mengalami perbaikan, tercermin dari penurunan sebesar 0,019 poin dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 0,421. Artinya, masih terdapat ketimpangan antara laki-laki dan perempuan, namun lebih baik dari tahun sebelumnya.
“Selama lima tahun terakhir, nilai IKG indonesia menunjukkan tren yang menurun. Penurunan ini mengindikasikan adanya perbaikan dalam ketimpangan secara agregat,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Sebagai informasi, IKG mengukur ketimpangan gender pada tiga dimensi: Kesehatan Reproduksi, Pemberdayaan, dan Pasar Tenaga Kerja. Nilai IKG yang semakin kecil menunjukkan ketimpangan antara laki-laki dan perempuan yang semakin rendah atau membaik.
Amalia merinci, beberapa indikator IKG menunjukkan perkembangan yang menggembirakan.
Di antaranya, indikator melahirkan tidak di fasilitas kesehatan mengecil dari 0,094 di tahun 2024 menjadi 0,077 di tahun 2025, persentase anggota legislatif laki-laki dan perempuan menyempit dari 57,82 persen di tahun 2020 menjadi 55,44 persen di tahun 2025.
Indikator lainnya, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan, yang bersumber dari Sakernas Agustus, naik dari 56,42 pada 2024 menjadi 56,63 pada 2025.
Meski demikian, lanjut Amalia, secara kewilayahan masih terdapat disparitas kesetaraan gender antarwilayah di Indonesia. IKG di 21 provinsi masih lebih tinggi dibanding angka nasional.
Provinsi yang berada di kawasan Indonesia bagian timur relatif memiliki nilai IKG yang lebih tinggi, menunjukkan ketimpangan gender yang membesar.
Papua Pegunungan menjadi provinsi dengan nilai IKG tertinggi sebesar 0,584, sementara DKI Jakarta menjadi provinsi dengan nilai IKG terendah sebesar 0,144.
Pewarta : Bayu Saputra
Editor:
Andriy Karantiti
COPYRIGHT © ANTARA 2026
